Food Photography dan Konstruksi Identitas Digital Perempuan di Instagram (Studi Kasus Komunitas Virtual @uploadkompakan Yogyakarta)
Arif Ardy Wibowo, Prof. Dr. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., Dr. Ardian Indro Yuwono, M.A.
2025 | Disertasi | DOKTOR ILMU KOMUNIKASI
Food photography telah menjadi genre signifikan dalam budaya visual digital, dengan komunitas virtual sebagai salah satu arena interaksi utama. Penelitian ini berfokus pada studi kasus unik komunitas @uploadkompakan regional Yogyakarta, yang seluruh anggotanya perempuan dan menunjukkan tingkat aktivitas tertinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi proses konstruksi identitas perempuan melalui praktik food photography, dengan analisis yang berpusat pada elemen feminitas, penggunaan Instagram, dan teori identitas. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-studi kasus, data dikumpulkan melalui photovoice, photo-elicitation, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan qualitative content analysis berbantuan coding ATLAS.ti. Frameworks teoretis mengintegrasikan femininity in photography theory, uses and gratifications theory, dan identity theory dari Gauntlett. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan fundamental yang saling terkait. Pertama, ekspresi feminitas terutama melalui elemen dominan theatricality dan hybridity bukanlah representasi individu yang murni, melainkan produk dari fungsi komunitas sebagai ruang gema estetis (aesthetic echo chamber), di mana norma visual kolektif secara sistematis menyeragamkan ekspresi kreatif. Kedua, Instagram dimanfaatkan tidak hanya sebagai galeri visual tetapi juga sebagai ruang strategis untuk pembelajaran, interaksi sosial, dan pembentukan jaringan profesional. Ketiga, di tengah fluiditas identitas digital para anggota, studi ini mengidentifikasi identitas syariah sebagai jangkar fundamental yang menstabilkan, memberi makna, dan mengarahkan keseluruhan proses konstruksi identitas. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa komunitas virtual perempuan berfungsi sebagai arena paradoksal. Ruang di mana perempuan diberikan ruang secara profesional dan komunal, namun secara bersamaan meregulasi ekspresi kreatif melalui norma komunal. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan memperkaya teori identitas melalui penemuan dimensi etis-religius sebagai prinsip non-negosiabel, serta mengkritisi pandangan utopis tentang ruang digital feminis.
Food photography has become a significant genre in digital visual culture, with virtual communities serving as one of its primary arenas for interaction. The study aims to explore the process of female identity construction through the practice of food photography, with an analysis centered on elements of femininity, the use of Instagram, and identity theory. This research focuses on the unique case study of the @uploadkompakan regional Yogyakarta community, distinguished by its all female membership and the highest level of activity. Employing a qualitative case study approach, data were collected through photovoice, photo-elicitation, indepth interviews, and documentation, and subsequently analyzed using qualitative content analysis assisted by ATLAS.ti coding. The theoretical framework integrates the theory of femininity in photography, uses and gratifications theory, and Gauntlett's identity theory. The findings revealed three fundamental interconnected results. First, the expressions of femininity primarily through the dominant elements of theatricality and hybridity. They are not a pure individual representation but a product of the community's function as an aesthetic echo chamber, where collective visual norms systematically homogenize creative expression. Second, Instagram is utilized not only as a visual gallery but also as a strategic space for learning, social interaction, and professional networking. Third, amidst the fluidity of the members' digital identities. This study highlight 'Sharia identity' as a fundamental anchor that stabilizes, gives meaning to, and directs the entire process of identity construction. The main conclusion asserts that this female virtual community functions as a paradoxical arena: a space that empowers its members professionally and communally, while simultaneously regulating their creative expression through communal norms. This research contributes by enriching identity theories through the discovery of an ethic-religious dimension as a non-negotiable foundation, while also critiquing utopian views of feminist digital spaces.
Kata Kunci : food photography, identitas, Instagram, komunitas virtual, perempuan