Laporkan Masalah

Meniti Jejak Stayers dan Movers di Yogyakarta-Surakarta: Pengaruh Intensitas Mobilitas Tenaga Kerja dan Tingkat Modal Manusia terhadap Tingkat Mobilitas Pekerjaan

Muhammad Khoirul Rizal, Kafa Abdallah Kafaa, S.Sos., M.A.

2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI

Penelitian ini mengkaji pengaruh intensitas mobilitas tenaga kerja dan tingkat modal manusia terhadap tingkat mobilitas pekerjaan antargenerasi menggunakan kerangka teori escalator region dan pendekatan modal manusia. Tingkat mobilitas pekerjaan lintas generasi diukur menggunakan klasifikasi Erikson-Goldthorpe-Portocarero (EGP) scheme, yang membandingkan status pekerjaan individu dengan status pekerjaan orang tuanya untuk mengidentifikasi arah dan kecenderungan pergeseran kelas pekerjaan lintas generasi. Dengan menggunakan analisis regresi ordinal terhadap data survei dari 64 pekerja di wilayah Yogyakarta dan Surakarta, studi ini mengevaluasi bagaimana mobilitas spasial berinteraksi dengan modal manusia dalam membentuk peluang peningkatan kelas pekerjaan lintas generasi. Temuan penelitian ini mendukung hipotesis escalator region, yakni pekerja yang melakukan perjalanan antarkota (movers) cenderung mengalami mobilitas pekerjaan antargenerasi ke atas yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak berpindah (stayers). Selain itu, tingkat modal manusia yang lebih tinggi secara konsisten berkorelasi positif dengan peluang mobilitas ke atas, terlepas dari intensitas mobilitas spasialnya. Ini menegaskan bahwa meskipun kawasan aglomerasi Yogyakarta-Surakarta menyediakan platform untuk memasuki jalur pekerjaan yang lebih baik, efektivitasnya sebagai wilayah eskalator bergantung pada bekal modal manusia. Hasil ini menekankan pentingnya investasi sumber daya manusia dan kebijakan yang mendukung konektivitas antarwilayah untuk mengoptimalkan potensi mobilitas demografi sebagai strategi untuk memperluas akses terhadap mobilitas pekerjaan antargenerasi. 

This study examines the influence of labour mobility intensity and human capital levels on intergenerational occupational mobility using the theoretical framework of the escalator region and human capital approach. intergenerational occupational mobility is assessed using the Erikson-Goldthorpe-Portocarero (EGP) classification scheme, which contrasts individual's occupational status with that of their parents to capture the direction and patterns of intergenerational class transition. Based on ordinal regression analysis of survey data from 64 workers in the Yogyakarta and Surakarta regions, the study evaluates how spatial mobility and human capital interact in shaping opportunities for occupational advancement across generations. The findings supports the escalator region hyopotesis, workers who engage in intercity commuting (movers) tend to experience higher upward occupational mobility compared to those who remain in place (stayers). In addition, higher levels of human capital consistently correlate positively this upward mobility, regardless of spatial mobility intensity. These results affirm that while the Yogyakarta-Surakarta agglomeration provides opportunities for improved employment trajectories, its effectiveness as an escalator region largely depends on the quality of individual human capital. The study underscores the importance of investing in human capital development and implementing policies that enchace interregional connectivity to optimize demographic mobility as a strategy for expanding access to intergenerational occupational advancement.   

Kata Kunci : Escalator region, modal manusia, mobilitas pekerjaan antargenerasi, Yogyakarta, Surakarta

  1. S1-2025-481317-abstract.pdf  
  2. S1-2025-481317-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-481317-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-481317-title.pdf