Pengalaman Compassion Fatigue yang Dialami oleh Psikolog Klinis: Sebuah Studi Fenomenologi
Novia Kartikasari, Dr. Nida Ul Hasanat, M.Si., Psikolog
2025 | Tesis | S2 Psikologi
Profesi psikolog klinis menuntut keterlibatan emosional yang
tinggi saat berinteraksi dengan klien yang berpotensi menimbulkan tekanan
emosional. Tantangan seperti beban kerja, keterbatasan fasilitas, dan dukungan
institusional yang terbatas memperbesar risiko munculnya compassion fatigue, yaitu kelelahan emosional pada pekerja di
bidang profesi penolong seperti psikolog klinis. Tujuan penelitian ini adalah
mengeksplorasi pengalaman dan pemaknaan compassion
fatigue pada psikolog klinis di Indonesia. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif fenomenologi interpretatif dengan teknik analisis data Interpretative Phenomenology Analysis (IPA). Penelitian ini melibatkan empat orang
partisipan. Terdapat lima tema utama yang teridentifikasi: (1) makna menjadi
psikolog klinis, (2) beban kepedulian yang melebar, (3) dihadapkan pada
bayangan diri, (4) upaya bertahan di antara beban pekerjaan dan (5) bertumbuh
sambil menyembuhkan. Lebih lanjut, hasil menunjukkan pengalaman compassion fatigue psikolog klinis
merupakan “harga yang harus dibayar” saat seseorang berempati dan peduli, yang terjadi
pada dua tingkatan: tingkat individu, berupa kelelahan emosional saat
berinteraksi dengan klien, dan tingkat sistemik, berupa tekanan akibat tuntutan
organisasi dan norma kolektivistik. Meski demikian, partisipan tetap merasakan compassion satisfaction karena pekerjaan
tersebut memberi makna melalui keterhubungan dengan orang lain. Implikasi
temuan ini menekankan pentingnya refleksi diri dan dukungan antar sejawat,
perlunya dukungan pemerintah, institusi, asosiasi profesi, dan pendidikan
tinggi untuk memperkuat kesejahteraan psikolog klinis karena kerentanan mereka
mengalami compassion fatigue, serta
meningkatkan ketahanan profesional dan kesiapan menghadapi tantangan sistemik
dalam menjalankan praktik layanan kesehatan mental di Indonesia.
The profession of clinical psychologist demands high levels
of emotional involvement when interacting with clients, which may lead to
emotional fatigue. Challenges such as workload, limited facilities, and
insufficient institutional support further increase the risk of compassion
fatigue, an emotional exhaustion commonly experienced by helping professionals,
including clinical psychologists. The aim of this study is to explore the lived
experiences and meanings of compassion fatigue among clinical psychologists in
Indonesia. This study employed a qualitative interpretative phenomenological
approach, using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) as the data
analysis method. Four participants were involved in this research. Five key
themes were identified: (1) the meaning of being a clinical psychologist, (2)
extended burden care, (3) facing the shadow within, (4) enduring amidst heavy
workload, and (5) growing while healing. The findings further suggest that
clinical psychologists experience compassion fatigue as a “cost of caring,”
which manifests at two levels: the individual level, marked by emotional
exhaustion during client interactions, and the systemic level, shaped by
organizational demands and collectivistic norms. Nevertheless, participants
also reported compassion satisfaction, as their work was perceived as
meaningful through connections with others. These findings underscore the
importance of self-reflection and peer support among clinical psychologists,
alongside the role of government, institutions, professional associations, and
higher education in strengthening psychologists’ well-being, enhancing
professional resilience, and preparing them to face systemic challenges in
delivering mental health services in Indonesia.
Kata Kunci : compassion fatigue, psikolog klinis, fenomenologi