Pengaruh Korean Beauty Standard Terhadap Makna Kecantikan dan Penggunaan Makeup di Kalangan Mahasiswi Universitas Gadjah Mada
Margaretha Ayudhia Perwita Siwi, Mubarika Dyah Fitri Nugraheni, S.Ant., M.A.
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Fenomena Korean Beauty
Standard telah menjadi bagian dari arus budaya populer global yang turut
memengaruhi konstruksi kecantikan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Standar kecantikan yang ditampilkan melalui media digital, drama Korea, dan
industri K-Pop tidak hanya dipandang
sebagai tren estetika, tetapi juga sebagai wacana sosial yang membentuk
identitas diri dan gaya hidup generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis bagaimana mahasiswi Universitas Gadjah Mada memaknai kecantikan
melalui riasan yang terinspirasi dari K-Beauty,
serta peran media digital dalam mengonstruksi dan mendistribusikan standar
tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan deskriptif-analitis. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2025,
dengan data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, serta kajian
literatur, ditambah observasi lanjutan pada ruang publik seperti acara dance cover K-Pop. Analisis dilakukan dengan memadukan teori budaya populer
Strinati dan konsep myth of beauty
Naomi Wolf, untuk memahami bagaimana media, budaya, dan industri kecantikan
berinteraksi dalam memproduksi makna kecantikan.
Hasil dari penelitian ini merupakan bentuk reflektif yang mencoba memperlihatkan, bahwa meskipun Korean beauty standard tetap berpengaruh
dalam kehidupan para informan, yang dalam penelitian ini difokuskan pada
mahasiswi Universitas Gadjah Mada, namun terdapat pula ruang negosiasi yang
semakin kuat melalui kesadaran bahwa cantik bukan sesuatu yang homogen. Dengan
kata lain, ada proses penyesuaian, negosiasi yang dilematis antara ingin
mencapai standar kecantikan, karena memang menyukai K-beauty, atau memilih untuk merasa cukup atas dirinya, lantaran
mengetahui bahwa standar tersebut merupakan sesuatu yang sangat menuntut dan
membebani.
The phenomenon of the Korean Beauty Standard has become an
integral part of the global popular culture wave, influencing the construction
of beauty in various countries, including Indonesia. The beauty ideals
represented through digital media, Korean dramas, and the K-Pop industry are
not merely perceived as aesthetic trends, but also as social discourses that
shape self-identity and lifestyle among young generations. This study aims to
analyze how female students at Universitas Gadjah Mada interpret beauty through
makeup inspired by K-Beauty, as well as the role of digital media in
constructing and distributing such standards. This research employs a qualitative method with a
descriptive-analytical approach. The research was conducted in May 2025, with
data obtained through observations, in-depth interviews, and literature
studies, complemented by further observation in public spaces such as a K-Pop
dance cover event. The analysis draws on Strinati’s theory of popular culture
and Naomi Wolf’s concept of the beauty myth to examine how media, culture, and
the beauty industry interact in producing meanings of beauty. The findings of this study provide a reflective perspective,
showing that while the Korean Beauty Standard remains influential in the lives
of the informants—who in this study are female students of Universitas Gadjah
Mada—there also exists a growing space of resistance through an increasing
awareness that beauty is not a homogeneous construct. In other words, there is
an ongoing process of negotiation: between aspiring to meet beauty standards
due to an affinity for K-Beauty, or choosing to accept oneself upon realizing
that such standards are demanding and burdensome.
Kata Kunci : Korean Beauty Standard, standar kecantikan, media digital, mitos kecantikan, budaya populer