Laporkan Masalah

Mengapa SINOMAN TIBAN Belum Optimal? Analisis Kesuksesan Knowledge Management System dan Dinamika Knowledge Sharing di Pemerintah Kabupaten Bantul

Deputri Novta Ariska, Dr. Media Wahyudi Askar

2025 | Tesis | S2 Administrasi Publik

Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan Sinoman Tiban sebagai Knowledge Management System (KMS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bantul. Meskipun Sinoman Tiban telah diimplementasikan sejak tahun 2023 sebagai bagian dari Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), tingkat pemanfaatan dan kontribusi konten pengetahuannya masih rendah. Hanya ada 95 kontributor dan hanya ada 63 konten pengetahuan. Masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah ASN Pemerintah Kabupaten Bantul yang berjumlah 8.220 pegawai. Penelitian ini mengadaptasi DeLone and McLean IS Success Model dan Knowledge Management System Success untuk mengidentifikasi faktor apa yang mempengaruhi penggunaan KMS (KMS Use). Aspek kepemimpinan (leadership) dan budaya berbagi pengetahuan (knowledge sharing culture) terhadap KMS Use turut dianalisis. Untuk melengkapi temuan kuantitatif, penelitian ini juga mengidentifikasi apa saja motivasi dan hambatan ASN Pemkab Bantul untuk berbagi pengetahuan dengan konsep knowledge sharing motivation dan knowledge sharing barrier.  Kuesioner disebarkan ke ASN Pemkab Bantul. Sebanyak 207 kuesioner dianalisis menggunakan alat analisis SmartPLS. 

Nilai R² (R square) model penelitian ini sebesar 0,730. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas konten pengetahuan, kepuasan pengguna dan persepsi kegunaan, kualitas sistem berperan signifikan dalam penggunaan KMS. Sementara faktor kepemimpinan tidak berpengaruh terhadap penggunaan KMS, namun berpengaruh positif dan sangat signifikan terhadap kualitas konten pengetahuan dan budaya berbagi pengetahuan.

Adapun untuk temuan deskriptif dari pertanyaan terbuka menunjukkan bahwa motivasi berbagi pengetahuan ASN Pemkab Bantul didominasi oleh motivasi intrinsik normatif. Sementara hambatan berbagi pengetahuan sebagian besar berasal dari individu dan organisasi. Optimalisasi Sinoman Tiban dapat dilakukan dengan mendorong penangkapan (capturing) dan dokumentasi pengetahuan implisit (tacit knowledge) menjadi pengetahuan eksplisit yang berkualitas, relevan dan bermanfaat, sehingga dapat meningkatkan kualitas konten pengetahuan dan persepsi kegunaan. Menumbuhkan motivasi untuk berbagi pengetahuan, baik motivasi intrinsik maupun ekstrinsik, serta meminimalisir hambatan berbagi pengetahuan juga penting untuk keberlanjutan penggunaan Sinoman Tiban.

This study investigates the factors affecting the use of Sinoman Tiban as a Knowledge Management System (KMS) within the Government of Bantul Regency, Indonesia. Although Sinoman Tiban has been implemented since 2023 as part of Indonesia’s Electronic-Based Government System (SPBE), its level of utilization and knowledge contribution remains low. To date, the system has only 95 contributors and 63 knowledge contents, a very limited number compared to the total of 8,220 civil servants employed by the Government of Bantul Regency.

This study adopts the DeLone and McLean IS Success Model and the Knowledge Management System Success framework to identify the determinants of KMS use. In addition, leadership and knowledge-sharing culture are examined as organizational factors influencing KMS use. To complement the quantitative findings, this study also explores civil servants’ motivations and barriers to knowledge sharing using the concepts of knowledge-sharing motivation and knowledge-sharing barriers. Data were collected through a questionnaire distributed to civil servants of the Government of Bantul Regency, with 207 valid responses analyzed using SmartPLS.

The results show that the proposed model explains 73.0% of the variance in KMS use (R² = 0.730). Knowledge content quality, user satisfaction, perceived usefulness, and system quality have a significant positive effect on KMS use. Leadership does not have a direct effect on KMS use; however, it has a strong and significant positive influence on knowledge content quality and knowledge-sharing culture. Descriptive findings from open-ended responses indicate that civil servants’ knowledge-sharing motivation is predominantly driven by normative intrinsic motivation, while knowledge-sharing barriers mainly originate from individual and organizational factors. Optimizing Sinoman Tiban requires strengthening the capturing and documentation of tacit knowledge into high-quality, relevant, and useful explicit knowledge to enhance knowledge content quality and perceived usefulness. Furthermore, fostering both intrinsic and extrinsic motivations for knowledge sharing, while minimizing knowledge-sharing barriers, is essential to ensure the sustainability of Sinoman Tiban usage.

Kata Kunci : Knowledge Management System, KMS Use, budaya berbagi pengetahuan, knowledge sharing motivation, knowledge sharing barrier

  1. S2-2025-526653-abstract.pdf  
  2. S2-2025-526653-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-526653-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-526653-title.pdf