Laporkan Masalah

Studi Komparasi Fenomena Gentrifikasi di Wilayah Inner City dan Peri-urban Kawasan Perkotaan Yogyakarta (Kasus Kelurahan Brontokusuman dan Kalurahan Condongcatur)

AISYAH AZKA NURUL FITRIYAH S., Prof. Dr. Sri Rum Giyarsih, S.Si., M.Si.

2025 | Skripsi | GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Gentrifikasi menjadi isu serius di kawasan perkotaan karena dapat menyebabkan pergeseran sosial-ekonomi dan mengancam eksistensi komunitas lokal, dengan proses yang bervariasi tergantung tipologi wilayahnya. Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY) dipilih sebagai lokasi studi karena tingginya urbanisasi dan ketimpangan ekonomi. Mengingat terbatasnya penelitian yang membandingkan tipologi inner city dan peri-urban di KPY, maka studi ini bertujuan untuk membandingkan proses, faktor penyebab, dan dampak fenomena gentrifikasi di Kelurahan Brontokusuman (inner city) dan Kalurahan Condongcatur (peri-urban). Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif  dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Data yang dikumpulkan dari masing-masing lokasi penelitian diolah serta disajikan melalui teknik pengolahan data dan penyajian data kualitatif yang mencakup analisis tematik dan analisis deskriptif. Kedua hasil penelitian dari lokasi yang berbeda dibandingkan melalui teknik studi komparasi. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa Condongcatur mengalami gentrifikasi yang lebih masif dan terstruktur, didorong oleh ekspansi pendidikan (studentifikasi) yang mengubah lahan pertanian menjadi kawasan komersial dan hunian. Sebaliknya, gentrifikasi di Brontokusuman lebih terfragmentasi dan dipicu oleh pariwisata (tourism-led gentrification) yang mengubah hunian di koridor wisata menjadi hotel. Secara sosial, warga lokal Condongcatur lebih adaptif secara ekonomi, sementara warga Brontokusuman mengalami eksklusi yang lebih kentara. Transformasi ekonomi di Condongcatur didominasi investasi skala besar, sedangkan di Brontokusuman lebih bersifat organik dan berbasis usaha kecil.

Gentrification poses a serious issue in urban areas as it can cause socio-economic shifts and threaten local communities, with processes that vary by regional typology. The Yogyakarta Urban Area (KPY) was selected for this study due to its high rates of urbanization and economic inequality. As research comparing inner city and peri-urban typologies in KPY is limited, this study aims to compare the processes, causal factors, and impacts of gentrification in Brontokusuman Sub-district (inner city) and Condongcatur Village (peri-urban). To achieve these objectives, this research uses a qualitative approach with data collected through in-depth interviews, observation, and document studies. Data from each research location is processed and presented using qualitative data processing and presentation techniques, which include thematic analysis and descriptive analysis. The results from both research locations are then compared using a comparative study technique. The findings reveal that gentrification in Condongcatur is more massive and structured, driven by educational expansion (studentification) that has transformed agricultural land into commercial and residential areas. In contrast, gentrification in Brontokusuman is more fragmented and triggered by tourism (tourism-led gentrification), converting residences along tourist corridors into hotels. Socially, Condongcatur's local residents are more economically adaptive, while Brontokusuman's residents face more evident social exclusion. The economic transformation in Condongcatur is dominated by large-scale investment, whereas in Brontokusuman, it is more organic and based on small-scale enterprises.

Kata Kunci : Gentrifikasi, Inner City, Peri-urban, Kawasan Perkotaan Yogyakarta, Brontokusuman, Condongcatur

  1. S1-2025-456502-abstract.pdf  
  2. S1-2025-456502-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-456502-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-456502-title.pdf