Genealogi Kemegahan: Analisis Diskursif Identitas Negara Besar Indonesia
Mohamad Rosyidin, Dr. Muhammad Rum, S.IP, IMAS; Dr. Randy W. Nandyatama, S.IP, M.Sc
2025 | Disertasi | S3 Ilmu Politik
Debat mengenai konsep status dalam Hubungan Internasional (HI) selalu dikaitkan dengan metrik. Kategorisasi "kekuatan besar," "kekuatan menengah," dan "kekuatan kecil" dinilai berdasarkan indikator standar yang berlaku secara universal seperti kemampuan material, karakteristik kebijakan luar negeri, dan pengakuan internasional. Studi yang ada cenderung mengabaikan dimensi subjektif status. Literatur tentang kebijakan luar negeri Indonesia mengilustrasikan kecenderungan ini dengan terperangkap dalam epistemologi objektif yang mengabaikan agensi bangsa ini. Disertasi ini mengkaji status Indonesia dari perspektif yang belum dieksplorasi, khususnya dari sudut pandang Indonesia sendiri sebagai aktor yang sadar. Meskipun narasi "Indonesia sebagai kekuatan besar" diakui oleh banyak akademisi, penyelidikan mendalam terhadap dasar-dasar gagasan ini belum dilakukan. Dengan menggunakan konsep identitas pribadi dari konstruktivisme dan memperkayanya dengan konsep psikologi perkembangan seperti skema diri, diri spiritual, dan identitas naratif, disertasi ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana Indonesia membangun identitasnya sebagai negara adikuasa. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana dan pendekatan sejarah wacana untuk menginterpretasikan teks pidato yang disampaikan oleh para pemimpin Indonesia dari periode sebelum kemerdekaan hingga era Joko Widodo. Disertasi ini menemukan bahwa sejak awal berdirinya, Indonesia telah memandang statusnya sebagai kekuatan besar daripada kekuatan menengah, yang diterima secara luas oleh sebagian besar sarjana HI. Keyakinan ini didasarkan pada lima elemen: ekspresi emosional (pathos), pengalaman sejarah (mitos nasional), keistimewaan budaya, geografi dan monumen, serta pencapaian dan aspirasi nasional. Kelima elemen ini merupakan sumber keyakinan Indonesia akan kebesarannya. Temuan ini menyiratkan bahwa konsep status dalam HI memerlukan evaluasi ulang, dengan mempertimbangkan secara serius dimensi subjektif negara.
The debate concerning the concept of status in International Relations (IR) has always been associated with metrics. The categorization of “great powers,” “middle powers,” and “small powers” is assessed based on universally applicable standard indicators such as material capabilities, foreign policy characteristics, and international recognition. Existing studies tend to overlook the subjective dimensions of status. Literature on Indonesia’s foreign policy illustrates this tendency by becoming entrapped in an objective epistemology that overlooks the agency of this nation. This dissertation examines Indonesia’s status from an unexplored perspective, specifically from Indonesia’s own viewpoint as a conscious actor. Although the narrative of “Indonesia as a great power” is recognized by many academics, a thorough investigation into the foundations of this notion has yet to be conducted. By employing the personal identity concept from constructivism and enriching with developmental psychology concepts such as self-schema, spiritual self, and narrative identity, this dissertation aims to reveal how Indonesia constructs its identity as a great power. The research utilizes the discourse analysis and the discourse historical approach methods to interpret the texts of speeches delivered by Indonesian leaders from the pre-independence period to the era of Joko Widodo. This dissertation finds that since its inception, Indonesia has perceived its status as a great power rather than a middle power as widely accepted by most IR scholars. This belief is grounded in five elements: emotional [removed]pathos), historical experience (national myth), cultural exceptionalism, geography and monuments, as well as national achievements and aspirations. These five elements constitute the source of Indonesia’s conviction in its greatness. This finding implies that the concept of status within IR necessitates reevaluation, taking into serious account the subjective dimension of nations.
Kata Kunci : status; Indonesia's foreign policy; great power; personal identity; discourse analysis