Relasi Kekuasaan dan Pendisiplinan Tubuh Perempuan dalam Fenomena Sing Beling Sing Nganten di Bali: Sebuah Analisis Foucauldian
Krisna Sukma Yogiswari, Dr. Septiana Dwiputri Maharani; Dr. Hastanti Widy Nugroho
2025 | Disertasi | S3 Ilmu Filsafat
Tubuh perempuan dalam berbagai budaya di Indonesia sering dikaitkan dengan simbol kesuburan, sehingga tidak hanya dipahami sebagai entitas biologis, tetapi juga menjadi arena beroperasinya kekuasaan secara halus dan sistematis. Fenomena sing beling sing nganten, yang berkembang dalam masyarakat Bali beberapa dekade terakhir, menjadi contoh konkret dari praktik sosial yang seolah-olah menekankan kehamilan sebagai prasayarat perkawinan. Praktik ini merepresentasikan mekanisme kekuasaan yang menempatkan tubuh perempuan sebagai objek pendisiplinan melalui internalisasi norma budaya dan pengendalian sosial. Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama, yakni (1) menjelaskan pergeseran wacana perkawinan menuju terbentuknya wacana baru “sing beling sing nganten” yang memusatkan legitimasi sosial pada fungsi reproduksi perempuan, (2) menganalisisnya sebagai mekanisme kuasa yang mendisiplinkan tubuh perempuan melalui perspektif Michel Foucault, serta (3) menemukan celah resistensi yang muncul pada perempuan dalam sing beling sing nganten.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-analitis, dengan metode hermeneutika. Penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data, pengelompokan data primer dan sekunder, sistematisasi data penelitian, dan analisis hasil. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan, observasi lapangan, serta wawancara mendalam dengan informan yang relevan. Analisis data menggunakan kerangka teori Michel Foucault, khususnya konsep disiplin tubuh, panoptisisme, biopolitik, dan relasi kuasa-pengetahuan. Unsur-unsur metodis filosofis umum penelitian filsafat yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya: interpretasi, induksi dan deduksi, koherensi intern, holistika, kesinambungan historis, heuristika, deskripsi, serta bahasa inklusi.
Hasil temuan pertama penelitian ini adalah wacana sing beling sing nganten dikonstruksi oleh masyarakat Bali sebagai simbol sosial yang menegaskan norma kesuburan dan ekspektasi reproduksi perempuan. Kedua, berdasarkan perspektif Michel Foucault, wacana ini mendisiplinkan tubuh perempuan melalui mekanisme kekuasaan mikro yang menginternalisasi norma sosial dan menilai kapasitas reproduktifnya. Ketiga, sing beling sing nganten turut memperkuat patriarki dan norma kesuburan, menjadikan perempuan menyesuaikan diri dengan standar reproduksi yang diidealkan, sehingga wacana ini berfungsi sebagai instrumen sosial yang mereproduksi kontrol gender dan struktur komunitas adat Bali. Penelitian ini membuktikan teori Foucault, bahwa kekuasaan bekerja tidak selalu dalam bentuk yang memaksa, bahwa praktik ini menciptakan mekanisme kekuasaan yang halus, perempuan didisiplinkan bukan melalui paksaan langsung, melainkan melalui ekspektasi sosial yang ditanamkan sejak dini dalam keluarga dan lingkungan adat. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam memahami relasi kuasa yang bekerja dalam tradisi lokal dan dampaknya terhadap perempuan dalam masyarakat Bali kontemporer, khususnya pada fenomena sing beling sing nganten.
Across diverse Indonesian cultural contexts, the female body has long been associated with fertility, positioning it not merely as a biological entity but as a locus where power operates in subtle and systematic ways. The phenomenon of sing beling sing nganten, which has gained traction in Balinese society over recent decades, exemplifies a social practice that implicitly positions pregnancy as a prerequisite for marriage. This practice functions as a disciplinary mechanism that constructs and regulates women’s bodies through the internalization of cultural norms and social control. This study has three objectives: (1) to explain the shift in marital discourse toward the emergence of the new discourse of “sing beling sing nganten”, which centers social legitimacy on women’s reproductive function; (2) to analyze it as a mechanism of power that disciplines women’s bodies through Michel Foucault’s perspective; and (3) to identify the sites of resistance that emerge among women within the phenomenon of sing beling sing nganten.
Methodologically, the research adopts a qualitative approach with a descriptive–analytical design, employing a hermeneutic method. Data were gathered through literature review, field observation, and in-depth interviews with relevant informants; these were systematically organized and analyzed. The analytical framework draws on Foucault’s concepts of bodily discipline, panopticism, biopolitics, and power–knowledge relations. Philosophical methodological elements include interpretation, induction and deduction, internal coherence, holism, historical continuity, heuristics, descriptive analysis, and inclusive language.
The findings reveal that sing beling sing nganten is socially constructed in Balinese communities as a symbolic affirmation of fertility norms and expectations of women’s reproductive roles. From a Foucauldian perspective, it disciplines women’s bodies through micro-mechanisms of power that normalize and evaluate reproductive capacity. The discourse thereby reinforces patriarchal structures and idealized reproductive standards, operating as a social instrument that sustains gendered control within Balinese customary institutions. At the same time, the study shows that power often works non-coercively, through normalization and internalization, while still allowing for the possibility of strategic resistance. The research contributes to understanding how localized traditions mediate power relations and shape women’s lives in contemporary Balinese society, specifically through the sing beling sing nganten phenomenon.
Kata Kunci : Bali, sing beling sing nganten, tubuh perempuan, kekuasaan