Pengembangan Rekomendasi Makanan Berbasis Linear Programming Menggunakan Optifood bagi Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 di Kota Malang: Upaya Pengendalian Kontrol Glikemik
Kanthi Permaningtyas Tritisari, Prof. Dr. dr. Usi Sukorini, M.Kes, Sp. PK., Subsp. H.K (K) Subsp. B.D.K.T (K) ; Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., Dietisien, MPH
2025 | Disertasi | S3 Kedokteran Umum
Latar Belakang: Mayoritas penyandang diabetes mellitus (DM) di Kota Malang memiliki kontrol glikemik buruk. Cara paling efektif untuk memperbaiki kontrol glikemik adalah kepatuhan diet dan latihan fisik. Penerimaan diabetisi terhadap makanan yang direkomendasikan secara signifikan memengaruhi tingkat kepatuhan. Rekomendasi harus mempertimbangkan pilihan makanan, ketersediaan, dan keterjangkauan makanan.
Tujuan: Mengembangkan rekomendasi menu makanan/Food-Based Recommendation (FBR) berbasis Linear Programming menggunakan Optifood untuk mengendalikan kontrol glikemik penyandang DM tipe 2 di Kota Malang.
Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain pre-post quasy eksperimental. Sebanyak 69 partisipan dengan DM tipe 2 (usia 50 – 64 tahun) dibagi secara acak ke dalam: kelompok FBR (n = 24), FBR dikombinasikan dengan latihan fisik (FBR+LF) (n = 24), dan kontrol (n = 21). Pengembangan FBR menggunakan Linear Programming dengan software Optifood WHO, berdasarkan data pola makan (174 responden), ketersediaan pangan lokal, problem nutrient dan kebutuhan gizi. Intervensi berlangsung selama 1 bulan. Penilaian pre dan post intervensi meliputi: kepatuhan diet, kepatuhan aktivitas fisik, dan parameter kontrol glikemik (glukosa darah puasa, GD2JPP, dan Glycated albumin (GA)). Analisis statistik menggunakan one way ANOVA dan uji Kruskal–Wallis.
Hasil: Protein ditemukan sebagai problem nutrient pada responden laki-laki, sedangan kalsium dan vitamin B6 pada responden perempuan. Pemenuhan protein, serat, vitamin A, C, E, B12, zat besi, dan omega-3 dapat dioptimalkan >65% AKG menggunakan rekomendasi pangan lokal seperti tempe, nasi jagung, daun kelor, tongkol, pisang kepok, dan kacang koro, namun kalsium, vitamin B6, dan seng ditemukan tidak memenuhi 65% RNI. Kelompok FBR dan FBR+LF menunjukkan peningkatan kepatuhan asupan makanan. Kelompok FBR+LF menunjukkan perbaikan signifikan pada semua parameter kontrol glikemik setelah periode intervensi.
Kesimpulan: Pangan lokal berhasil dimasukkan ke dalam rekomendasi diet dan memenuhi kecukupan delapan jenis zat gizi namun gagal memenuhi vitamin B-6, kalsium, dan seng. Mengintegrasikan rekomendasi makanan lokal dengan aktivitas fisik berhasil meningkatkan kontrol glikemik pada DM.
Kata Kunci : Food-based recommendation, diabetes melitus tipe 2, Linear Programming, latihan fisik, kontrol glikemik