Laporkan Masalah

Analisis Strategi Dan Dampak Implementasi Kebijakan Single Presence Policy Pada PT BPR Gunung Slamet Group

Nalurita Kurniasih Purbo, Prof. Wakhid Slamet Ciptono, MBA., MPM., Ph.D.,

2025 | Tesis | S2 Manajemen

Adanya regulasi OJK terkait ketentuan Single Presence Policy (SPP) yang tertuang dalam POJK No. 7 Tahun 2024 mewajibkan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang berada dalam satu kelompok kepemilikan untuk melakukan konsolidasi melalui skema penggabungan atau peleburan. Kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat struktur, efisiensi, dan ketahanan industri BPR di Indonesia. PT BPR Gunung Slamet Group merupakan salah satu BPR yang masuk kualifikasi dan diwajibkan melakukan merger.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif naratif-interpretatif yang didukung oleh deskriptif kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan metode CAMEL dan RGEC untuk menilai kinerja keuangan dan tingkat kesehatan bank sebelum dan sesudah merger. Sementara itu, pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dengan manajemen guna menggali tantangan, peluang, dan strategi dalam proses serta pasca-merger.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa merger memberikan proyeksi positif terhadap peningkatan total aset, efisiensi operasional,kinerja keuangan yang lebih sehat. Namun, merger juga menghadirkan tantangan, seperti tingginya rasio LDR, NIM, kebutuhan peningkatan kualitas SDM, serta pentingnya harmonisasi budaya organisasi dan penguatan manajemen risiko. Berdasarkan analisis SWOT, strategi utama yang direkomendasikan mencakup perbaikan struktur organisasi, digitalisasi layanan, ekspansi ke segmen UMKM, diversifikasi produk, serta penguatan tata kelola.

The Financial Services Authority (OJK) regulation on the Single Presence Policy (SPP), as stipulated in POJK No. 7 of 2024, requires Rural Banks (BPR) under the same ownership group to undergo consolidation through merger or amalgamation schemes. This policy aims to strengthen the structure, efficiency, and resilience of the BPR industry in Indonesia. PT BPR Gunung Slamet Group is one of the entities that falls under this regulation and is required to proceed with a merger.

This study employs a narrative-interpretative qualitative approach supported by descriptive quantitative data. Quantitative analysis is conducted using the CAMEL and RGEC methods to assess the financial performance and soundness of the bank before and after the merger. Meanwhile, qualitative analysis is carried out through semi-structured interviews with management to explore challenges, opportunities, and strategies that can be applied during and after the merger process.

The results indicate that the merger offers positive projections in terms of asset growth, operational efficiency, and improved financial soundness. However, several challenges remain, such as a high LDR, NIM, the need to improve human resource quality, and the importance of organizational culture alignment and risk management enhancement. Based on the SWOT analysis, key recommended strategies include organizational restructuring, service digitalization, expansion into the MSME segment, product diversification, and strengthening of corporate governance.

Kata Kunci : CAMEL, Merger, POJK No. 7 Tahun 2024, RGEC, BPR, Single Presence Policy, Strategi.

  1. S2-2025-527168-abstract.pdf  
  2. S2-2025-527168-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-527168-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-527168-title.pdf