Laporkan Masalah

Analisis Komparatif Kompleksitas Visual Fasad Masjid Raya Sumatera Barat Dan Masjid Asasi: Kajian Dimensi Fraktal Arsitektur Modern Dan Vernakular

Sultan Natanegara, Mario Lodeweik Lionar, S.T., M.Sc., Ph.D

2025 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur

Fasad bukan hanya berfungsi sebagai pelindung bangunan, tetapi juga sebagai identitas visual yang memperkenalkan bangunan kepada masyarakat. Dalam hal ini, fasad Masjid Raya Sumatera Barat memiliki dua peran utama, sebagai representasi arsitektur yang menggabungkan elemen tradisional Minangkabau dengan desain modern, serta sebagai simbol keagamaan yang mencerminkan nilai-nilai spiritual. Penelitian ini memiliki tujuan untuk melakukan pengukuran dan membandingkan kompleksitas visual fasad Masjid Raya Sumatera Barat dengan Masjid Asasi sebagai contoh arsitektur masjid tradisional, dengan memperhatikan kontribusi proporsi massa bangunan, struktur, elemen non-material, tekstur ornamen, dan ukiran khas adat Minang yang menjadi elemen visual pada kedua masjid. Metode yang digunakan adalah analisis dimensi fraktal, yang dibandingkan dengan objek dan kriteria yang sama untuk membuat perbandingan lebih efektif. Berdasarkan hasil analisis dimensi fraktal terhadap Masjid Raya Sumatera Barat dan Masjid Asasi, meskipun dibangun dalam periode yang berbeda, Masjid Asasi sebagai warisan arsitektur lokal dan Masjid Raya sebagai representasi arsitektur regionalisme modern, keduanya tetap menampilkan gaya khas Minangkabau dengan menampilkan elemen lokal seperti atap gonjong serta ukiran dan ornamen tradisional menjadi ciri yang menghubungkan keduanya. Berdasarkan analisis dimensi fraktal, kedua fasad masjid menunjukkan tingkat kompleksitas visual yang tinggi, terutama dipengaruhi oleh kepadatan dan repetisi elemen ukiran maupun ornamen khas Minangkabau, baik dalam bentuk asli pada Masjid Asasi maupun versi modifikasinya pada Masjid Raya. Dengan demikian, meskipun kedua masjid dibangun dalam konteks waktu dan perkembangan teknologi yang berbeda, baik Masjid Asasi maupun Masjid Raya tetap menunjukkan kesinambungan nilai budaya lokal melalui pendekatan visual yang khas. Keduanya merepresentasikan identitas arsitektur Minangkabau secara konsisten, dengan menghadirkan ekspresi fasad yang kompleks, serta mencerminkan warisan estetika lokal yang diadaptasi sesuai dengan zamannya.

The facade not only functions as a building protector but also as a visual identity that introduces the building to the public. In this case, the facade of the Raya Mosque of West Sumatra has two roles as an architectural representation that combines traditional Minangkabau elements with modern design, as well as a religious symbol that reflects spiritual values. This study aims to measure and compare the visual complexity of the facade of the Raya Mosque of West Sumatra with the Asasi Mosque as an example of traditional mosque architecture by paying attention to the contribution of the proportion of building mass, structure, non-material elements, ornamental textures, and typical Minang carvings that are visual elements in both mosques. The method used is fractal dimension analysis, which compares the same objects and criteria to make the comparison more effective. Based on the results of the fractal dimension analysis of the Raya Mosque of West Sumatra and the Asasi Mosque, although built in different periods, the Asasi Mosque as a local architectural heritage and the Raya Mosque as a representation of modern regionailsm architecture, both still display a typical Minangkabau style by displaying local elements such as gonjong roofs and traditional carvings and ornaments as characteristics that connect the two. Based on fractal dimension analysis, both mosque facades exhibit a high level of visual complexity, primarily influenced by the density and repetition of typical Minangkabau carvings and ornaments, both in their original form at the Asasi Mosque and their modified versions at the Raya Mosque. Thus, mosques built in different time and technological contexts demonstrated the continuity of local cultural values through their distinctive visual approaches. Both consistently represent the Minangkabau architectural identity, presenting complex facade expressions and reflecting local aesthetic heritage adapted to their times.

Kata Kunci : Analisis Dimensi Fraktal, Fasad, Kompleksitas Visual, Masjid Raya Sumatera Barat, Masjid Asasi

  1. S2-2025-499377-abstract.pdf  
  2. S2-2025-499377-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-499377-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-499377-title.pdf