PENGALAMAN BELAJAR MAHASISWA PREKLINIK DALAM PEMBELAJARAN PRINSIP ETIKA KEDOKTERAN DAN KESEHATAN DENGAN PASIEN SIMULASI
Anisa Naziha, Prof. dr. Titi Savitri Prihatiningsih, MA., M.Med.Ed., Ph.D; Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, MMedEd., PhD
2025 | Tesis | S2 Ilmu Pendidikan Kedokteran
Latar belakang: Untuk menjadi seorang dokter yang profesional, mahasiswa kedokteran harus menginternalisasi aspek etika. Memahami etika bukanlah hal yang mudah. Beberapa mahasiswa kepaniteraan klinik menemui kesulitan dalam menerapkan teori ke dalam praktik. Penggunaan pasien simulasi dalam pembelajaran etika di tingkat sarjana mendapat respon positif dengan beberapa tantangan. Oleh karena itu, perlu diketahui lebih lanjut tentang pengalaman belajar mahasiswa untuk menjadi pertimbangan dalam mengoptimalkan metode pembelajaran etika dengan pasien simulasi.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menganalisis refleksi tertulis dari 46 mahasiswa program studi Kedokteran FK Universitas Negeri Surabaya tahun kedua dan dilanjutkan dengan wawancara semi terstruktur hingga data tersaturasi.
Hasil: Mahasiswa mengaku mendapatkan pengalaman nyata menjadi dokter sesungguhnya dan perasaan memiliki pasien, mendapatkan paparan berbagai karakter pasien, berkesempatan menjelaskan tentang penyakit dan pasien menyetujui rekomendasinya. Mahasiswa juga mendapatkan pemahaman bahwa bahwa prinsip otonomi ternyata tidak mutlak dan ada peran dokter dalam membantu mengambil keputusan, dapat diaplikasikan pada hubungan sesama manusia secara umum, dan melakukan refleksi dan mendaoatkan umpan balik membangun, dan menyadari inkompetensi mereka dan terdorong untuk melakuan pembelajaran mandiri. Mahasiswa menghadapi tantangan berupa konteksnya yang masih berada pada tahun kedua dan belum memiliki cukup pengetahuan dan keterampilan yang komprehensif, serta kemampuan manajemen waktu. Umpan balik dari mahasiswa adalah adanya pembelajaran longitudinal tentang etika kedokteran dan kesehatan serta hukum medis, paparan klinis nyata di awal, dan pembelajaran simulasi pasien yang berkelanjutan.
Kesimpulan: Pembelajaran etika kedokteran dan kesehatan dengan pasien simulasi yang dilengkapi dengan sesi refleksi dapat memberikan mahasiswa pengalaman nyata dan pemahaman komprehensif tentang prinsip otonomi. Pendidik harus mempertimbangkan beberapa komponen dari tantangan dan umpan balik mahasiswa untuk memfasilitasi dan mengoptimalkan pengalaman belajar etika mahasiswa.
Background: To become a professional doctor, medical students must internalize the ethical aspect. Understanding ethics is not an easy thing. Some clinical clerkship students find it difficult to apply theory to practice. The use of simulated patients in undergraduate ethics education received a positive response, accompanied by several challenges. Therefore, it is necessary to know more about the student learning experience to be considered in optimizing ethical learning methods with simulated patients.
Methods: This study employed a qualitative method, analyzing the written reflections of 46 second-year medical students from Universitas Negeri Surabaya, followed by semi-structured interviews until data saturation was achieved.
Results: Students admitted that they got real experience of being a real doctor and the feeling of belonging to patients, getting exposure to various patient characters, having the opportunity to explain about diseases, and the patient agreeing to their recommendations. Students also gain an understanding that the principle of autonomy is not absolute and that there is a role for doctors in helping to make decisions, which can be applied to human relationships in general, doing self-reflection and gaining constructive feedback, and realizing their incompetence and encouraging them to practice independent learning. Students face challenges in the form of their context, which is still in their second year, and do not have enough comprehensive knowledge and skills, as well as time management skills. Feedback from students is that there is longitudinal learning about medical ethics and health, as well as medical law, real clinical exposure at the beginning, and continuous patient simulation learning.
Conclusion: Learning medical and health ethics with simulated patients complemented by reflection sessions can provide students with real experience and a comprehensive understanding of the principle of autonomy. Educators should consider several components of student challenges and feedback to facilitate and optimize the ethical learning experience.
Kata Kunci : pengalaman belajar, etika kedokteran dan kesehatan, prinsip otonomi, pasien simulasi, learning experience, medical and health ethics, principle of autonomy, simulated patient