Laporkan Masalah

Konsep Manusia Sempurna dalam Piwulang Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu Raden Ngabehi Yasadipura II

Muhammad Satriyo Ulil Albab, Dr. Iva Ariani, S.S., M.Hum. ; Dr. Agus Himmawan Utomo, S.S., M.Ag.

2025 | Tesis | S2 Ilmu Filsafat

Modernitas dengan segala hingar-bingarnya, meskipun seolah membawa angin segar pada humanisme, namun pada kenyataannya justru terjatuh pada dehumanisme, sebab dimensi spiritual yang teralienasi di dalamnya. Persoalan ini hendak dicarikan jalan keluarnya melalui khazanah filsafat Nusantara, khususnya dalam piwulang sastrajendra versi R. Ng. Yasadipura II. Melalui sastrajendra, akan dikemukakan mengenai gagasan konsep manusia sempurna sebagai tawaran solusi untuk mengatasi persoalan kemanusiaan yang terjadi, dengan menggunakan perspektif beberapa tokoh yang relevan. Dengan demikian, tujuan penelitian ini ialah menguraikan konsep manusia sempurna dalam berbagai aliran dan tradisi filsafat, menguraikan piwulang sastrajendra R. Ng. Yasadipura II, dan memunculkan konsep manusia sempurna dalam piwulang sastrajendra R. Ng. Yasadipura II melalui pemetaan beberapa tokoh yang relevan sebagai sebagai solusi untuk mengatasi krisis dimensi spiritual yang terjadi.

Penelitian ini merupakan penelitian studi kepustakaan yang melakukan refleksi mengenai makna dan nilai filosofis yang terdapat di dalam piwulang sastrajendra, menggunakan perspektif beberapa tokoh yang relevan mengenai konsep manusia sempurna. Langkah penelitian yang dilakukan yakni, pertama, mendeskripsikan data penelitian masing-masing mengenai sastrajendra maupun konsep manusia sempurna dalam berbagai tradisi dan aliran, kemudian menganalisis konsep manusia sempurna dalam piwulang sastrajendra serta merefleksikannya dengan persoalan yang terjadi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, pertama, konsep manusia sempurna sangat dipengaruhi oleh keragaman latar belakang sejarah, sosial, politik, dan budaya pada wilayah masing-masing: Barat dengan eksistensialismenya, Timur dengan harmoni-spiritualnya, dan Islam dengan citra Ilahinya. Kedua, sastrajendra merupakan salah satu khazanah filsafat Nusantara dengan keragaman versi yang di dalamnya terdapat ajaran-ajaran pokok dalam konstruksi filosofis: metafisika, epistemologi, aksiologi, dan teologi. Ketiga, untuk dapat memahami piwulang sastrajendra, khususnya tentang konsep manusia sempurna, dibutuhkan pemetaan dengan gagasan tokoh-tokoh yang relevan, sehingga dihasilkan pemahaman bahwa manusia sempurna dalam sastrajendra adalah manusia yang memahami hakikat keberadaannya di dunia untuk mengejawantahkan visi Ilahi, yakni “memayu hayuning bawana”.

Modernity, with all its hustle and bustle, seems to bring a breath of fresh air to humanism, but in reality, it has fallen into dehumanism, because the spiritual dimension has been alienated within it. This problem will be addressed through the philosophical treasures of the Nusantara, particularly in the piwulang sastrajendra version by R. Ng. Yasadipura II. Through sastrajendra, the concept of the perfect human being will be presented as a solution to overcome humanitarian issues, using the perspectives of several relevant figures. Thus, the purpose of this study is to describe the concept of the perfect human being in various philosophical traditions, describe the piwulang sastrajendra R. Ng. Yasadipura II, and to bring forth the idea of the perfect human being in the teachings of sastrajendra R. Ng. Yasadipura II through mapping of several relevant figures as a solution to the spiritual crisis that is occurring. 

This research is a literature study that reflects on the meaning and philosophical values contained in the piwulang sastrajendra, using the perspectives of several relevant figures on the concept of the perfect human being. The research steps taken were, first, to describe the research data on sastrajendra and the concept of the perfect human being in various traditions, then to analyze the concept of the perfect human being in the piwulang sastrajendra and reflect on it.

The results of this study show that, first, the concept of the perfect human being is greatly influenced by the diversity of historical, social, political, and cultural backgrounds in each region: the West with its existentialism, the East with its harmony and spirituality, and Islam with its divine image. Second, sastrajendra is one of the treasures of Nusantara philosophy with a variety of versions containing basic teachings in metaphysical, epistemological, axiological, and theological philosophical constructs. Third, to understand the teachings of sastrajendra, especially regarding the perfect human being, it is necessary to map out the ideas of relevant figures, resulting in the understanding that the perfect human being in sastrajendra is one who understands the essence of their existence in the world to embody the divine vision, namely “memayu hayuning bawana”.

Kata Kunci : Manusia Sempurna, Sastrajendra, Memayu Hayuning Bawana

  1. S2-2025-524371-abstract.pdf  
  2. S2-2025-524371-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-524371-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-524371-title.pdf