Perancangan Angkul-angkul Sebagai Sintesis Esensi dan Pendekatan Pascamodern
I Gusti Lanang Agung Nararya Pangjaya, Harry Kurniawan, ST., M.Sc., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur
Arsitektur angkul-angkul sebagai elemen gerbang tradisional Bali menghadapi tantangan adaptasi di tengah perkembangan desain modern yang sering kali mengubah bentuk, dimensi, material, dan teknik konstruksi, sehingga berpotensi melemahkan nilai filosofis dan identitas budayanya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi esensi dan elemen-elemen tektonika yang membentuk karakter khas angkul-angkul, serta merumuskan peluang inovasi desain yang mempertahankan nilai budaya sekaligus peka terhadap efisiensi, keterjangkauan, dan kemajuan teknologi material serta konstruksi.
Pendekatan penelitian dilakukan dalam dua tahap. Tahap pra-desain melibatkan studi literatur dan wawancara metode delphi dengan lima ahli yang mewakili akademisi, praktisi, pemerhati tata ruang dan budaya, serta undagi Bali. Hasilnya mengungkap bahwa esensi angkul-angkul terletak pada perpaduan identitas visual, nilai filosofis-spiritual, dan konstruksi berbasis tradisi, yang terkristalisasi dalam enam prinsip tektonika pokok: bentuk, dimensi, struktur, pola ruang, material, dan ornamentasi.
Tahap pasca-desain menguji desain ini melalui kuesioner visual kepada 264 akademisi arsitektur aktif di Bali. Hasilnya menunjukkan prioritas masyarakat dalam menilai desain kontemporer adalah identitas visual, nilai filosofis, dan konstruksi berbasis tradisi. Meskipun prinsip material diakui penting, pemahaman masyarakat cenderung terbatas pada material konvensional, berbeda dengan konsep adaptif desa-kala-patra yang ditemukan bersama ahli.
Penelitian ini menghasilkan parameter desain angkul-angkul kontemporer yang mengintegrasikan hierarki tektonika pokok dengan esensi angkul-angkul, sekaligus responsif terhadap tuntutan efisiensi, keterjangkauan, dan keberlanjutan. Temuan ini tidak hanya memperkaya kajian akademis mengenai pelestarian identitas arsitektur Bali, tetapi juga memberikan kerangka praktis bagi arsitek dalam menciptakan karya yang relevan, adaptif, dan bermakna di era modern.
The angkul-angkul architecture, as a traditional Balinese gate element, faces adaptation challenges amid the development of modern design, which often alters its form, dimensions, materials, and construction techniques potentially weakening its philosophical values and cultural identity. This research aims to identify the essence and tectonic elements that shape the distinctive character of angkul-angkul and to formulate opportunities for design innovation that preserve cultural values while remaining sensitive to efficiency, affordability, and advancements in material and construction technology.
The research approach is carried out in two stages. The pre-design stage involves a literature study and Delphi-method interviews with five experts representing academics, practitioners, spatial and cultural observers, and Balinese undagi (traditional builders). The findings reveal that the essence of angkul-angkul lies in the fusion of visual identity, philosophical-spiritual values, and tradition-based construction, crystallised into six key tectonic principles: form, dimension, structure, spatial pattern, material, and ornamentation.
The post-design stage tests these prototypes through a visual questionnaire distributed to 264 active architecture academics in Bali. The results show that the public’s priority in evaluating contemporary designs lies in visual identity, philosophical values, and tradition-based construction. While material principles are acknowledged as important, public understanding tends to be limited to conventional materials, differing from the adaptive desa-kala-patra concept identified in collaboration with the experts.
This research produces design parameters for contemporary angkul-angkul that integrate the hierarchy of key tectonic principles with the essence of the angkul-angkul, while also responding to the demands of efficiency, affordability, and sustainability. These findings not only enrich academic studies on preserving Balinese architectural identity but also provide a practical framework for architects in creating works that are relevant, adaptive, and meaningful in the modern era.
Kata Kunci : Angkul-angkul, tektonika arsitektur, identitas budaya, desain kontemporer, Bali