Dari Ritual ke Atraksi Wisata: Tari Sere Bissu di Kabupaten Pangkejene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan
Nur Azizah, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil.; Dr. Pande Made Kutanegara, M.Si.
2025 | Tesis | S2 Magister Kajian Pariwisata
Perkembangan
pariwisata budaya telah mendorong perubahan bentuk dan fungsi seni tradisional,
termasuk Tari Sere Bissu yang semula bersifat sakral dalam konteks ritual adat,
kini juga tampil sebagai atraksi wisata di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Perubahan
ini membawa dampak terhadap makna simbolis dan fungsi tarian, serta posisi
komunitas Bissu itu sendiri.
Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan unsur dalam Tari Sere Bissu,
menganalisis fungsinya dalam konteks pariwisata, serta mengkaji respons
komunitas Bissu terhadap perubahan tersebut. Data dikumpulkan melalui studi pustaka,
dokumentasi, observasi, dan wawancara mendalam, lalu dianalisis dengan analisis
data kualitatif model Spradley yang didalamnya mencakup analisis domain,
analisis taksonomi, analisis komponensial dan analisis tema budaya.
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perubahan Tari Sere Bissu mengalami perubahan seiring dengan
masuknya ke arena pertunjukan dan pariwisata. Unsur-unsur tarian mengalami
penyesuaian bentuk, makna, dan fungsi tari, bergantung pada aktor yang terlibat
(Bissu atau non-Bissu). Di ruang pertunjukan, muncul aktor baru seperti seniman
dan pemerintah yang memegang peran penting dalam pengemasan dan penyajiannya,
sementara dalam konteks pariwisata, Tari Sere Bissu berfungsi sebagai atraksi,
sarana promosi, dan menciptakan pengalaman bagi wisatawan. Perubahan ini
mendapat respons beragam dari komunitas Bissu, sebagian memilih berpartisipasi
karena alasan ekonomi dan rasa bangga akan pengalaman panggung yang mereka
miliki, namun sebagian lainnya memilih tidak berpartisipasi karena adanya
konflik internal, memiliki pekerjaan lain dan masalah kesehatan.
The development of
cultural tourism has driven changes in the form and function of traditional
arts, including the Sere Bissu Dance, which was originally sacred within
traditional ritual contexts but now also serves as a tourist attraction in
Pangkajene dan Kepulauan Regency. This shift has affected the symbolic meaning
and function of the dance, as well as the position of the Bissu community
itself.
This study aims to
identify changes in the elements of the Sere Bissu Dance, analyze its functions
within the tourism context, and examine the Bissu community’s responses to
these changes. Data were collected through literature studies, documentation,
observation, and in-depth interviews, and analyzed using Spradley’s qualitative
analysis model, which includes domain analysis, taxonomic analysis,
componential analysis, and cultural theme analysis.
The findings
reveal that the Sere Bissu Dance has undergone significant changes following
its inclusion in the realms of performance and tourism. The dance elements have
been adapted in terms of form, meaning, and function, depending on the actors
involved (Bissu or non-Bissu). In performance spaces, new actors such as
artists and government officials play important roles in its packaging and
presentation. Within tourism, the Sere Bissu Dance functions as an attraction,
a promotional medium, and a means to create experiences for visitors. These
changes have sparked mixed responses from the Bissu community. Some choose to
participate for economic reasons and personal pride in their stage experience,
while others refrain due to internal conflicts, other occupations, or health
issues.
Kata Kunci : Perubahan Budaya, Arena Sosial, Respons Komunitas, Tari Sere Bissu