DAMPAK INFRASTRUKTUR JALAN TOL TERHADAP PERUBAHAN GUNA LAHAN DAN MOBILITAS MASYARAKAT (STUDI KASUS KAWASAN SEKITAR INTERCHANGE JALAN TOL SEGMEN PEKANBARU-BANGKINANG)
VEGGY ANUGRAH SASMITA, Dr. Yori Herwangi, S.T., MURP.
2025 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah
Pembangunan Jalan
Tol Segmen Pekanbaru–Bangkinang sebagai bagian dari Jaringan Jalan Tol
Trans-Sumatera membawa perubahan signifikan terhadap dinamika spasial dan pola
pergerakan masyarakat di wilayah sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis dampak pembangunan infrastruktur Jalan Tol Segmen
Pekanbaru-Bangkinang terhadap perubahan tata guna lahan serta perubahan pola
mobilitas masyarakat pada delapan desa di sekitar interchange tol
Kabupaten Kampar, dengan fokus pada dinamika mikro spasial dan sosial-ekonomi.
Pendekatan
penelitian menggunakan metode mix-method dengan menggabungkan analisis spasial
perubahan guna lahan dan analisis statistik deskriptif serta deskriptif
kualitatif untuk mengidentifikasi perubahan mobilitas masyarakat. Analisis
spasial dilakukan menggunakan software GIS dengan Land Change Modeler
untuk membandingkan perubahan guna lahan tahun 2019 dan 2024. Analisis
mobilitas didasarkan pada data primer melalui penyebaran kuesioner dan
wawancara (tidak terstruktur) kepada rumah tangga sebanyak 375 di wilayah
terdampak.
Hasil analisis
guna lahan menunjukkan adanya konversi masif dari lahan non-terbangun, seperti
lahan pertanian, menjadi kawasan terbangun (permukiman). Perubahan ini
menciptakan simpangan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten
Kampar. Dari sisi mobilitas, jalan tol telah meningkatkan efisiensi waktu
tempuh ke pusat kegiatan. Namun, manfaat aksesibilitas bersifat selektif.
Kelompok masyarakat berpendapatan rendah-menengah, yang dominan menggunakan
sepeda motor, cenderung kurang memanfaatkan jalan tol dan tetap bergantung pada
jaringan jalan lokal, sehingga terjadi dualisme aksesibilitas. Temuan ini
menegaskan bahwa keberadaan jalan tol berperan sebagai katalis transformasi
spasial sekaligus pembentuk pola mobilitas baru, namun perlu diimbangi dengan
kebijakan tata ruang dan pembangunan jaringan jalan lokal yang lebih inklusif
guna mencegah ketimpangan aksesibilitas.
Kata Kunci: Perubahan Guna Lahan, Mobilitas Masyarakat, Jalan
Tol, Interchange, Pekanbaru-Bangkinang.
The
construction of the Pekanbaru–Bangkinang Toll Road Segment, as part of the
Trans-Sumatra Toll Road Network, has brought significant changes to the spatial
dynamics and mobility patterns of communities in the surrounding areas. This
study aims to analyze the impacts of the Pekanbaru–Bangkinang Toll Road
infrastructure on land-use change and shifts in community mobility patterns
across eight villages located around the toll interchange in Kampar Regency,
with a particular focus on micro-spatial and socio-economic dynamics.
A mixed-methods
approach was employed by integrating spatial analysis of land-use change with
descriptive statistical and qualitative analyses to examine changes in
community mobility. Spatial analysis was conducted using GIS software with the
Land Change Modeler to compare land-use conditions between 2019 and 2024.
Mobility analysis was based on primary data obtained from questionnaires and
unstructured interviews with 375 households in the affected area.
The land-use analysis reveals substantial conversion of non-built-up
areas—particularly agricultural land—into built-up zones, including residential
areas. These changes indicate deviations from the Spatial Plan (RTRW) of Kampar
Regency. From the mobility perspective, the toll road has improved travel-time
efficiency to major activity centers. However, the benefits of increased
accessibility are selective. Low- to middle-income groups, who predominantly
rely on motorcycles, tend to make limited use of the toll road and remain
dependent on the local road network, resulting in a dualism of accessibility. These findings demonstrate that the toll road
functions as a catalyst for spatial transformation and the emergence of new
mobility patterns. Nonetheless, such developments must be balanced with
inclusive spatial planning policies and improvements to local road
infrastructure to prevent widening accessibility disparities.
Keywords: Land-Use
Change, Community Mobility, Toll Road, Interchange, Pekanbaru–Bangkinang.
Kata Kunci : Perubahan Guna Lahan, Mobilitas Masyarakat, Jalan Tol, Interchange, Pekanbaru-Bangkinang