Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan warung telekomunikasi (wartel) di kecamatan Mergangsan kota Yogyakarta
Fitria Nur Afifah, Drs. Risyanto, M.S.; Drs. H.B.S. Eko Prakoso, M.SP.
2007 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAHWartel sebagai salah satu usaha jasa telekomunikasi perlu mendapat perhatian serius dalam hal pelayanan, sehingga perlu upaya pendistribusian secara merata. Kecamatan Mergangsan memiliki jumlah penduduk 42.570 jiwa dengan jumlah Wartel 56 yang tersebar di daerah pinggiran dan perkotaan. Jumlah penduduk yang besar tersebut dapat digunakan sebagai pendorong pendapatan Wartel. Namun wartel-wartel di Kecamatan Mergangsan masih banyak yang memiliki pendapatan di bawah satu juta perbulan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola sebaran Wartel di Kecamatan Mergangsan, faktor-faktor yang berrpengaruh terhadap pendapatan fasilitas Wartel di Kecamatan Mergangsan, klasifikasi pendapatan Wartel serta implikasi kebijakan Wartel di daerah penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis Kuantitatif dengan menggunakan tiga analisa statistik, yaitu analisa tetangga terdekat, analisa korelasi dan regresi berganda, metode analisa penskalaan dan skoring. Data diambil dari dua sumber yaitu data sekunder dari instansi terkait dan data primer dari pengelola Wartel. Cara pengambilan data primer untuk pengelola adalah dengan metode sensus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola sebaran Wartel di Kecamatan Mergangsan adalah acak. Pendapatan Wartel di Kecamatan Mergangsan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu jumlah pulsa, tipe Wartel, dan jumlah fasilitas Wartel. Dari ketiga faktor tersebut faktor yang sangat berpengaruh adalah tipe Wartel. Berdasar analisis data primer pendapatan Wartel di Kecamatan Mergangsan terbagi menjadi tiga kelas yaitu tinggi 30,4%, sedang 35,7%, rendah 33,9 %. Namun secara umum pendapatan di wilayah ini tergolong sedang. PT.Telkom sebagai penentu kebijakan hendaknya lebih memprioritaskan distribusi Wartel di Wilayah pinggiran sebab daerah ini makin lama akan menunjukkan tingkat kekotaan yang makin tinggi. Perlu adanya standar pelayanan yang jelas sehingga dapat dijadikan sebagai dasar penetapan klasifikasi Warung Telekomunikasi yang selama ini belum dirumuskan PT. Telkom
Wartel (Telecomunication Stall) as one of service business, need to get serious attention consider to serve better, in this case spreading the distributional. Mergangsan subdisrict has 42.570 inhabitant, along with 56 Telecommunication Stall spreading from urbane until it's outside border. Looking at the amount of the people, it is supposed to be able provide higher incomes to Telecomunication Stall itself. Yet, Telecomunication Stall in Mergangsan subdistrict incomes are below one million rupiah's a month. The aims of the research are three folds describing the spread pattern of telecomunication Stall in Mergangsan subdistrictt, describing the affected factors towards Telecomunication Stall's income in Mergangsan subdistrict, classifying the Telecomunication Stall's income and analyzing policy implication in the research area.. To analyze the data this research is using quantitative analysis such as statistical method. There three statistical analysis such as the nearest neighbor analysis, the multiple regression correlation analysis and the scalling and scoring method analysis. The source of the data are: secondary data from related institution and primary data from local Telecomunication Stall's owner. The result of the research shows that there are random distribution pattern of Telecomunication Stall in Mergangsan subdistrict. There are three factors influencing the Telecomunication Stall's income, such as pulse credit, Telecomunication Stall's type and Telecomunication Stall's facilities. From above three elements. Telecomunication Stall type are the most influencing element. Based on primary data analysis, those incomes of Telecomunication Stall in Mergangsan Subdistrict are divide to three kind of class, that is High 30,4%, Medium 35,7%, Low 33,9%. Yet, districtly, incomes in this area are include to Medium. PT.Telkom as policy determiner should have more priority to distribute Telecomunication Stall in outside border area, because this are could progressively becomes an urbane area. This urgently needs a precise Service Standard as a fundamental determination of Classification of Telecommunication Stall that never been done before by PT.Telkom
Kata Kunci : Pendapatan warung telekomunikasi,Mergangsan,Kota Yogyakarta,DIY