Profil dan Strategi Dukungan Psikososial pada Relawan Daerah Rawan Bermacam Tipe Bencana di Yogyakarta
Nevi Kurnia Arianti, Prof. Drs. Koentjoro, MBSc, Ph.D., Psikolog;Prof. Dr. Mohammad Baiquni, M.A.
2025 | Disertasi | S3 Psikologi
Dukungan psikososial merupakan elemen penting dalam manajemen bencana, dan keberadaan relawan berbasis komunitas menjadi kunci keberhasilan penanggulangan di wilayah rawan bencana. Namun ketidaktepatan pemahaman terhadap dukungan psikososial berbasis komunitas—termasuk pengabaian nilai, praktik, dan struktur sosial lokal—dapat menimbulkan beban tambahan berupa konflik horizontal maupun vertikal, pelemahan kearifan lokal, serta efek iatrogenik. Relawan dan ruang pemberdayaan komunitas dalam dukungan psikososial masih kurang mendapatkan prioritas, sementara cukup banyak intervensi cenderung menggunakan pendekatan yang secara epistemologis hanya menjadi operasionalisasi dari pemikiran arus utama dalam disiplin psikososial yang mengadopsi model-model dari luar konteks lokal. Keberhasilan layanan psikososial sering diukur dari sejauh mana praktik mengikuti asumsi-asumsi teori psikososial yang tidak selalu kontekstual. Kajian ini mengedepankan orientasi dekolonisasi yang menekankan pentingnya pendekatan terhadap inisiatif berbasis komunitas dengan unconquered minds—suatu sikap yang menempatkan pengetahuan lokal sebagai fondasi pemulihan yang otonom dan sah.
Penelitian ini bertujuan memetakan karakter dukungan psikososial berbasis komunitas pada relawan di tiga wilayah rawan bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta—yang menghadapi bencana berkembang lambat (slow-onset) seperti longsor dan erupsi, serta bencana datang tiba-tiba (rapid-onset) seperti gempa dan tsunami—serta merumuskan strategi penguatan berbasis budaya dan kelembagaan lokal. Pendekatan yang digunakan adalah exploratory action research yang meliputi tahap eksplorasi praktik lokal dan tahap intervensi penguatan kapasitas relawan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan psikososial berbasis komunitas sangat dipengaruhi oleh karakter ancaman, struktur sosial, dan budaya setempat. Pada konteks slow-onset, dukungan lebih terstruktur, rutin, dan bersandar pada jejaring keluarga–komunitas; sedangkan pada konteks rapid-onset, dukungan lebih bersifat spontan, spiritual, serta diwujudkan dalam ritual komunal. Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan psikososial berbasis komunitas bertumpu pada seperangkat sumber daya ketahanan mencakup: (1) sumber daya budaya—nilai, ritus, dan makna kolektif; (2) sumber daya komunitas—gotong royong dan relasi sosial; (3) sumber daya kepemimpinan—otoritas moral dan pengalaman tokoh lokal; serta (4) sumber daya ekologi–spiritual—etika menjaga alam; selaras dengan teori Pelestarian Sumber Daya /COR oleh Hobfoll, yang menyatakan bahwa ketangguhan muncul ketika sumber daya sosial–budaya dapat dijaga dan diperkuat. Secara teoretis, penelitian ini memperluas pemahaman pedoman Komite Tetap Antarlembaga PBB bidang Kemanusiaan/IASC, dengan menunjukkan bahwa dukungan keluarga–komunitas sebagai fondasi utama, dapat berfungsi optimal bila dipahami melalui lensa kearifan lokal. Penelitian ini juga memperkuat perspektif decentering, yakni penggeseran pusat pengetahuan psikososial dari model universalistik ke praktik lokal yang relevan. Secara praktis, penelitian ini menghasilkan model penguatan relawan yang menempatkan budaya, komunitas, dan kelembagaan kalurahan sebagai inti intervensi, melalui penguatan kelembagaan relawan, pengakuan formal oleh pemerintah, pelibatan aktif dalam perencanaan desa, regenerasi relawan muda, dan pemanfaatan teknologi digital untuk keberlanjutan.
Psychosocial support is a critical element of disaster management, and the presence of community-based volunteers plays a decisive role in ensuring effective disaster response in hazard-prone areas. However, inaccurate understandings of community-based psychosocial support—including the neglect of local values, practices, and social structures—can create additional burdens such as horizontal and vertical conflict, the erosion of local wisdom, and iatrogenic effects. Community volunteers and the spaces for community empowerment within psychosocial support are often insufficiently prioritized, while existing programs tend to employ approaches that, epistemologically, function merely as operationalizations of mainstream psychosocial thought derived from models outside the local context. The “success” of psychosocial services is frequently assessed by the extent to which practices conform to theoretical assumptions that may not be contextually relevant. This study brings forward a decolonizing orientation that affirms the importance of approaching community-based initiatives with unconquered minds—a stance that positions local knowledge as an autonomous and legitimate foundation for recovery processes.
This study aims to map the characteristics of community-based psychosocial support in three disaster-prone areas of the Special Region of Yogyakarta—facing both slow-onset hazards such as landslides and volcanic activity, and rapid-onset hazards such as earthquakes and tsunamis—and to formulate strengthening strategies grounded in local culture and community institutions. The research employed an exploratory action research design consisting of an exploratory phase examining local practices and an intervention phase focused on strengthening volunteer capacity.
The findings indicate that community-based psychosocial support is profoundly shaped by hazard characteristics, social structures, and local cultural contexts. In slow-onset settings, support tends to be more structured, routine, and anchored in family–community networks; whereas in rapid-onset settings, support is more spontaneous, spiritual, and expressed through communal rituals. The study identifies that community-based psychosocial support rests on a set of resilience resources, including: (1) cultural resources—shared values, rituals, and collective meaning; (2) community resources—mutual aid and social cohesion; (3) leadership resources—the moral authority and experience of local leaders and senior volunteers; and (4) ecological–spiritual resources—environmental stewardship practices; align with Hobfoll’s Conservation of Resources/COR theory. Theoretically, this study expands the interpretive scope of the United Nations Inter-Agency Standing Committee/IASC guidelines by demonstrating that family–community support as the foundational layer can only function optimally when understood through local cultural knowledge. The study also reinforces a decentering perspective, shifting the epistemic locus of psychosocial knowledge from universalized models toward locally grounded practices. Practically, this research produces a model for strengthening community volunteers by centering local culture, community relations, and village-level institutions through institutional recognition by local government, active involvement in village planning processes, youth volunteer regeneration, and the use of digital technology to ensure sustainability
Kata Kunci : dukungan psikososial berbasis komunitas, relawan, kearifan lokal, ketangguhan komunitas, sumber daya sosial–budaya/community-based psychosocial support, volunteers, local wisdom, community resilience, socio-cultural resources