Assessing Transportation-Related Social Exclusion: A Case Study Of The Light Rail Transit (LRT) Palembang
Sarah Putri Utami, Dr. Fina Itriyati, S.Sos.,M.A.
2025 | Tesis | S2 Sosiologi
Studi kasus ini menjelaskan secara rinci mengenai transportasi Light Rail Transit (LRT) di Palembang yang berkontribusi secara langsung terhadap inklusi sosial dalam berkendara yang terjadi pada kelompok rentan seperti wanita, anak usia sekolah, lansia, individu berpendapatan rendah, dan penyandang disabilitas. Transportasi publik berperan penting dalam mobilitas dan juga sebagai akses ke pelayanan publik, khususnya pada pengguna yang memiliki resiko untuk tereksklusi pada fasilitas tersebut. Dengan menggunakan metode riset kualitatif, penelitian ini melakukan interview dengan 10 pengendara rentan di dalam kendaraan LRT dan juga beberapa staff LRT. Selain itu, observasi personal juga dilakukan terkait fasilitas dan penggunaan LRT. Riset ini fokus pada identifikasi penghalang yang terkait pada sepuluh dimensi eksklusi sosialpada transportasi yaitu fasilitas, geografi, ruang, fisik, waktu, ketakutan, informasi, ekonomi, digital dan juga berdasarkan posisi sosial.
Hasilnya menunjukan bahwa LRT di Palembang sudah memprovides beberapa hal seperti harga yang terjangkau, pelayanan feeder, dan fasilitas seperti tanda dengan huruf braille dan guiding block untuk pengguna disabilitas. Level keamanan sangat tinggi sehingga pengguna merasa aman saat menggunakan LRT. Namun, permasalahan tetap ada, seperti cakupan pelayanan feeder yang sedikit serta maintenance elevator yang sering mengganggu akses penguna. Eksklusi berbasis waktu secara persistent terjadi diakibatkan oleh jadwal operasional yang terkadang tidak match dengan kebutuhan pengguna, khususnya di pagi dan malam hari. Sistem tiket digital juga seharusnya lebih user friendly pada pengguna kursi roda, mentitikberatkan pada kebutuhan untuk tapping tiket yang lebih inklusif.
Meskipun terdapat beberapa hambatan, LRT di Palembang sudah membuat progres yang signifikan dalam mempromosikan sosial inklusi. Mengadopsi prinsip universal desain dan memperbaiki pelayanan yang ada akan makin memperluas akses pengguna. Perbaikan ini akan memposisikan LRT Palembang sebagai model untuk publik transportasi yang inklusif bagi kota-kota lain di Indonesia.
The case study explained how Palembang's Light Rail Transit (LRT) system contributes to social inclusion for vulnerable groups, including women, school-age children, the elderly, low-income individuals, and people with disabilities. Public transportation plays a key role in improving mobility and access to essential services for all citizens, especially those at risk of social exclusion. Using qualitative research methods, the case study employed in-vehicle interviews with ten vulnerable passengers and several LRT staff, as well as personal observations of LRT facilities. The research focused on identifying barriers related to ten dimensions of transport-related social exclusion: facilities, geographical space, physical space, time-based, fear, informational, economic, digital divide, and social position-based. The findings reveal that the LRT in Palembang provides several benefits, including affordable fares, feeder services, and facilities such as braille signage and guiding blocks for users with disabilities. Safety levels are high, and passengers feel secure using the LRT. However, challenges remain. Limited feeder service coverage and poor elevator maintenance affect access for many users. Time-based exclusion persists due to operational schedules that only sometimes match user needs, particularly during early mornings and late evenings. Additionally, the digital ticketing system must be wheelchair-friendly, highlighting a need for inclusive ticketing.
Despite these challenges, the LRT in Palembang has made significant progress in promoting social inclusion. Adopting universal design principles and enhancing existing services could further improve user access. These efforts could position the LRT as a model for inclusive public transportation in other cities in Indonesia.
Kata Kunci : social inclusion, social exclusion, transport-related social exclusion, vulnerable groups