REFLEKSI BENTUK RELASI CINTA ROMANTIS PADA MAHASISWA MUSLIM PENGGUNA APLIKASI KENCAN BUMBLE DI YOGYAKARTA
Rahma Nafiatul Awaliyah, Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi M. A.
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar pada cara manusia membangun relasi cinta, begitu pun yang terjadi di Indonesia. Selama ini relasi cinta di Indonesia memegang erat nilai-nilai budaya dan agama dalam urusan hubungan romantis tersebut. Salah satu contoh nyata dari perubahan dapat ditengok melalui kehadiran aplikasi Bumble yang memberi kontrol lebih pada perempuan dalam memulai interaksi. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana mahasiswa Muslim menggunakan aplikasi ini dan bagaimana hal itu mencerminkan perubahan dalam bentuk relasi cinta romantis. Dengan pendekatan kualitatif dan metode etnografi, peneliti melakukan wawancara dan observasi terhadap empat pengguna aktif Bumble yang berasal dari latar belakang sosial dan keluarga yang beragam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Bumble tidak hanya sebagai media mencari pasangan, tetapi juga menjadi ruang untuk negosiasi nilai dan identitas. Para informan menampilkan beragam respons terhadap relasi kasual yang ditawarkan aplikasi ini. Mulai dari menerimanya sebagai bentuk kebebasan baru hingga ada yang mempertahankan nilai-nilai agama dan budaya yang mereka yakini. Melalui teori David M. Scheineder tentang cinta sebagai konstruksi budaya, maka penelitian ini menyimpulkan bahwa cinta romantis di era digital tengah mengalami transformasi, dari yang dulu bersifat sakral dan terstruktur, kini menjadi lebih personal, fleksibel, bahkan transaksional. Temuan ini memberi gambaran baru tentang dinamika cinta di kalangan generasi muda Indonesia yang hidup dalam tarik-ulur antara tradisi dan modernitas.
The rise of digital technology has significantly reshaped how people build and perceive romantic relationships, including in Indonesia, where cultural and religious values have traditionally played a central role in shaping love and courtship. One notable example of this transformation is Bumble, a dating application that allows women to take the initiative in starting conversations. This study aims to explore how Muslim university students, particularly those raised in Javanese cultural environments, use Bumble and how the platform reflects broader shifts in romantic relationship dynamics. Using a qualitative approach and ethnographic method, this research draws on interviews and participant observation involving four Bumble users from diverse family and social backgrounds.
The findings show that Bumble functions not only as a dating platform but also as a space where personal values and identities are constantly negotiated. Informants expressed varied responses to the casual and flexible nature of relationships facilitated through the app. Some embraced it as a new form of freedom, while others remained rooted in religious and cultural norms. Guided by David M. Schneider’s theory that views love as a cultural construct, this study concludes that romantic love in the digital age is shifting from a sacred and structured institution to one that is increasingly personal, flexible, and even transactional. These insights offer a nuanced understanding of how young Indonesians reconcile traditional values with digital modernity in their pursuit of romantic connection.
Kata Kunci : Kata kunci: Bumble, cinta romantis, relasi digital, mahasiswa Muslim.