Kiprah Perempuan Kei dalam Pengelolaan Bonding Social Capital sebagai Mekanisme Penyelesaian Konflik Banda Ely-Yarler di Kota Tual
Dewi Murtasiah Tamzil, Dr. Subando Agus Margono, M.Si
2025 | Tesis | S2 Administrasi Publik
Fenomena keberhasilan aksi damai perempuan Kei dalam mengakhiri konflik Banda Ely-Yarler tahun 2023 di Kota Tual menunjukkan kapasitas perempuan sebagai aktor non-negara dalam penyelesaian konflik. Penelitian ini berangkat dari dugaan bahwa keberhasilan tersebut bersumber dari kekuatan bonding social capital perempuan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan beberapa perwakilan perempuan Kei dan tokoh adat. Dokumentasi dari artikel berita dan unggahan media sosial digunakan untuk memperkuat validitas temuan.
Hasil penelitian menunjukkan keberhasilan aksi damai perempuan Kei ditopang oleh empat unsur utama bonding social capital yaitu kepercayaan, nilai dan norma bersama, jaringan sosial serta partisipasi dalam aksi, yang berakar kuat pada prinsip-prinsip adat dan budaya masyarakat Kei. Temuan penelitian menantang narasi umum yang kerap memandang bonding social capital sebagai modal sosial yang eksklusif dan berpotensi menimbulkan segregasi antarkelompok. Dalam konteks perempuan Kei, bonding social capital justru menjadi mekanisme efektif untuk menyelesaikan konflik antarkelompok etnis berbeda, sekaligus menjadi kunci terbentuknya bridging hingga linking social capital. Penelitian ini juga menemukan bahwa bonding dapat dikelola dari sekadar potensi pasif menjadi sumber daya aktif untuk penyelesaian konflik ketika terdapat agensi perempuan. Secara umum, penelitian ini menegaskan tipologi modal sosial tidak dapat dipahami secara absolut atau mutlak, melainkan perlu dikontekstualisasikan dengan karakter dan budaya lokal masyarakat.
The successful peace intervention led by Kei women in resolving the 2023 Banda Ely-Yarler conflict demonstrates their capacity to act as non-state actors in local conflict resolution. This study departs from the proposition that their collective success was rooted in the strength of their bonding social capital. Employing a qualitative case study design, the research draws upon in-depth interviews with women representatives and customary leaders, complemented by documentation from news reports and social media posts related to the conflict.
The findings reveal that the women’s peace action was sustained by four interrelated elements of bonding social capital: trust, shared values and norms, social networks, and participation, which are deeply embedded in Kei customary principles. These results challenge dominant narratives in the social capital literature that cast bonding social capital as inherently inward-looking or exclusionary. In the case of Kei women, bonding social capital instead facilitated constructive engagement across ethnically distinct groups and opened pathways toward the emergence of bridging and linking social capital. The study further shows that bonding social capital became operative through women’s agency, which enabled the consolidation of collective action during the height of the conflict. Overall, the study underscores the importance of situating social capital typologies within their socio-cultural contexts. Rather than functioning as fixed or universal categories, the dynamics of bonding, bridging and linking social capital are shown to be contingent upon local norms, cultural logics and the actors who animate them.
Kata Kunci : Perempuan Kei, Bonding Social Capital, Modal Sosial, Penyelesaian Konflik