Laporkan Masalah

Paradoks dalam Narasi Kesalehan Perempuan pada Empat Novel Dakwah Indonesia: Sebuah Studi Komparatif dalam Perspektif Gender

Festi Himatu Karima, Prof. Dr. Wening Udasmoro, M. Hum. DEA; Dr. Cahyaningrum Dewojati, M. Hum.

2025 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora

Narasi kesalehan perempuan dalam ranah religi sampai saat ini masih menjadi hal yang sangat bias. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya tokoh perempuan yang diciptakan pengarang yang awalnya adalah untuk menjadikan perempuan sebagai subjek narasi. Penelitian ini mengkaji bentuk paradoks dalam narasi kesalehan perempuan pada empat novel dakwah Indonesia yaitu “Perempuan Berkalung Sorban”, “Ketika Cinta Bertasbih”, “Bidadari-bidadari Surga”, dan “Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea”. Ada tiga hal yang akan dianalisis dalam penelitian ini, yaitu pertama; bagaimana pengarang perempuan dan pengarang laki-laki pasca reformasi menarasikan aspek kesalehan perempuan dalam novel dakwah mereka; bagaimana narasi paradoks kesalehan subjek perempuan dalam novel dakwah yang sesuai dengan konstruksi kesalehan menurut perspektif pengarang laki-laki dan pengarang perempuan; dan ketiga mengapa pengarang perempuan dan pengarang laki-laki memiliki cara pandang yang berbeda dalam menarasikan perempuan. Ada beberapa teori yang digunakan untuk membantu membongkar paradoks dalam narasi kesalehan perempuan, yaitu teori kesalehan, subjek dalam narasi, feminisme kesalehan dan teori maskulinitas. Penggunaan beberapa tersebut bertujuan untuk membongkar kompleksitas paradoks dalam narasi kesalehan tersebut. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori kesalehan sebagai landasan analisisnya. Beberapa data berupa kata, klausa, dan kalimat dikumpulkan untuk selanjutnya dianalisis menggunakan Critical Discourse Analysis (Analisis Wacana Kritis) Norman Fairclough, untuk menganalisis struktur teks dan mengidentifikasi adanya relasi kuasa atau ideologi yang memperkuat atau menentang struktur kekuasaan yang ada pada teks. Hasilnya menunjukkan bahwa ada kesamaan dan perbedaa dalam menarasikan kesalehan perempuan. Kesamaannya, semua pengarang sepakat bahwa kesalehan berbasis agama dan harus sesuai dengan norma-norma ajaran agama. Perbedaanya adalah, pengarang laki-laki lebih atributif visual dalam menarasikan perempuan, sedangkan pengarang perempuan lebih predikatif non-visual. Narasi kesalehan juga mengerucut pada aspek-aspek kesalehan yang memunculkan paradoks dalam penarasian, dan tenyata tercipta karena adanya struktur gender dalam masyarakat yang dipengaruhi oleh proses material dan proses budaya yang kompleks.






Even now, the story of women piety in the religious world is heavily prejudiced. This is evident from the author's use of a high number of women characters, which were originally intended to make women the focus of the tale. This study looks at the use of paradox in the narrative of women piety in four Indonesian islamic novels: "Perempuan Berkalung Sorban," "Ketika Cinta Bertasbih," "Bidadari-bidadari Surga," and "Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea." This study will examine three aspects: first, how women and male authors after the Reformation began to narrate aspects of women piety in their islamic novels; second, how the paradoxical narrative of women subject piety in Islamic novels aligns with the construction of piety from the perspectives of male and women authors; and third, why women and male authors have different perspectives when narrating women. Several theories have been proposed to assist resolve the ambiguities in the story of women's piety, including piety theory, the subject in the narrative, piety feminism, and masculinity theory. The application of these ideas is to uncover the complexities of the paradoxes in the narrative of piety. This is a descriptive qualitative study with piety theory as the analytical framework. Some data in the form of words, clauses, and sentences were collected for later analysis using Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis, which analysed the text structure and identified the presence of power relations or ideologies that strengthened or opposed the existing power structure in the text. The findings indicate that there are commonalities and variances in narrating women's piety. The authors all agree that religious piety is based on religion and must adhere to religious teaching norms. The distinction is that male authors are more visually attributive when narrating women, whereas women authors are more non-visually predicative. The narrative of piety also focuses on features of piety that produce paradoxes in storytelling, and it turns out that this is caused by societal gender structure, which is influenced by complicated material and cultural processes.


Keywords: paradox, narration, women piety, piety feminism, Islamic literature

Kata Kunci : paradoks, narasi, kesalehan perempuan, feminisme kesalehan, sastra islam

  1. S3-2025-450380-abstract.pdf  
  2. S3-2025-450380-bibliography.pdf  
  3. S3-2025-450380-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2025-450380-title.pdf