Laporkan Masalah

Pola keruangan tingkat kualitas pelayanana keluarga berdasarkan persepsi akseptor di provinsi DIY dan NTT : Hasil analisis survei demografi dan kesehatan Indonesia 2002-2003

Esti Rohana, Prof. Dr. Suratman, M.Sc.; Drs. Sukamdi, M.Sc.

2008 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Pemerintah Indonesia diakui telah memberikan perhatiannya terhadap program keluarga berencana dengan memasukkan empat program pokok keluarga berencana nasional dalam Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2002-2003. Di sisi lain, adanya masalah pendanaan dan perubahan sistem pemerintahan pasca tahun 1998, menjadi penting untuk kembali melihat seberapa jauh program menghadapi perubahan kebutuhan pelayanan yang berkualitas menurut persepsi klien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi akseptor keluarga berencana perempuan terhadap kualitas pelayanan keluarga berencana, seperti apa pola keruangannya, dan adakah hubungannya dengan faktor lokasi tempat tinggal, umur, tingkat pendidikan, dan kegiatan ekonomi akseptor. Metode penelitian ini adalah analisis data sekunder dari data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur, serta dipilih secara purposif dengan pertimbangan kedua provinsi ini memiliki perbedaan karakteristik wilayah (daratan dan kepulauan) dan karakteristik demografi (TFR dan prevalensi kontrasepsi). Responden adalah perempuan berstatus kawin dan pernah atau sedang memakai suatu metode kontrasepsi, terdiri atas 1090 responden untuk D.I.Yogyakarta dan 604 responden untuk Nusa Tenggara Timur. Data dianalisis dengan tabel silang, uji independent sample T-Test, dan uji korelasi. Hasil penelitian menemukan bahwa secara umum kualitas pelayanan keluarga berencana di D.I.Yogyakarta lebih tinggi daripada Nusa Tenggara Timur. Persepsi akseptor di perkotaan di Nusa Tenggara Timur lebih tinggi daripada perdesaan, sedangkan di D.I.Yogyakarta tidak berbeda secara signifikan. Pendidikan dan umur aksepor mempunyai derajat hubungan yang rendah terhadap persepsi kualitas pelayanan. Ditemukan bahwa persepsi meningkat seiring meningkatnya pendidikan, akan tetapi menurun seiring bertambahnya umur akseptor. Di Nusa Tenggara Timur akseptor yang tidak bekerja memiliki persepsi yang lebih tinggi daripada akseptor yang bekerja, sedangan di D.I.Yogyakarta tidak ada perbedaan yang signifikan. Secara umum, kualitas pelayanan keluarga berencana di kedua provinsi ini masih rendah menurut persepsi akseptor, perlu adanya perbaikan sistem pelayanan pendukung, dan strategi-strategi baru untuk mencapai tujuan program secara kuantitas dan kualitas, khususnya di Nusa tenggara Timur.

Government has been paying full attention at The Family Planning Program hy setting four of the main action in National Developing Program 2000 - 2004. In the other hand, financial problem and the changes of government's system after 1998 reform are become important to be considered related how the family planning services encounter the changes of needs in good quality care based on female's perception. The objectives of this research are to examine the Family Planning quality of care, how it distributes spatially, and what factors might be affect the quality of care perception, either location of settlements, age, education level and economic activity of clients. The method in this research is analyzing secondary data of Demographic and Health Survey (DHS) 2002-2003. Comparing Yogyakarta Special Region and East Nusa Tenggara Province, sample are chosen in purposive sampling methode. These two provinces are distinct in physical characteristics (land area and archipelago) and demographic characteristics (Total Fertility Rate or TFR and prevalence of contraception). Respondents are those female in marital status currently use or had ever used any of contraceptive methode. Population of sample taken are 1090 respondents in Yogyakarta and 604 respondents in East Nusa Tenggara. Data is analyzed through crosstable, T-Test and correlation statistics methodes. The result found that family planning quality of care level in Yogyakarta Province is higher than that in East Nusa Tenggara. The acceptors in urban area have better perception especially in East Nusa Tenggara, whereas there is no significant level of perception between rural and urban area in Yogyakarta. Education level and age of acceptors are slightly related to quality of care perception, which is more educated acceptors give better perception than those lower educated. However, the quality of care perception go down as the acceptors older. In East Nusa Tenggara, acceptors who are enter public sector give lower perception than those in domestic sector. Still, there is no significant difference of both groups in Yogyakarta Province. Generally, Family Planning quality of care in the two provinces are low based on acceptor's perception, so it needs any improvements in support system services, also innovations to meet the quantity and quality of care target, especially for East Nusa Tenggara.

Kata Kunci : pola, kualitas, pelayanan, keluarga berencana,Pattern, quality, care, family planning, perception, acceptor,DIY,Nusa Tenggara Timur

  1. S1-2008-150551-Abstract.pdf  
  2. S1-2008-150551-Bibliography.pdf  
  3. S1-2008-150551-CTableofContent.pdf  
  4. S1-2008-150551-Title.pdf