Eksplorasi Bentuk dan Faktor Adopsi Inovasi Hijau dalam Usaha Mikro Kecil dan Menengah Fesyen Indonesia
Wildan Wardana, Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom., Cand.Merc., Ph.D.,
2025 | Tesis | S2 Manajemen
Adopsi inovasi
hijau dipahami sebagai strategi penting dalam menjawab tantangan lingkungan
yang ditimbulkan oleh industri fesyen, seperti limbah produksi dan konsumsi
energi berlebih. Data menunjukkan bahwa industri fesyen secara global
menyumbang sekitar 20% limbah air dan 10% emisi karbon dunia, sementara di
Indonesia, UMKM fesyen menyumbang sekitar 60?ri total volume produksi fesyen
nasional, menjadikannya kontributor signifikan terhadap tantangan lingkungan
tersebut. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk
adopsi hijau dan mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan adopsi
inovasi hijau oleh UMKM sektor fesyen hijau di Indonesia. Sebab, meskipun tren fesyen hijau semakin
berkembang, terdapat kesenjangan pemahaman terhadap faktor-faktor yang
memengaruhi adopsinya, terutama pada UMKM dengan karakteristik sumber daya
terbatas, nilai sosial yang unik, serta keterikatan dengan norma lokal.
Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap 11 UMKM
fesyen hijau melalui para pemilik UMKM yang telah menerapkan praktik
keberlanjutan. Para informan UMKM tersebut berasal dari berbagai daerah di
Indonesia, seperti Yogyakarta, Bandung, Tasikmalaya, Ciamis, Tangerang, dan
Jakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada Mei-Juni 2025, dengan rentang usia
pemilik UMKM fesyen berkisar antara 24 hingga 31 tahun. Rentang usia tersebut
mencerminkan tingkat literasi digital yang cukup tinggi dan tingkat relevansi
dalam konteks adopsi inovasi berbasis teknologi maupun keberlanjutan yang cukup
besar. Data dianalisis menggunakan proses kodifikasi tematik dan pengembangan
kategori berbasis kerangka teori institusional serta teori determinasi diri,
dengan keterbukaan terhadap temuan-temuan baru di luar kerangka teori awal.
Temuan menunjukkan
bahwa adopsi inovasi hijau pada UMKM fesyen umumnya masih berada pada tahap
awal, ditandai dengan substitusi bahan baku, pemanfaatan limbah tekstil, dan
perbaikan kemasan. Keputusan untuk mengadopsi inovasi hijau dipengaruhi oleh
tiga kelompok faktor utama, yaitu faktor eksternal, faktor internal, dan faktor
kontekstual. Faktor eksternal mencakup tekanan koersif (regulasi dan
kebijakan), mimetik (pengaruh dari pelaku usaha lain yang sukses), dan normatif
(nilai sosial dan ekspektasi profesional). Faktor internal mencakup otonomi,
kompetensi, dan keterhubungan sosial yang mendorong UMKM secara sukarela dan
percaya diri mengadopsi praktik hijau. Faktor kontekstual seperti
spiritualitas, kebermaknaan, ketangguhan, dan identifikasi aspiratif turut memperkuat
motivasi dan komitmen, terutama saat tekanan eksternal atau keyakinan internal
melemah. Penelitian ini memperluas pemahaman tentang adopsi inovasi hijau pada
UMKM dengan menyoroti peran dimensi spiritual dan personal selain faktor
struktural, serta menjadi dasar bagi kebijakan dan pendampingan yang lebih
kontekstual dan menyentuh aspek motivasional UMKM fesyen hijau di Indonesia.
The adoption of green innovation is recognized
as a crucial strategy in addressing the environmental challenges posed by the
fashion industry, such as production waste and excessive energy consumption.
Data shows that the global fashion industry contributes approximately 20% of
wastewater and 10% of global carbon emissions. In Indonesia, fashion-based
Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) account for around 60% of the
national fashion production volume, making them significant contributors to these
environmental challenges. Therefore, this study aims to identify the forms of
green adoption and explore the factors influencing green innovation adoption
decisions among green fashion MSMEs in Indonesia. Despite the growing trend of
green fashion, there remains a gap in understanding the factors that drive its
adoption, particularly among MSMEs characterized by limited resources, unique
social values, and attachment to local norms.
This study employs a qualitative approach
through in-depth interviews with 11 green fashion MSME owners who have
implemented sustainable practices. The informants are based in various regions
of Indonesia, including Yogyakarta, Bandung, Tasikmalaya, Ciamis, Tangerang,
and Jakarta. The study was conducted between May and June 2025, with the ages
of MSME owners ranging from 24 to 31 years. This age range reflects relatively
high levels of digital literacy and relevance in the context of
technology-based and sustainability-oriented innovation adoption. The data were
analyzed using thematic coding and category development based on the
institutional theory and self-determination theory, with openness to emergent
themes beyond the initial theoretical framework.
The findings indicate that green innovation
adoption among fashion MSMEs is generally still in its early stages, marked by
raw material substitution, utilization of textile waste, and packaging
improvements. Adoption decisions are influenced by three main groups of
factors: external, internal, and contextual. External factors include coercive
pressures (regulations and policies), mimetic pressures (influence from other
successful businesses), and normative pressures (social values and professional
expectations). Internal factors comprise autonomy, competence, and social
relatedness, which encourage MSMEs to voluntarily and confidently adopt green
practices. Contextual factors such as spirituality, meaningfulness, resilience,
and aspirational identification further reinforce motivation and commitment,
particularly when external pressures or internal beliefs weaken. This study
contributes to the understanding of green innovation adoption among MSMEs by
highlighting the role of spiritual and personal dimensions in addition to
structural factors, offering a basis for more contextualized policies and
support programs that address the motivational aspects of green fashion MSMEs
in Indonesia.
Kata Kunci : adopsi inovasi hijau, UMKM fesyen hijau, teori intitusional, teori determinasi diri, kualitatif