Landslide Mapping And Susceptibility Modelling Using Neural Networks And Transfer Learning With Remote Sensing And Gis Data
Andrew Mulabbi, Prof. Drs. Projo Danoedoro, M.Sc., Ph.D. ; Dr. Eng. Guruh Samodra, S.Si, M.Sc.
2025 | Disertasi | S3 Geografi
Longsor adalah peristiwa yang terjadi dengan cepat dengan dampak yang menghancurkan pada lingkungan biofisik, termasuk kehidupan manusia. Bahaya ini diproyeksikan akan meningkat di bawah fenomena perubahan iklim yang berlaku dan hasil terkaitnya, seperti peristiwa cuaca ekstrem. Inventarisasi dan penilaian yang akurat dan tepat waktu adalah prekursor penting untuk manajemen bencana tanah longsor, Penilaian bahaya dan manajemen risiko yang efektif di wilayah geografis yang kompleks. Namun, di wilayah tropis yang ditandai dengan pertumbuhan kembali vegetasi yang cepat, memperoleh data yang cepat dan akurat setelah kejadian longsor merupakan tantangan besar. Inventarisasi data longsor segera setelah kejadian diperlukan untuk menangkap perkembangan landscape, bahkan dalam skala yang sangat kecil. Tujuan dari penelitian ini meliputi: (1) merancang metode inventarisasi tanah longsor yang mengintegrasikan teknik berbasis perhatian dan interpretasi model menggunakan jaringan Neural Konvolusional (CNN) dan existing knowledge; (2) mengkarakterisasi daerah rawan tanah longsor menggunakan model Deep Neural network sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman tentang pola risiko spasial dan peran faktor prediktif utama; (3) mengevaluasi DNN dan algoritma Pembelajaran Transfer, generalisasinya, sensitivitas parameter, keandalan dan plausibilitasnya.
Penelitian ini menggunakan desain
eksperimental, menggunakan algoritma machine learning dan deep
learning. Pemetaan longsor dilakukan menggunakan jaringan Neural Konvolusional
berbasis perhatian (attention), dengan membandingkan 3 varian model.
Prediksi kerentanan longsor menggunakan model DNN dan transfer learning.
12 faktor pengkondisian longsor digunakan sebagai data masukan, termasuk
variabel geologi, topografi, dan vegetasi. Model dievaluasi secara kuantitatif
menggunakan Area Under Curve, Receiver Operating
Characteristics (ROC AUC), dan secara kualitatif menggunakan kriteria
plausibilitas geomorfik berdasarkan indeks medan dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
model berbasis attention, khususnya attention spasial,
meningkatkan akurasi deteksi longsor. Hal ini juga menunjukkan bahwa batas
merupakan fitur objek dominan yang menjadi dasar model perhatian spasial dalam
menentukan objek longsor. Selain itu, source area dan target menunjukkan
pola kerentanan yang serupa, dan model yang digunakan dapat ditransfer lintas
domain, yang ditunjukkan oleh kinerja model transfer learning yang
lebih unggul dibandingkan dengan model dasar. Skor AUC adalah 84%, 97%, dan 83%
untuk model area sumber, model pembelajaran transfer, dan model dasar,
masing-masing. Faktor yang paling berpengaruh dan saling berinteraksi adalah
aspek, kemiringan, elevasi, dan jarak ke sungai dan jalan. Semua output model
memenuhi kriteria analisis plausibilitas geomorfik, dan wawancara memiliki
potensi sebagai prosedur evaluasi kualitatif. Namun, aktivitas manusia
cenderung memperburuk kerentanan tanah longsor di area tersebut. Dengan
menerapkan intervensi terarah berdasarkan hubungan ini, otoritas dapat membantu
mengurangi dampak bahaya longsor. Selain itu, model kerentanan longsor harus
memprioritaskan penyediaan pengetahuan penjelasan daripada sekadar akurasi
prediktif. Transfer learning harus digunakan dengan hati-hati
untuk mengatasi masalah terkait modifikasi skala yang mungkin terjadi.
Landslides are rapid events with
devastating impacts on the biophysical environment, including loss of lives and
property. These hazards are expected to increase due to current climate change
phenomena and their related outcomes, such as extreme weather events. Accurate
and timely landslide inventories and hazard assessments are vital for effective
disaster management, improving preparedness and practical hazard assessment in
areas with complex geography. However, in tropical regions characterised by
rapid vegetation regrowth, obtaining immediate and accurate datasets after
landslide events is a significant challenge. Prompt post-event inventorying is
crucial for capturing changes in the landscape. The aims of this study were:
(1) to develop a landslide inventory method that incorporates attention
mechanisms and model interpretation techniques using convolutional neural
networks and existing inventory knowledge; (2) to characterise landslide
susceptibility in a landslide-prone area with a deep neural network model to
better understand spatial risk patterns and the influence of key predictive
factors; and (3) to assess deep neural networks and transfer learning
algorithms regarding their generalisability, parameter sensitivity,
reliability, and plausibility.
This research employed an
experimental design incorporating machine learning and deep learning
algorithms. A comparative analysis of landslide mapping was conducted using
three attention-based convolutional neural network models and the standard
U-Net. The landslide susceptibility mapping used a deep neural network model
and transfer learning techniques. Input data included twelve landslide
conditioning factors, such as geological, topographical, vegetation, and
distance variables. Model performance was assessed using both quantitative and
qualitative methods. Quantitative evaluation involved the area under the curve
and the receiver operating characteristic (ROC) curve (AUC). At the same time,
qualitative assessment included geomorphic plausibility testing, conducted with
zonal statistics, and validation through field-based interviews.
The results demonstrate that
attention-based models, particularly the spatial attention model, significantly
improve the accuracy of landslide detection and mapping. They also suggest that
edges and boundaries are the main object features on which the spatial
attention model bases its identification of landslide and non-landslide
objects. Additionally, both the source and target areas display similar
susceptibility patterns, and the models are transferable across different
domains, as evidenced by the superior performance of the transfer learning
model compared to the baseline model. The AUC scores were 84%, 97%, and 83% for
the source area model, the transfer learning model, and the baseline model,
respectively. The most influential and interacting factors included aspect,
slope, elevation, and distance to streams and roads. The model’s outputs were
all found to be geomorphically plausible, and field interviews have the
potential to serve as a qualitative evaluation method for LSS models.
Furthermore, human activities are likely to increase landslide susceptibility
in the area. By implementing targeted interventions based on these
relationships, authorities can help reduce the impact of landslide hazards.
Additionally, landslide susceptibility models should prioritise providing
explanatory knowledge over merely predictive accuracy. Transfer learning must
be used cautiously to address issues related to scaling and modifiable areal
unit problems that may occur.
Kata Kunci : Tanah longsor, Kerentanan tanah longsor, Attention U-net, Plausibilitas geomorfik, Jaringan Syaraf Dalam,Landslide mapping, Landslide susceptibility, Attention U-nets, geomorphic plausibility, Deep Neural networks