Implikasi Tingkat Pendapatan Tenaga Kerja, Ketimpangan Pendapatan, Pengangguran Terbuka, dan Kepadatan Penduduk pada Aksesibilitas Hunian Layak: Studi Data Panel Antarprovinsi di Indonesia
Vivaldi Ahmad Setiadi, Drs. Mulyadi, MPP, Ph.D
2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Sebagai salah satu kebutuhan fisiologis, tempat tinggal memiliki dampak yang signifikan bagi kesejahteraan dan kualitas hidup bagi manusia. Kendati demikian, kurangnya aksesibilitas terhadap rumah yang terjangkau di area perkotaan menjadi salah satu tantangan yang paling signifikan bagi masyarakat global, termasuk di Indonesia. Setidaknya lebih dari 26 juta rumah tangga di Indonesia masih belum mampu mengakses hunian layak pada tahun 2024. Literatur yang ada saat ini mengidentifikasi tingkat pendapatan tenaga kerja, ketimpangan pendapatan, kepadatan penduduk, dan pengangguran terbuka sebagai beberapa faktor dari permasalahan ketidakterjangkauan hunian. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya untuk mengetahui implikasi tingkat pendapatan angkatan kerja, ketimpangan pendapatan, pengangguran terbuka, dan kepadatan penduduk pada aksesibilitas hunian layak di Indonesia pada periode 2019-2024, baik secara parsial maupun simultan.
Teori akses digunakan sebagai pisau analisis dari hasil penelitian. Teori akses merupakan teori yang dicetuskan oleh Ribot & Peluso (2003). Teori akses bermuara dari gagasan ‘kualifikasi akses’ yang menjelaskan bahwa aktor harus memiliki kualifikasi tertentu agar dapat memanfaatkan sumber daya. Teori ini juga menjelaskan terkait mekanisme-mekanisme yang mendasari bagaimana aktor dapat mengakses sumber daya. Penelitian ini menerapkan pendekatan penelitian kuantitatif dengan teknik analisis regresi data panel serta teknik pengambilan data dokumentasi. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik.
Keempat variabel dalam penelitian ini berimplikasi secara signifikan, baik secara simultan maupun parsial. Tingkat pendapatan tenaga kerja dan kepadatan penduduk memberikan implikasi negatif pada aksesibilitas hunian layak, sedangkan ketimpangan pendapatan dan pengangguran terbuka memberikan implikasi positif pada aksesibilitas hunian layak. Dengan demikian, sebagaimana gagasan dari teori akses, individu harus memiliki “kualifikasi akses” tertentu untuk dapat mengakses suatu sumber daya. Hunian layak lebih sulit diakses pada kawasan dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat serta memiliki aktivitas industri atau perdagangan besar yang padat. Artinya, isu aksesibilitas hunian layak di suatu kawasan bermuara dari masih belum meratanya pembangunan sosial dan ekonomi di Indonesia. Selain itu, masyarakat juga masih harus bergantung kepada pergerakan pasar dalam mengakses hunian layak. Dalam teori akses, hal ini dikenal dengan mekanisme struktural yang menjadi antitesis dari akses sumber daya berbasis hak. Keempat variabel bebas dalam penelitian ini memprediksi sebesar 13.26% dinamika aksesibilitas hunian layak, membuktikan bahwa isu ini merupakan yang kompleks, sehingga membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut.
As a physiological need, housing has a significant impact on human well-being and quality of life. However, the lack of accessibility to affordable housing in urban areas remains one of the most significant challenges facing global society, including Indonesia. At least 26 million households in Indonesia will still lack access to adequate housing by 2024. Existing literature identifies labor force income levels, income inequality, population density, and open unemployment as factors contributing to housing inaccessibility. Therefore, this study seeks to determine the implications of labor force income levels, income inequality, open unemployment, and population density on the accessibility of adequate housing in Indonesia from 2019 to 2024, both partially and simultaneously.
Access theory is used as an analytical tool for the research findings. Access theory is a theory proposed by Ribot & Peluso (2003). Access theory stems from the concept of "access qualifications," which explains that actors must possess certain qualifications to utilize resources. This theory also explains the mechanisms underlying how actors can access resources. This study employs a quantitative research approach using panel data regression analysis and documentation. The data used are secondary data sourced from the Indonesia Central Statistics Agency (BPS).
The four variables in this study have significant implications, both simultaneously and partially. Labor income levels and population density negatively impact the accessibility of adequate housing, while income inequality and open unemployment positively impact the accessibility of adequate housing. Therefore, as suggested by access theory, individuals must possess certain "access qualifications" to access a resource. Adequate housing is more difficult to access in areas with rapid economic growth and dense industrial or large-scale commercial activity. This means that the issue of adequate housing accessibility in a region stems from the unequal distribution of social and economic development in Indonesia. Furthermore, communities still rely on market movements to access adequate housing. In access theory, this is known as a structural mechanism, which is the antithesis of rights-based resource access. The four independent variables in this study predict 13.26% of the dynamics of accessibility to decent housing, proving that this issue is a complex one, thus opening up opportunities for further research.
Kata Kunci : hunian layak, keterjangkauan rumah, ketenagakerjaan, kepadatan penduduk