Laporkan Masalah

EVALUASI KEPATUHAN PENGGUNAAN ELEKTRONIK CLINICAL PATHWAY PRIORITAS NASIONAL DI RS.PERSAHABATAN

Falah Kartikawati, DR. dr. Guardian Yoki Sanjaya, M.Hlth.Info ; dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH.,DrPH

2025 | Tesis | MAGISTER KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN

Latar Belakang : Clinical Pathway (CP) merupakan instrumen penting dalam meningkatkan mutu pelayanan dan menurunkan variasi praktik klinis. Di Indonesia, CP untuk kasus prioritas nasional telah ditetapkan sebagai bagian dari Indikator Nasional Mutu (INM). Namun, kepatuhan penggunaannya di rumah sakit masih rendah. Seiring dengan kewajiban digitalisasi rekam medis, CP juga ditransformasikan menjadi electronic Clinical Pathway (e-CP). Belum banyak diketahui sejauh mana implementasi e-CP mampu meningkatkan kepatuhan tenaga kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan tingkat kepatuhan terhadap penggunaan CP sebelum dan sesudah implementasi e-CP, serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan tersebut berdasarkan pendekatan Technology Acceptance Model (TAM). Metode : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan quasi-experiment tanpa kelompok kontrol. Analisis dilakukan menggunakan uji Wilcoxon untuk membandingkan kepatuhan sebelum dan sesudah e-CP, serta uji Spearman untuk menganalisis korelasi antara variabel PU, PEOU, sikap, dukungan manajemen, dan pelatihan terhadap kepatuhan penggunaan e-CP. Hasil : Penelitian ini mengevaluasi pengaruh implementasi e-Clinical Pathway (e-CP) terhadap kepatuhan dan faktor-faktor yang memengaruhi sikap pengguna. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada lima diagnosis utama (p>0,05). Analisis korelasi Spearman menunjukkan hubungan yang sangat lemah dan tidak signifikan antara sikap terhadap penggunaan e-CP dengan perceived ease of use (p=0,509), perceived usefulness (p=0,861), dukungan manajemen (p=0,331), serta sosialisasi/pelatihan (p=0,227). Dengan demikian, baik implementasi e-CP maupun persepsi pengguna belum menunjukkan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kepatuhan maupun sikap penggunaan. Pembahasan : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara tingkat kepatuhan sebelum dan sesudah penerapan e-CP. Analisis berdasarkan kerangka Technology Acceptance Model (TAM) juga menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan antara perceived usefulness (PU), perceived ease of use (PEOU), dukungan manajemen, dan pelatihan dengan sikap tenaga kesehatan terhadap penggunaan e-CP. Temuan ini mengindikasikan bahwa adopsi sistem digital belum secara otomatis meningkatkan kepatuhan dalam praktik klinis. Hambatan yang diidentifikasi meliputi isi CP yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi klinis nyata, lemahnya kebijakan internal yang mengatur kewajiban penggunaan, serta minimnya pelatihan dan umpan balik terhadap tenaga kesehatan. Ketidaksesuaian antara sistem dan kebutuhan pengguna, ditambah kurangnya dukungan organisasi yang berkelanjutan, menjadi faktor penting yang menghambat perubahan perilaku. Oleh karena itu, transformasi digital perlu disertai dengan pendekatan sistemik, pelibatan aktif pengguna, integrasi dalam alur kerja, serta penguatan kebijakan dan sistem monitoring untuk mendorong peningkatan kepatuhan terhadap penggunaan e-CP secara bermakna. Kesimpulan : Implementasi e-CP di RS Persahabatan belum secara signifikan meningkatkan kepatuhan penggunaan Clinical Pathway. Beberapa diagnosis justru menunjukkan penurunan kepatuhan. Hambatan utama meliputi isi CP yang kurang relevan, lemahnya kebijakan internal, rendahnya kualitas pelatihan, serta budaya kerja yang belum siap menerima perubahan sistem.


Background: Clinical Pathway (CP) is an important tool to improve the quality of healthcare services and reduce clinical practice variation. In Indonesia, CPs for national priority cases have been designated as part of the National Quality Indicators (INM). However, compliance with CP usage in hospitals remains low. In line with the mandatory digitalization of medical records, CPs have been transformed into electronic Clinical Pathways (e-CP). The extent to which e-CP implementation improves healthcare worker compliance is not yet well understood.

Objective: This study aims to evaluate changes in compliance with CP use before and after the implementation of e-CP and to analyze the influencing factors using the Technology Acceptance Model (TAM) approach.

Methods: This research employed a quantitative design with a quasi-experimental approach without a control group. Wilcoxon tests were used to compare compliance before and after e-CP implementation, while Spearman tests analyzed correlations between perceived usefulness (PU), perceived ease of use (PEOU), attitude, management support, and training on e-CP compliance.

Results: The study found no statistically significant differences in compliance across five main diagnoses (p>0.05). Spearman’s correlation showed very weak and non-significant relationships between attitudes toward e-CP use and perceived ease of use (p=0.509), perceived usefulness (p=0.861), management support (p=0.331), and training/socialization (p=0.227). Thus, neither the implementation of e-CP nor user perceptions showed significant influence on improving compliance or user attitudes.

Discussion: There was no significant statistical difference in compliance before and after e-CP implementation. The TAM-based analysis also showed no significant correlations between PU, PEOU, management support, and training with healthcare workers' attitudes toward e-CP use. These findings suggest that digital system adoption alone does not automatically enhance clinical practice compliance. Identified barriers include CP content not fully aligned with real clinical conditions, weak internal policies mandating usage, and limited training and feedback. Misalignment between the system and user needs, combined with lack of sustained organizational support, hinders behavioral change. Therefore, digital transformation must be accompanied by systemic approaches, active user involvement, workflow integration, and strengthened policies and monitoring systems to meaningfully increase compliance with e-CP use.

Conclusion: The implementation of e-CP at RS Persahabatan has not significantly improved CP usage compliance. Some diagnoses even showed a decline. Key barriers include irrelevant CP content, weak internal regulations, low training quality, and an organizational culture unprepared for systemic change.

Kata Kunci : Kata Kunci: Electronik clinical pathway, faktor kepatuhan, teknologi informasi kesehatan, Technology Acceptance Model, indikator mutu nasional

  1. S2-2025-499048-abstract.pdf  
  2. S2-2025-499048-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-499048-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-499048-title.pdf