Alur Simbolik, Nilai, dan Makna Ruang sebagai Modal Spasial Unjuk Rasa di Yogyakarta
Isnanisa Rachmah Prasmita, Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D., IPU.
2025 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
Ruang unjuk rasa merupakan medium ruang publik yang mampu mengakomodasi kebebasan berpendapat sebagai salah satu pilar utama dalam negara demokrasi. Yogyakarta sebagai salah satu pusat aktivisme di Indonesia tidak mendesain secara khusus ruang unjuk rasa sehingga ruang terbentuk secara incremental. Dalam pelaksanaannya, terjadi fenomena kecenderungan penggunaan ruang-ruang tertentu pada praktik unjuk rasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipologi ruang unjuk rasa berdasarkan faktor penggunaan dan karakteristik ruang yang digunakan. Identifikasi tersebut menjadi dasar untuk perumusan dinamika kecenderungan ruang yang mampu mengakomodasi unjuk rasa di Yogyakarta. Menggunakan metode induktif kualitatif fenomenologi, penelitian ini menganalisis data melalui wawancara mendalam dengan aktor aksi unjuk rasa dan pemahaman melalui observasi terhadap lokus amatan, yakni Tugu Yogyakarta, Pertigaan Gejayan, Koridor Malioboro, Titik Nol Kilometer, dan Kompleks Kantor Kepatihan. Data yang menggambarkan dinamika kontekstual tersebut direduksi dan diperoleh tipologi ruang unjuk rasa, yakni 1) Ruang Simbolik-Representatif 2) Ruang Konsolidasi 3) Ruang Keterhubungan 4) Ruang Simbolik-Kekuasaan 5) Ruang Formal-Otoritatif. Dalam penelitian ini juga diperoleh teori berdasarkan konsepsi ruang yang terbentuk berupa Alur Simbolik dan Nilai Ruang sebagai Modal Spasial Unjuk Rasa. Teori ini menjelaskan nilai yang dimiliki ruang menjadi modal spasial yang digunakan para aktor untuk memobilisasi tujuan aksi. Modal spasial ini juga menjadi jawaban atas kecenderungan penggunaan ruang unjuk rasa yang mana ruang-ruang tertentu memiliki nilai yang relevan dalam mengakomodasi unjuk rasa. Kebijakan dan perbaikan desain ruang publik diharapkan mampu memperbaiki kualitas modal spasial agar mampu mengakomodasi unjuk rasa secara efektif sekaligus mempertahankan esensi demokrasi secara konkret.
Protest space is a form of public space that accommodates freedom of expression, which is a fundamental pillar in a democratic state. Yogyakarta, as one of the centers of activism in Indonesia, does not specifically design protest spaces, resulting in their formation through incremental processes. In practice, there is a phenomenon of tendencies in the use of certain spaces in protest practices. This study aims to identify typologies of protest spaces based on usage factors and spatial characteristics of the spaces used. This identification serves as the basis for understanding the dynamics behind the recurring use of certain spaces that can accommodate protest actions in Yogyakarta. Using an inductive-qualitative phenomenological approach, this study analyzes data gathered through in-depth interviews with protest actors and observations at selected locations: Tugu Yogyakarta, Pertigaan Gejayan, Koridor Malioboro, Titik Nol Kilometer, and Kompleks Kantor Kepatihan. The contextual dynamics of these spaces are reduced and synthesized into five typologies of protest spaces: (1) Symbolic-Representative Space, (2) Consolidation Space, (3) Connectivity Space, (4) Symbolic-Power Space, and (5) Formal Authoritative Space. This research also produced a theory based on the conception of space formed as Symbolic Flow and Space Value as Spatial Capital for Protests. This theory explains that the value possessed by space becomes spatial capital used by actors to mobilize action objectives. This spatial capital also provides an answer to the tendency of protest space usage where certain spaces have relevant values in accommodating protests. Policies and improvements in public space design are expected to enhance the quality of spatial capital, enabling protest to be facilitated effectively while preserving the substantive essence of democracy.
Kata Kunci : ruang unjuk rasa, modal spasial, tipologi, kecenderungan, penggunaan ruang