HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TIKTOK DENGAN PERILAKU CYBERBULLYING PADA REMAJA
Vani Nur Fadilah, Sri Hartini, S.Kep., Ns., M.Kes., Ph.D; Dr. Wiwin Lismidiati, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.Mat.
2025 | Skripsi | ILMU KEPERAWATAN
Latar Belakang: Cyberbullying merupakan salah satu dampak negatif dari perkembangan teknologi
digital yang semakin marak terjadi di kalangan remaja, termasuk dalam TikTok. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa remaja usia 13-15 tahun termasuk kelompok paling rentan menjadi pelaku maupun
korban cyberbullying. Sebanyak 41% pelajar berusia 14 tahun di Indonesia mengalami
cyberbullying dan 45% remaja berusia 14-15 tahun tercatat pernah menjadi korban
cyberbullying (UNICEF, 2020). Hal ini dipicu oleh berbagai faktor seperti keluarga, diri sendiri,
lingkungan sosial, intensitas penggunaan sosial media, dan konformitas teman sebaya.
Tujuan Penelitian: Menganalisis hubungan antara intensitas penggunaan TikTok dengan perilaku
cyberbullying pada remaja.
Metode: Penelitian ini bersifat observasional-korelasional dengan pendekatan kuantitatif dan desain
cross-sectional. Sampel terdiri dari 203 siswa SMP di Kota Yogyakarta yang dipilih melalui teknik
multistage cluster random sampling, simpel random sampling, dan proportionate stratified random
sampling dengan Wheels of Name dan diseleksi menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria
inklusi dan eksklusi. Penelitian ini menggunakan instrumen IPMST, RCBI II, dan SKTS. Data
dikumpulkan melalui Google Form. Data kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat
menggunakan uji Chi-Square.
Hasil: Lebih dari sebagian responden memiliki tingkat intensitas penggunaan TikTok dan konformitas
teman sebaya dalam kategori sedang (74,9?n 65,5%). Remaja lebih banyak terlibat sebagai pelaku
dan korban cyberbullying sekaligus (16,3%). Terdapat hubungan signifikan antara intensitas
penggunaan TikTok dengan cyberbullying (p-value=0,004), namun tidak terdapat hubungan signifikan
antara konformitas teman sebaya dengan cyberbullying (p-value=0,215).
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara intensitas penggunaan TikTok dengan perilaku cyberbulying
pada remaja. Hal ini menunjukkan pentingnya peningkatan literasi digital dan pengawasan penggunaan
TikTok sebagai upaya pencegahan cyberbullying.
Background: Cyberbullying is one of the negative consequences of digital technology development,
increasingly affecting adolescents, especially on platforms like TikTok. Adolescents aged 13–15 are
among the most vulnerable to becoming both perpetrators and victims. In Indonesia, 41% of 14-year-
olds and 45% of those aged 14–15 have experienced cyberbullying (UNICEF, 2020). This issue is
influenced by various factors, including family environment, individual traits, peer dynamics, social
media use, and peer conformity.
Objective: To examine the relationship between TikTok usage intensity and cyberbullying behavior
among adolescents.
Methods: This study employed a quantitative, cross-sectional, correlational design. A total of 203 junior
high school students in Yogyakarta were selected using multistage cluster, simple random, and
proportionate stratified random sampling techniques, followed by purposive sampling based on
inclusion and exclusion criteria. Data were collected via Google Forms using three instruments: IPMST,
RCBI-II, and SKTS. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square
test.
Results: The majority of respondents had a moderate level of TikTok usage intensity (74.9%) and peer
conformity (65.5%). Most adolescents were involved as both perpetrators and victims of cyberbullying
(16.3%). A significant relationship was found between TikTok usage intensity and cyberbullying (p =
0.004), whereas peer conformity showed no significant association (p = 0.215).
Conclusion: TikTok usage intensity is significantly associated with cyberbullying behavior among
adolescents. These findings highlight the importance of enhancing digital literacy and supervising social
media use to help prevent cyberbullying.
Kata Kunci : cyberbullying, intensitas penggunaan, konformitas teman sebaya, remaja, TikTok