Analisis Faktor Ketidakoptimalan Penyerapan Rumah Bersubsidi di Kabupaten Bantul
Fakhiratunnisa Mumtazah, Fatima Putri Prativi, S.T., M.Ec.Dev.
2025 | Tugas Akhir | D4 Manajemen dan Penilaian Properti
Program Fasilitas Likuiditas
Pembiayaan Perumahan (FLPP) dirancang untuk mengurangi backlog hunian bagi
Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), namun realisasinya di Kabupaten Bantul
belum optimal. Kondisi ini terlihat dari masih tingginya unit rumah bersubsidi
yang tidak terserap, dipengaruhi keterbatasan daya beli, akses kredit, serta
ketidaksesuaian lokasi pembangunan dengan preferensi MBR. Sebagai wilayah
penyangga Yogyakarta, Bantul menghadapi dinamika harga tanah dan mobilitas
penduduk yang turut memengaruhi efektivitas program. Penelitian ini bertujuan
menganalisis faktor-faktor penyebab rendahnya penyerapan dan merumuskan
strategi optimalisasi. Pendekatan kuantitatif digunakan melalui Regresi Linear
Berganda terhadap tujuh variabel persepsi konsumen, didukung analisis SWOT yang
disusun dari survei terhadap 115 responden penerima subsidi potensial serta
wawancara dengan pemangku kepentingan. Variabel yang diuji meliputi aspek harga
dan keuangan, kualitas fisik, lokasi, kebijakan, faktor sosial, kondisi ekonomi
umum, serta riwayat kredit. Hasil regresi menunjukkan hanya Kondisi Ekonomi
Umum yang berpengaruh positif signifikan terhadap minat pembelian, menegaskan
dominasi stabilitas makroekonomi dibandingkan faktor fisik atau harga. Analisis
SWOT mengidentifikasi strategi yang berfokus pada penguatan regulasi dan
manajemen, perluasan akses pembiayaan pekerja informal, peningkatan integrasi
lokasi hunian dengan aksesibilitas, serta optimalisasi dukungan pemerintah dan
industri. Temuan ini menunjukkan bahwa hambatan utama penyerapan tidak hanya
terkait permintaan, tetapi juga kendala struktural pada akses kredit, harga
lahan, dan mismatch spasial. Optimalisasi FLPP di Bantul memerlukan reformasi
pembiayaan, perencanaan lokasi yang lebih adaptif, dan kolaborasi lintas
pemangku kepentingan.
The Housing Financing
Liquidity Facility (FLPP) program is designed to reduce the housing backlog for
Low-Income Households (MBR); however, its realization in Bantul Regency remains
suboptimal. This condition is evidenced by the high number of unabsorbed
subsidized housing units, influenced by limited purchasing power, restricted
credit access, and a mismatch between development locations and MBR
preferences. As a buffer region for Yogyakarta, Bantul faces land price dynamics
and population mobility that further impact program effectiveness. This study
aims to analyze the factors contributing to low absorption rates and to
formulate optimization strategies. A quantitative approach was employed using
Multiple Linear Regression regarding seven consumer perception variables,
complemented by a SWOT analysis derived from surveys of 115 potential subsidy
recipients and stakeholder interviews. The tested variables included price and
financial aspects, physical quality, location, policy, social factors, general
economic conditions, and credit history. Regression results indicate that only
General Economic Conditions have a significant positive effect on purchase
intention, highlighting the dominance of macroeconomic stability over physical
or pricing factors. The SWOT analysis identifies strategies focused on
strengthening regulation and management, expanding financing access for
informal workers, improving the integration of housing locations with
accessibility, and optimizing government and industry support. These findings
suggest that the primary barriers to absorption are not solely demand-related
but also involve structural constraints regarding credit access, land prices,
and spatial mismatch. Optimizing the FLPP in Bantul requires financing reform,
adaptive location planning, and cross-stakeholder collaboration.
Kata Kunci : Program FLPP, Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), Backlog Hunian, Minat Beli, Kabupaten Bantul, Analisis SWOT.