Laporkan Masalah

Melawan dari Bawah Blencong: Peran Tokoh Panakawan sebagai Simbol Suara Wong Cilik (Analisis Wacana Kritis Lakon “Semar Mbangun Kahyangan” Pakeliran Seno Nugroho)

PRASOJO PRIHANTONO, Nur Azizah, S.I.P., M.Sc.

2025 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN

Sebagai suatu medium budaya, pertunjukan wayang di Indonesia secara historis tidak pernah menjadi ruang yang netral. Sebaliknya, pertunjukan wayang selalu berfungsi sebagai arena bagi berbagai kepentingan politik. Di era digital, panggung wayang terus bertransformasi menjadi ruang diskursus alternatif  yang dimanfaatkan oleh dalang kontemporer, mendiang Seno Nugroho. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pertunjukan wayang oleh Seno Nugroho digunakan sebagai media perlawanan tanpa kekerasan oleh kelas bawah terhadap aktor yang berkuasa. Melalui kerangka Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough, penelitian ini membedah lakon “Semar Mbangun Kahyangan” (pementasan Oktober 2019). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sang dalang secara strategis mereposisi figur panakawan, terutama tokoh Bagong, sebagai pengejawantahan suara wong cilik untuk menyampaikan hidden transcript. Temuan ini juga mengungkap bahwa kemandirian ekonomi yang diraih melalui ekosistem digital menjadi modal politik bagi sang dalang yang memberikannya kebebasan untuk menyuarakan kritik terhadap gejolak politik yang sedang terjadi pada tahun 2019. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Seno Nugroho telah berhasil mentransformasi pakeliran menjadi ruang diskursus alternatif yang efektif untuk mengartikulasikan perlawanan wong cilik  di era kontemporer.

As a cultural medium, the wayang (puppet) performance in Indonesia has historically never been a neutral space. Instead, it has consistently functioned as an arena for various political interests. In the digital era, the wayang stage continues to transform into an alternative discursive space, utilized by contemporary dhalang (puppet masters), the late Seno Nugroho. This research aims to analyze how Seno Nugroho’s performances are used as a medium of non-violent resistance by the wong cilik (lower class) against the ruling elite. Through the framework of Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis, this study dissects the lakon (story) “Semar Mbangun Kahyangan” (performances in October 2019). The results indicate that dhalang strategically repositions the panakawan (clown-servant) figures, especially the character Bagong, as an embodiment of the voice of the common people to convey the hidden transcript. This study also reveals that the economic independence achieved through his digital ecosystem becomes political capital, granting him the freedom to voice critiques related to the political turmoil of 2019. This research concludes that Seno Nugroho successfully transformed the pakeliran (puppet performance) into an effective alternative discursive space for articulating the resistance of the wong cilik in the contemporary era.

Kata Kunci : Wayang Kulit, Seno Nugroho, Hidden Transcript, Analisis Wacana Kritis, Perlawanan Simbolik

  1. S1-2025-455880-abstract.pdf  
  2. S1-2025-455880-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-455880-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-455880-title.pdf