Laporkan Masalah

Determinan Kunci High Performance Organization dalam Percepatan Pendaftaran Tanah di Indonesia: Peran Kepemimpinan Publik, Budaya Organisasi, dan Manajemen Strategis

Mokhamad Surianto, Prof. Dr. Agus Heruanto Hadna, S.IP., M.Si; Dr. Puguh Prasetya Utomo, S.I.P., M.P.A

2025 | Disertasi | S3 Ilmu Administrasi Negara

Disertasi ini bertujuan menganalisis secara komprehensif determinan kunci High-Performance Organization (HPO) di sektor publik melalui telaah konfigurasi sinergis dan hubungan kausal antar faktor utama—kepemimpinan, budaya organisasi, serta manajemen strategis yang mencakup perencanaan, implementasi, dan evaluasi strategi. Studi kasus pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) melalui Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), yang berhasil mendaftarkan 33 juta bidang tanah dalam lima tahun dibandingkan 46 juta bidang tanah dalam lima puluh enam tahun sebelumnya, menjadi representasi ideal bagi analisis HPO sekaligus sebagai upaya mengisi kesenjangan literatur yang dominan berfokus pada sektor korporasi di negara maju. 
Menggunakan paradigma post-positivisme dengan desain Multiphase Mixed Methods, penelitian ini mengintegrasikan Qualitative Comparative Analysis (QCA), eksplorasi kualitatif, dan validasi kuantitatif melalui Structural Equation Modeling – Partial Least Squares (SEM-PLS). Penelitian ini melibatkan 50 kantor pertanahan dengan 300 partisipan dalam analisis QCA, wawancara mendalam untuk pendalaman temuan, serta 1.000 responden yang dipilih secara proporsional berdasarkan sebaran geografis dan demografis di Indonesia guna mendukung pencapaian tujuan disertasi ini. Panitia ajudikasi PTSL berperan sebagai sumber data utama, sedangkan masyarakat dan perangkat desa menjadi sumber data tambahan untuk memperkaya hasil eksplorasi kualitatif.
Hasil penelitian melalui QCA mengungkap sepuluh konfigurasi utama yang sufficient dalam pencapaian HPO, terdiri atas lima konfigurasi yang menghasilkan keberhasilan dan lima lainnya yang menjelaskan kegagalan. Temuan ini menunjukkan bahwa HPO merupakan hasil dari interaksi kompleks antar kondisi, bukan pengaruh satu faktor tunggal. Budaya organisasi dan perencanaan strategis terbukti sebagai kondisi yang konsisten meskipun efektifitas kecukupannya bergantung pada kombinasi dengan kondisi lain. Sementara itu, kondisi kepemimpinan, implementasi, dan evaluasi strategi bersifat kontingensial dan kontekstual. Selain itu, kondisi atau kombinasi kondisi yang cukup untuk mencapai HPO berbeda dengan yang menyebabkan kegagalan (asymmetrical causality), serta berbagai kombinasi kondisi tertentu dapat menghasilkan hasil yang sama (equifinality). Fase kuantitatif memperkuat hasil konfiguratif dengan diterimanya seluruh hipotesis, sekaligus menegaskan peran mediasi berurutan kepemimpinan melalui budaya organisasi dan manajemen strategis terhadap HPO. Multigroup Analysis menunjukkan variasi pengaruh determinan kunci berdasarkan geodemografis, kecuali budaya organisasi yang secara konsisten berpengaruh positif di seluruh kelompok data. Integrasi seluruh fase menghasilkan Model HPO Konfiguratif–Kontingensi–Sekuensial, yang menjelaskan bahwa kinerja tinggi hanya dapat dicapai ketika nilai, strategi, dan tindakan kepemimpinan bersinergi secara selaras dalam konteks dan urutan yang tepat. 
Akhirnya, disertasi ini juga mengakui adanya keterbatasan penelitian yang membuka peluang bagi studi lanjutan, sekaligus memberikan rekomendasi penting bagi praktik manajerial, pengembangan akademik, dan kontribusi bagi masyarakat.

This dissertation aims to comprehensively analyze the key determinants of a High-Performance Organization (HPO) in the public sector through an examination of the synergistic configurations and causal relationships among major factors—leadership, organizational culture, and strategic management encompassing strategy formulation, implementation, and evaluation. The case study focuses on the Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency (ATR/BPN) through the Complete Systematic Land Registration Program (Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap or PTSL), which successfully registered 33 million land parcels within five years, compared to only 46 million parcels registered over the previous fifty-six years. This case represents an ideal context for HPO analysis and simultaneously addresses a significant gap in the literature, which has predominantly focused on corporate sectors in developed countries.

Employing a post-positivist paradigm and a Multiphase Mixed Methods design, this research integrates Qualitative Comparative Analysis (QCA), qualitative exploration, and quantitative validation through Structural Equation Modeling – Partial Least Squares (SEM-PLS). The study involved 50 land offices and 300 participants in the QCA phase, followed by in-depth interviews to deepen the qualitative insights, and 1,000 respondents proportionally selected based on Indonesia’s geographical and demographic distribution to support the dissertation’s objectives. Members of the PTSL adjudication committee served as the primary data source, while community members and village officials were additional sources enriching the qualitative exploration.

The QCA findings reveal ten major configurations sufficient to achieve HPO—five leading to success and five explaining failure. These findings demonstrate that HPO results from complex interactions among conditions rather than the influence of a single factor. Organizational culture and strategic planning emerged as consistently significant conditions, although their sufficiency depends on specific combinations with other factors. Meanwhile, leadership, implementation, and evaluation were found to be contingent and context-dependent. Moreover, the study confirms the presence of asymmetrical causality, indicating that the conditions sufficient for achieving HPO differ from those causing failure, and equifinality, meaning multiple combinations of conditions can lead to similar outcomes. The quantitative phase reinforces the configurational results, as all hypotheses were supported, highlighting the sequential mediating role of leadership through organizational culture and strategic management in influencing HPO. Multigroup Analysis further indicates geodemographic variations in the determinants’ effects, except for organizational culture, which consistently exerts a positive influence across all groups. Integrating all phases, the study proposes the Configurational–Contingency–Sequential HPO Model, asserting that high performance can only be realized when leadership values, strategies, and actions align synergistically within the appropriate contextual and sequential order. 

Finally, this dissertation acknowledges its research limitations, opening avenues for future studies, while offering important recommendations for managerial practice, academic development, and societal contribution.


Kata Kunci : High Performance Organization, HPO, Kepemimpinan, Budaya Organisasi, Manajemen Strategi, Pendaftaran Tanah, QCA, SEM-PLS

  1. S3-2025-501677-abstract.pdf  
  2. S3-2025-501677-bibliography.pdf  
  3. S3-2025-501677-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2025-501677-title.pdf