"Kami Bagian dari Masyarakat": Dinamika Relasi Sosial Pengelola Restoran dengan Masyarakat Lokal di Desa Kembang, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo
Niken Ayu Putri Agustin, Drs. Pande Made Kutanegara, M.Si., Ph.D.
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Desa Kembang, Kapanewon Nanggulan kini menjadi destinasi baru wisata kuliner di Kulon Progo. Hal ini terjadi seiring dengan menjamurnya restoran yang menawarkan dan menjual pemandangan area persawahan untuk menarik minat pengunjung. Eksistensi restoran di perdesaan tentu bersinggungan langsung dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya, baik petani maupun penduduk yang bertempat tinggal di sekitarnya. Penulisan berusaha mencari jawaban tentang bagaimana relasi sosial antara pengelola restoran dengan masyarakat sekitarnya. Untuk membahas fenomena tersebut, studi ini menggunakan Relational Models Theory (RMT) dari Alan Fiske, sehingga analisisnya menjadi lebih tajam. Penulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi literatur. Hasil penulisan ini mengungkapkan bahwa restoran dan masyarakat lokal menjalin hubungan yang harmonis. Relasi keduanya didominasi oleh pola Communal Sharing (CS), meskipun tiga jenis pola relasi lain juga dapat diidentifikasi di sini. Ini menandakan adanya kesadaran kolektif dan solidaritas yang kuat antara restoran dan masyarakat. Restoran tidak hanya berorientasi profit, tetapi juga memerhatikan kehidupan sosial-budaya lokal. Kehadiran restoran yang awalnya kurang didukung oleh masyarakat lokal pun kemudian diterima dengan baik karena manfaat yang diperoleh masyarakat. Pada akhirnya, penulisan ini menegaskan bahwa penting bagi restoran untuk melibatkan masyarakat sekaligus terlibat dalam aktivitas kemasyarakatan secara konsisten. Selain itu, kontribusi restoran dalam pelestarian lingkungan dan nilai-nilai lokal juga diperlukan guna memperkuat dukungan masyarakat. Dengan demikian, diharapkan bisnis restoran di Kembang akan berkelanjutan dan wisata kuliner di desa ini dapat semakin berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi lokal.
Kembang Village, Kapanewon Nanggulan, has now become a new culinary tourism destination in Kulon Progo. This has happened as restaurants offering views of rice fields to attract visitors have sprung up. The existence of restaurants in rural areas certainly has a direct impact on the lives of the surrounding community, both farmers and residents living nearby. The research aims to find answers about the social relationship between restaurant managers and the surrounding community. To discuss this phenomenon, this study uses Alan Fiske's Relational Models Theory (RMT), making the analysis more precise. This research uses a qualitative approach with data collection techniques in the form of in-depth interviews, field observations, and literature studies. The results of this study reveal that restaurants and local communities have a harmonious relationship. Their relationship is dominated by the Communal Sharing (CS) model, although three other models of relational models can also be identified here. This indicates a strong sense of collective awareness and solidarity between the restaurant and the community. The restaurant is not solely profit-oriented but also considers the local socio-cultural life. The restaurant, which was initially not supported by the local community, was eventually well-received due to the benefits it brought to the community. Ultimately, this study emphasizes the importance of restaurants involving the community while consistently participating in community activities. Additionally, the restaurant's contributions to environmental conservation and the preservation of local values are necessary to strengthen community support. As a result, it is hoped that the restaurant business in Kembang will be sustainable, and the culinary tourism in this village will have a significant impact on local economic growth.
Kata Kunci : Restoran, Masyarakat Lokal, Relasi Sosial, Wisata Kuliner