Laporkan Masalah

SARIAMIN ISMAIL: PERJALANAN INTELEKTUAL DAN GAGASAN TENTANG PEREMPUAN MODERN, 1933-1986

Zellica Vanudia Amundari, Dr. Yulianti, B.A., M.A.

2025 | Tesis | S2 Sejarah

Tesis ini menelaah pembentukan dan artikulasi gagasan tentang perempuan modern dalam karya dan kiprah publik Sariamin Ismail (Selasih) pada kurun 1933–1986. Rumusan masalah yang dikaji mencakup: (1) alasan Sariamin memilih sastra sebagai medium utama artikulasi gagasannya, (2) bagaimana gagasan tersebut dibentuk oleh lanskap sosial dan intelektual yang ia hadapi, dan (3) bagaimana gagasan itu diekspresikan dalam konteks kolonial hingga pascakolonial. Secara metodologis, penelitian ini berada dalam ranah sejarah pemikiran yang beririsan dengan sejarah gender. Melalui pendekatan tersebut, penelitian ini merekonstruksi proses pembentukan gagasan tentang perempuan modern dalam tulisan-tulisan Sariamin serta menafsirkannya melalui relasi dengan institusi, praktik sosial, dan struktur kuasa yang mengatur kehidupan perempuan pada masanya.

Tesis ini menggunakan metode sejarah—meliputi heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Sumber: primer utama berupa karya-karya Sariamin: Kalau Tak Untung (1933), Pengaruh Keadaan (1936), Tjerita Poeteri Seri Laoet (1937), Nakhoda Lancang (1982), dan Musibah Membawa Bahagia (1986) yang dibaca beriringan dengan dokumen resmi, arsip pers, dan publikasi sezaman. Penelusuran sumber dilakukan melalui ANRI, Perpustakaan Nasional RI, Delpher, katalog terbitan pemerintah, serta koleksi digital relevan lainnya.

Temuan menunjukkan bahwa pilihan Sariamin menjadikan sastra sebagai medium politik gagasannya berkaitan erat dengan konteks sosial dan budaya yang membuka akses pendidikan modern serta ruang tulis bagi perempuan pada masa itu. Melalui strategi penulisan, ia membalikfungsikan instrumen modern seperti sekolah, media cetak, dan organisasi sebagai sarana untuk memajukan pemikiran perempuan. Dalam kerangka pemikirannya, perempuan modern bukanlah hasil ciptaan kolonial ataupun rezim pemerintahan mana pun. Setiap periode membawa definisinya sendiri tentang modernitas, namun bagi Sariamin, perempuan harus mampu menentukan pilihan hidup secara mandiri dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai yang menjadi landasan dirinya. Dengan demikian, perempuan modern dalam pandangan Sariamin adalah subjek aktif yang terlibat dalam kehidupan sosial sesuai dinamika konteks yang terus berubah.

This thesis examines the formation and articulation of ideas about the modern woman in the works and public engagement of Sariamin Ismail (Selasih) from 1933 to 1986. The study addresses three research questions: (1) why Sariamin chose literature as her primary medium for expressing her ideas, (2) how these ideas were shaped by the social and intellectual landscape she navigated, and (3) how her concept of the modern woman was expressed across colonial and postcolonial contexts. Methodologically, this research is positioned as an intellectual history intersecting with gender history. It reconstructs the development of Sariamin’s ideas within her writings and interprets them in relation to institutions, social practices, and power relations that influenced women’s lives during her time.

This thesis employs the historical method—encompassing heuristics, verification, interpretation, and historiography. Primary sources include Sariamin’s literary works: Kalau Tak Untung (1933), Pengaruh Keadaan (1936), Tjerita Poeteri Seri Laoet (1937), Nakhoda Lancang (1982), and Musibah Membawa Bahagia (1986), examined alongside official documents, periodicals, and other contemporary materials accessed through ANRI, the National Library of Indonesia, Delpher, and government printing archives.

The findings indicate that Sariamin’s use of literature as a political medium is inseparable from a social environment that enabled women’s education and writing opportunities. Through her strategies of narration, she repurposed modern instruments such as schools, print culture, and organizations to advance her ideas. In Sariamin’s thought, the modern woman is not a construct of colonial or state regimes, but a self-determining subject—educated, morally grounded, and capable of adapting to changing times without abandoning her core values. Thus, the modern woman embodies active participation in social life in accordance with evolving historical contexts.

Kata Kunci : Sariamin Ismail, perempuan modern, sastra, Hindia Belanda, Indonesia, Minangkabau.

  1. S2-2025-527697-abstract.pdf  
  2. S2-2025-527697-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-527697-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-527697-title.pdf