ANALISIS DETERMINAN UNDERPRICING SAHAM PADA SAAT INITIAL PUBLIC OFFERING (IPO) DI PERUSAHAAN SEKTOR MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2020–2024
Reynardi Risyad Raytama, Marwan Asri, Prof., M.B.A., Ph.D
2025 | Tesis | S2 MANAJEMEN (MM) JAKARTA
Fenomena underpricing dalam penawaran umum perdana (IPO) terjadi ketika
harga saham perdana lebih rendah dibandingkan harga penutupan hari pertama,
memberikan keuntungan awal bagi investor namun merugikan emiten akibat hilangnya
potensi dana (money left on the table). Di pasar modal Indonesia, underpricing cukup
tinggi dengan rata-rata initial return sekitar 23–30%, yang mencerminkan adanya
asimetri informasi antara emiten dan investor. Penelitian ini menganalisis faktor-faktor
yang memengaruhi underpricing pada 44 perusahaan sektor manufaktur yang IPO di
Bursa Efek Indonesia periode 2020–2024, menggunakan variabel independen, yaitu:
ROE, DER, PER, ukuran dan umur perusahaan, serta reputasi underwriter. Metode
analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa ROE, PER, dan ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap
underpricing, sedangkan DER berpengaruh positif signifikan. Sementara itu, umur
perusahaan dan reputasi underwriter tidak memiliki pengaruh signifikan. Model
regresi yang digunakan terbukti signifikan dengan nilai adjusted R² sebesar 56%,
menunjukkan bahwa sebagian besar variasi underpricing dapat dijelaskan oleh
variabel-variabel tersebut. Temuan ini mendukung signaling theory, di mana
perusahaan yang kuat secara fundamental dan berukuran besar cenderung mengurangi
asimetri informasi, sehingga underpricing lebih rendah. Sebaliknya, tingkat leverage
yang tinggi meningkatkan persepsi risiko dan mendorong underpricing. Secara praktis,
hasil ini menyarankan agar perusahaan yang akan IPO meningkatkan kinerja
keuangannya, dan bagi investor maupun regulator, faktor-faktor tersebut dapat
dijadikan acuan dalam mengevaluasi kualitas IPO.
The phenomenon of underpricing in initial public offerings (IPOs) occurs when
the offering price is lower than the closing price on the first trading day, resulting in
positive initial returns for early investors but causing issuers to lose potential capital
(money left on the table). In the Indonesian capital market, underpricing is prevalent,
with an average initial return of around 23–30%, reflecting information asymmetry
between issuers and investors. This study analyzes the determinants of IPO
underpricing among 44 manufacturing companies listed on the Indonesia Stock
Exchange between 2020 and 2024. Independent variables include profitability (return
on equity/ROE), solvency (debt to equity ratio/DER), valuation (price earnings
ratio/PER), firm size, firm age, and underwriter reputation. Secondary data were
analyzed using multiple linear regression. The results show that ROE, PER, and firm
size have a significant negative effect on underpricing, while DER has a significant
positive effect. Meanwhile, firm age and underwriter reputation do not have a
significant impact. The regression model is statistically significant, with an adjusted R²
of approximately 56%, indicating that the variables explain a substantial portion of the
variation in IPO underpricing. These findings are consistent with signaling theory,
suggesting that firms with strong fundamentals and larger size signal lower risk and
reduce information asymmetry, thus lowering underpricing. In contrast, high leverage
increases perceived investor risk and leads to higher underpricing. Practically, the
study implies that firms preparing for IPOs should strengthen financial performance,
and both investors and regulators should consider these factors when evaluating IPO
quality.
Kata Kunci : IPO, Underpricing, ROE, DER, PER, Ukuran Perusahaan, Umur Perusahaan, Reputasi Underwriter.