Status Perkawinan sebagai Moderator pada Peran Religiositas terhadap Tendensi Depresi: Studi pada Pekerja Perempuan berdasarkan Survei Nasional Indonesia
Claudia Zulfiana Putri, Dr. rer. pol. Bhina Patria, S.Psi., M.A.
2025 | Tesis | S2 Magister Profesi Psikologi
Depresi telah menjadi masalah kesehatan publik yang signifikan pada berbagai kelompok demografi, termasuk pekerja perempuan. Pekerja perempuan di Indonesia menghadapi kerentanan depresi lebih besar dibandingkan laki-laki. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah religiositas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah kuat/lemahnya hubungan religiositas dan depresi akan berbeda antar status perkawinan yang berbeda. Hipotesis penelitian ini adalah status perkawinan dapat memoderasi kuat/lemahnya peran religiositas terhadap kecenderungan depresi. Penelitian ini menggunakan data sekunder Indonesia Family Life Survey gelombang 5 (IFLS-5) pada tahun 2014 hingga 2015, dengan melibatkan Skala Depresi, Center for Epidemiological Studies Depression 10 Scale (CES-D 10). Partisipan penelitian ini adalah 4778 pekerja perempuan Indonesia berusia 25-57 tahun yang bekerja secara penuh waktu. Analisis moderator dilakukan dengan PROCESS 3.5 melalui SPSS 22.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status perkawinan tidak memoderasi peran religiositas terhadap kecenderungan depresi pada pekerja perempuan. Alih-alih, religiositas dan status perkawinan ditemukan bersama-sama menjadi prediktor depresi. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan metode intervensi psikologis berbasis nilai religiositas, serta memberikan implikasi pentingnya pengembangan kebijakan kesehatan mental berbasis gender pada penanganan depresi di Indonesia.
Depression has emerged as a significant public health issue across various demographic groups, including female workers. Female workers in Indonesia are facing greater vulnerability to depression compared to male workers. One contributing factor is the level of religiosity. This study aims to determine whether the strength of the relationship between religiosity and depression varies with different marital statuses. The hypothesis posited is that marital status may moderate the influence of religiosity on the propensity for depression. This research utilized secondary data from the Indonesia Family Life Survey wave 5 (IFLS-5) conducted between 2014 and 2015, employing the Depression Scale, specifically the Center for Epidemiological Studies Depression 10 Scale (CES-D 10). The sample comprised 4,778 full-time Indonesian female workers aged 25-57. Moderator analysis was performed using PROCESS 3.5 via SPSS 22.0. Results indicated that marital status did not moderate the relationship between religiosity and the tendency for depression among female workers. Rather, religiosity and marital status were identified as joint predictors of depression. This study provides practical implications for the importance of developing psychological intervention methods based on values or religiosity and gender, as well as highlights the need to design gender-based mental health policies in addressing depression in Indonesia.
Kata Kunci : depresi, religiositas, status perkawinan, status pernikahan