Strategi Pemberdayaan oleh Yayasan Kebaya dalam Mewujudkan Resiliensi Komunitas Penyintas HIV/AIDS
Azizah Diva Agustin, Dr. Krisdyatmiko, S.Sos., M.Si.
2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) merupakan kelompok yang masih menghadapi kerentanan multidimensi, mulai dari stigma dan diskriminasi sosial, keterbatasan akses layanan kesehatan dan bantuan sosial, hingga kerentanan ekonomi dan psikososial. Kerentanan tersebut semakin kompleks pada kelompok ODHIV dengan posisi sosial yang lebih rentan, seperti transpuan yang berhadapan dengan stigma berlapis akibat status kesehatan dan identitas gender. Meskipun pemerintah telah strategi dalam penanggulangan HIV/AIDS pada populasi kunci, implementasi kebijakan di tingkat lokal belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan nyata komunitas, terutama dalam aspek pendampingan berkelanjutan dan penguatan kapasitas sosial. Dalam konteks ini, Yayasan Kebaya Yogyakarta hadir sebagai organisasi berbasis komunitas yang berfokus pada isu HIV/AIDS dengan pendekatan pemberdayaan yang inklusif bagi seluruh ODHIV, baik transpuan maupun non-transpuan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemberdayaan yang dilakukan oleh Yayasan Kebaya dalam memperkuat keberdayaan komunitas ODHIV serta menelaah kontribusinya terhadap terbentuknya resiliensi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk memahami secara mendalam dinamika pemberdayaan komunitas dampingan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemberdayaan yang dijalankan oleh Yayasan Kebaya bersifat partisipatif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap kebutuhan komunitas ODHIV melalui program peningkatan kapasitas, advokasi, dukungan sebaya, serta penyediaan shelter. Strategi tersebut berhasil mentransformasi bentuk kekuasaan dan kekuatan yang semula menindas menjadi bentuk yang produktif dan kolaboratif, di mana pengetahuan, pengalaman, dan sumber daya dibagikan untuk memperkuat posisi komunitas. Proses ini menumbuhkan rasa percaya diri, harga diri, kemampuan adaptasi, dan solidaritas antaranggota, sekaligus mendorong keterlibatan aktif komunitas dalam advokasi, edukasi HIV/AIDS, dan pendampingan sesama penyintas. Pemberdayaan yang dilakukan tidak hanya berdampak pada perubahan psikologis individu, tetapi juga menghasilkan perubahan sosial dan struktural melalui meningkatnya penerimaan masyarakat, terbukanya akses terhadap layanan publik, serta terbentuknya ruang aman yang inklusif bagi ODHIV. Meskipun maresiliensi individu maupun sosial, menunjukkan bahwa proses pemberdayaan berbasis komunitas mampu menciptakan transformasi sosial yang berkelanjutan.
Kata Kunci : Pemberdayaan, resiliensi, HIV/AIDS, Yayasan Kebaya Yogyakarta