Does Education Promote Formal Employment for Women in Indonesia?: Evidence from Sakernas August 2024
Siti Shalima Nazrin, Eny Sulistyaningrum
2025 | Skripsi | ILMU EKONOMI
Perekonomian Indonesia masih ditandai oleh rendahnya tingkat pekerjaan formal, terutama di kalangan perempuan. Meskipun pendidikan sering dianggap sebagai jalur utama menuju pekerjaan formal, pengaruh tersebut tidak selalu mudah bagi perempuan karena adanya tantangan struktural seperti diskriminasi di tempat kerja, ekspektasi sosial, dan terbatasnya ketersediaan lapangan kerja. Oleh karena itu, studi ini mengkaji bagaimana pendidikan memengaruhi probabilitas perolehan pekerjaan formal bagi perempuan di Indonesia, dengan mempertimbangkan karakteristik individu, rumah tangga, dan wilayah. Menggunakan data SAKERNAS Agustus 2024 dan dilengkapi dengan PODES 2024, studi ini menganalisis sampel yang terdiri dari 182.906 perempuan pekerja berusia 15-64 tahun di Indonesia. Dengan menggunakan regresi logistik biner dan regresi IV-Probit, hasilnya menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi meningkatkan probabilitas untuk mendapatkan pekerjaan formal. Regresi IV-Probit menghasilkan hasil yang lebih besar dibandingkan dengan analisis logistik dasar, yang mengungkapkan bahwa setiap tahun tambahan sekolah meningkatkan probabilitas pekerjaan formal sekitar 24 poin persentase bagi perempuan. Probabilitas tertinggi terdapat pada perempuan dengan gelar doktor. Namun, hambatan struktural seperti jumlah anggota keluarga, perkawinan, perawatan lansia, dan disparitas kesempatan kerja antarwilayah masih ada, yang seringkali menghambat akses ke pekerjaan formal meskipun telah memenuhi persyaratan pendidikan yang dipersyaratkan. Temuan ini menyoroti pentingnya memperluas akses pendidikan sekaligus mengatasi hambatan struktural untuk meningkatkan partisipasi perempuan di pasar tenaga kerja formal Indonesia.
The Indonesian economy continues to be characterized by a low level of formal employment, particularly among women. While education is often seen as a key pathway to formal employment, this effect is not always straightforward for women due to systemic challenges such as employer bias, social expectations, and limited job availability. Thus, this study examines how education impacts the probability of securing formal employment for women in Indonesia, controlling for individual, household, and regional characteristics. Using data from the August 2024 wave of SAKERNAS and supplemented by PODES 2024, this study observes the working status, conditions, and socioeconomic characteristics of 182,906 working women aged 15-64 in Indonesia. Employing a binary logistic regression and IV-Probit regression, the results show that a higher education level increases the probability of being formally employed. The IV-Probit regression generated larger results compared to the baseline logistic analysis, revealing that each additional year of schooling increases the probability of formal employment by approximately 24 percentage points for women. The probability is highest for women with doctoral degrees. However, structural barriers such as household size, marriage, elderly care, and regional disparities in labor opportunities persist, often hindering entry to formal employment despite fulfilling the necessary educational requirements. These findings highlight the dual importance of expanding access to education while also addressing structural constraints to enhance female participation in the Indonesian formal labor market.
Kata Kunci : Formal female employment, education, Indonesia, female labor force participation, IV-Probit