Laporkan Masalah

Struktur Percakapan dan Pola Pemakaian Kode Tutur Oleh Pedagang Keliling di Pasar Tradisional: Studi Kasus di Pasar Magetan Jawa Timur

Erlin Kartikasari, Prof. Dr. Suhandano, M.A.; Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum.

2025 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora

Penelitian ini mengkaji struktur percakapan, kode tutur, pola pemakaian kode tutur, dan alasan di balik penggunaan kode tutur antara pedagang keliling dan pembeli di pasar Magetan, Jawa Timur. Pasar Magetan merupakan salah satu pusat grosir sayur terbesar di Jawa Timur yang berperan penting dalam perekonomian lokal dan distribusi sayur segar ke berbagai daerah, yang kemudian dikenal dengan Pasar Sayur. Komunitas tutur yang menonjol di pasar ini adalah pedagang keliling. Pedagang keliling di pasar Magetan merupakan komunitas yang unik karena menggunakan struktur percakapan tertentu dan kode tutur tertentu untuk menarik pembeli. Berbeda dengan pedagang yang menetap, pedagang keliling cenderung membawa barang dagangan dalam jumlah dan variasi yang lebih sedikit. Kondisi ini menuntutnya untuk memproduksi lebih banyak tuturan untuk menarik perhatian dan minat pembeli. Kode tutur pedagang keliling menarik untuk diteliti karena interaksi dengan pelanggan yang beragam menuntut penyesuaian bahasa sesuai situasi. Mobilitas yang tinggi memicu terjadinya variasi bahasa, alih kode, maupun campur kode dalam situasi komunikasi di pasar tradisional yang terbatas waktu.

Penelitian ini merupakan studi kualitatif yang menggunakan teori sosiolinguistik dan metode analisis percakapan untuk mengkaji tuturan pedagang keliling dalam interaksinya dengan pembeli. Data penelitian diperoleh melalui metode pengamatan partisipatif dengan teknik rekam, simak, dan cakap. Data rekaman didengarkan berulang kali kemudian ditranskripsikan menggunakan transkripsi ortografis. Untuk memudahkan pemahaman, peneliti menyertakan terjemahan dalam bahasa Indonesia untuk setiap tuturan dalam bahasa Jawa. Proses analisis data dimulai dengan mengelompokkan tuturan berdasarkan kode tutur yang digunakan, baik secara konvensional maupun dengan bantuan Sketch Engine.

Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa interaksi sosial antara pedagang keliling dan pembeli di pasar Magetan, Jawa Timur dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya yang khas dari pasar tradisional. Bahasa yang digunakan dalam interaksi tersebut mencerminkan sifat informal dan spontan yang menjadi karakteristik utama dalam komunikasi di pasar tradisional. Struktur percakapan umumnya terdiri atas tiga bagian utama: pembuka, inti, dan penutup, meskipun tidak semua percakapan memuat ketiga unsur tersebut secara lengkap. Kelancaran komunikasi didorong oleh pengelolaan gilir tutur yang efisien serta interaksi tatap muka yang memperkuat hubungan sosial antara pedagang keliling dan pembeli. Penggunaan kode tutur, terutama bahasa Jawa dalam ragam ngoko dan krama yang bercampur dengan bahasa Indonesia menunjukkan kemampuan bilingualisme para pedagang keliling serta penyesuaian bahasa sesuai dengan konteks sosial. Selain itu, fenomena alih kode dan campur kode dalam percakapan menggambarkan fleksibilitas para pedagang dalam berinteraksi. Faktor konteks situasional, hubungan antarpenutur, tujuan percakapan, kemampuan berbahasa, mobilitas tinggi, dan latar belakang budaya turut memengaruhi pemilihan struktur percakapan dan kode tutur yang digunakan pedagang keliling untuk kebutuhan komunikasi dalam transaksi di pasar tradisional.

This study examines the conversation structure, speech code, speech code usage patterns, and the reasons behind the use of speech codes between peddlers and buyers in the Magetan market, East Java. Magetan Market is one of the largest vegetable wholesale centers in East Java which plays an important role in the local economy and the distribution of fresh vegetables to various regions, which is later known as the Vegetable Market. The prominent speaking community in this market is peddlers. The peddlers in the Magetan market are a unique community because they use a certain conversational structure and a certain speech code to attract buyers. In contrast to sedentary traders, peddlers actively roam the market, producing more speech to lure buyers. The small variety and volume of trades demand that the peddlers be able to communicate effectively. The speech code of a peddlers is interesting to research because interactions with diverse customers demand language adjustments according to the situation. High mobility triggers language variation, code switching, and code mixing in communication situations in traditional markets that are limited in time.

This research is a qualitative study that uses sociolinguistic theory and conversation analysis methods to examine the speech of peddlers in their interactions with buyers. The research data was obtained through participatory observation methods with record, listen, and proficiency techniques. The recorded data is listened to repeatedly and then transcribed using orthographic transcription. To facilitate understanding, the researcher included a translation in Indonesian for each speech in Javanese. The data analysis process begins by grouping speech based on the speech code used, either conventionally or with the help of the Sketch Engine.

This study resulted in the finding that social interaction between peddlers and buyers in the Magetan market, East Java is influenced by the social and cultural context typical of traditional markets. The language used in such interactions reflects the informal and spontaneous nature that is a key characteristic of communication in traditional markets. The structure of a conversation generally consists of three main parts: the opening, the core, and the conclusion, although not all conversations contain all three elements in full. Smooth communication is driven by efficient speech turn management and face-to-face interactions that strengthen social relationships between peddlers and buyers. The use of speech codes, especially Javanese in a variety of ngoko and krama mixed with Indonesian shows the bilingualism of peddlers and language adjustment according to the social context. In addition, the phenomenon of code switching and code mixing in conversations illustrates the flexibility of traders in interacting. Factors of situational context, relationships between speakers, conversation objectives, language skills, high mobility, and cultural background also influence the selection of conversation structures and speech codes used by peddlers for communication needs in transactions in traditional markets.

Kata Kunci : struktur percakapan, kode tutur, pola kode tutur, pedagang keliling, pasar tradisional

  1. S3-2025-485930-abstract.pdf  
  2. S3-2025-485930-bibliography.pdf  
  3. S3-2025-485930-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2025-485930-title.pdf