Strategi Naratif dalam Kumpulan Puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo Karya Triyanto Triwikromo
Polanco Surya Achri, Dr.phil. Ramayda Akmal, S.S., M.A.
2025 | Tesis | S2 Sastra
Penelitian ini bertujuan menelusuri strategi naratif yang dipakai dalam kumpulan puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo karya Triyanto Triwikromo, dan bagaimana strategi naratif tersebut bekerja serta berefek kepada teks puisi dan teks sejarah yang jadi referensi. Melalui pendekatan naratologi, ditemukan ada dua stratefi naratif yang dipakai dalam kumpulan puisi, monolog dramatik dan narasi-narasi puitik. Dengan monolog dramatis, penyair mengokohkan identitas aku-lirik sebagai tokoh dengan memperkuat tiga dimensi ketokohan pada landasan sejarah. Dari sana, dramatisasi menjadi mungkin; dan menjadi jembatan bagi lirik ke naratif. Sebagai konsekuensi pemilihan situasi liminal, berupa proses hukuman mati, dan cerita aktual di sini-kini, narasi puitik pun dipakai. Pemakaian strategi-strategi yang demikian pun memunculkan anggapan-imaji aku-lirik adalah kartosoewirjo, dan yang disampaikan adalah nyata; sehingga tercapai strukturalisasi yang membawa konkritisasi pada tokoh dan tema. Penceritaan yang berpijak di sini dan kini, pada situasi liminal hukuman mati, dengan memakai hipogram, berupa cerita nabi dan wayang purwa, telah membuat puisi berlimpah alusi-alegori, metafora-metonimi. Demikianlah, ketika diimbangi dengan sejarah Kartosoewirjo, telah muncul suatu tafsiran lain. Kebocoran biografi dari browser yang kemudian tumpang-tindih dan berfusi dengan biografi Kartosoewirjo juga memberi pembacaan yang lain atas gambaran sejarah tersebut; Meski begitu, bila diimbangi dengan kaidah realisme, maka penyair telah gagal menghadirkan sosok Kartosoewirjo yang mutlak bersejarah. Pemberian suara yang telah diusahakan pun seringkali direbut kembali oleh penyair, sehingga aku-lirik, yaitu Kartosoewirjo, tak genap berbicara sendiri. Upaya memberi tafsiran lain pada sejarah dapat dikata berhasil; tetapi upaya memberikan suara kepada tokoh, yang suaranya terebut sejarah resmi negara, masih menjadi kelemahan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi naratif yang digunakan dalam kumpulan puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo karya Triyanto Triwikromo, dan bagaimana strategi naratif tersebut bekerja dan mempengaruhi teks puisi dan teks sejarah yang digunakan sebagai referensi. Melalui pendekatan naratologis, ditemukan dua strategi naratif yang digunakan dalam kumpulan puisi tersebut: monolog drama dan narasi puitis. Dengan monolog dramatis, penyair memperkuat identitas diri liris sebagai karakter dengan memperkuat tiga dimensi karakter berdasarkan konteks sejarah. Dari situ, dramatisasi menjadi mungkin; dan menjadi jembatan dari lirik ke narasi. Sebagai konsekuensi dari pilihan situasi liminal, dalam bentuk proses hukuman mati, dan cerita aktual di sini dan sekarang, narasi puitis digunakan. Penggunaan strategi tersebut juga menimbulkan asumsi bahwa diri liris adalah Kartosoewirjo, dan apa yang disampaikan adalah nyata; sehingga mencapai strukturalisasi yang membawa konkretisasi pada karakter dan tema. Narasi yang terhapus pada masa kini, dalam situasi ambang hukuman mati, menggunakan hipogram, seperti kisah nabi dan wayang purwa, telah membuat puisi ini kaya akan kiasan, alegori, metafora, dan metonimi. Hal ini, jika dibandingkan dengan sejarah Kartosoewirjo, telah memunculkan interpretasi lain. Biografi sang penulis yang bocor, yang kemudian tumpang tindih dan menyatu dengan biografi Kartosoewirjo, juga memberikan pemahaman yang berbeda tentang tokoh sejarah ini; Meskipun demikian, jika mempertimbangkan berdasarkan prinsip-prinsip realisme, sang penyair gagal menampilkan Kartosoewirjo sebagai tokoh sejarah yang absolut. Suara yang ia coba sampaikan sering kali direbut kembali oleh sang penyair, sehingga diri liris, yaitu Kartosoewirjo, tidak sepenuhnya untuk berbicara sendiri. Upaya untuk memberikan interpretasi lain tentang sejarah ini dapat dikatakan berhasil; tetapi, upaya untuk memberikan suara kepada tokoh yang suaranya telah dirampas oleh sejarah negara resmi tetap merupakan kelemahan.
Kata Kunci : Kartosoewirjo, puisi, strategi naratif, monolog dramatik, narasi puitik