STRATEGI “DESIGNED CROWDSOURCING” DALAM MENDUKUNG KETANGGUHAN BENCANA BANJIR DI DAERAH KHUSUS JAKARTA
Mahardhika Ega Nugrahaeni, Dr.Eng. Muhammad Sani Roychansyah., S.T., M.Eng
2025 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah
Jakarta menghadapi tingginya paparan terhadap bencana
banjir yang terjadi setiap tahun. Perkembangan inovasi teknologi berkontribusi
terhadap respon yang lebih baik dalam menghadapi bencana. Salah satu cara untuk
mencapai sistem yang lebih efisien adalah dengan memanfaatkan crowdsourcing.
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa adopsi pemanfaatan crowdsourcing
dalam masa tanggap darurat masih dilakukan oleh organisasi non-pemerintah dan masyarakat.
Lembaga pemerintah lambat dalam mengadopsi teknologi crowdsourcing.
Kurangnya pengawasan serta kontrol profesional akan menimbulkan keraguan
terhadap kualitas data crowdsourcing.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kredibilitas data
crowdsourcing pada peristiwa banjir Jakarta tahun 2020, mengidentifikasi
faktor penghambat maupun pendukung pemanfaatan data crowdsourcing serta
menjelaskan inovasi teknologi yang telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Daerah
Khusus Jakarta dalam penanganan banjir dengan memanfaatkan data dari
partisipasi masyarakat. Metode yang digunakan adalah mixed methode model
sequential explanatory dengan analisis regresi logistik biner dan
kualitatif deskriptif.
Analisis pemodelan
pada data test bulan Januari 2020 menghasilkan bahwa dari keempat variabel
prediktor yang diusulkan yang paling berpengaruh adalah variabel jarak sungai.
Pengujian ketepatan pemodelan pada bulan Januari sebesar 64?ngan prediksi 99
titik true positif dan 91 titik true negatif. Hasil pengujian terhadap data bulan Februari
2020 berdasarkan data test memberikan prediksi kredibilitas dengan
akurasi 77,2?ngan prediksi 173 titik true positif dan 864 titik true
negatif. Penelitian ini menghasilkan tingkat kredibilitas relatif sedang <
80>crowdsourcing adalah
kebijakan pimpinan, validitas data dan kesenjangan digital. Berdasarkan
karakteristik perkotaan, tersedianya sumber daya internal pemerintah serta
posisi Daerah Khusus Jakarta sebagai ibukota negara, kebijakan “designed
crowdsourcing” merupakan kebijakan yang paling tepat dalam penanganan
banjir di Jakarta. Dukungan pengembangan teknologi dan inovasi mandiri menjamin
keberlangsungan sistem yang tidak bergantung pada pihak ketiga. Regulasi
peraturan yang menguatkan komunikasi komando antar dinas dan lintas instansi.
Petugas yang terlatih sesuai dengan SOP yang ditetapkan, sehingga mempercepat
proses penanganan dalam masa tanggap darurat.
Jakarta faces high exposure to annual flood disasters.
The development of technological innovations has contributed to improved
disaster response. One way to achieve a more efficient system is by utilizing
crowdsourcing. Previous studies have shown that the adoption of crowdsourcing
during emergency response periods has mostly been carried out by
non-governmental organizations and citizens. Government agencies have been slow
to adopt crowdsourcing technology. The lack of supervision and professional control
raises concerns about the quality of crowdsourced data.
The objective of this study is to assess the credibility
of crowdsourced data during the Jakarta flood event in 2020, identify the
supporting and inhibiting factors in its utilization, and explain the
technological innovations implemented by the Jakarta Provincial Government in
handling floods through public participation data. The method used is a
sequential explanatory mixed-methods model, incorporating binary logistic
regression analysis and descriptive qualitative analysis.
Model analysis on test data from January 2020 revealed that of the four proposed predictor variables, the distance to the river was the most influential. The model’s accuracy for January data was 64%, with 99 true positive points and 91 true negative points predicted. Testing on February 2020 data yielded a credibility prediction accuracy of 77.2%, with 173 true positives and 864 true negatives. The study found a moderate level of credibility, classified as below 80%. Barriers to the utilization of crowdsourced data include leadership policies, data validity, and the digital divide. Considering urban characteristics, the availability of internal government resources, and Jakarta’s status as the national capital, a “designed crowdsourcing” policy is deemed the most appropriate approach for flood management in Jakarta. Independent technological development and innovation ensure a sustainable system that does not rely on third parties. Strengthened regulatory frameworks enhance command communication across departments and agencies. Trained personnel, adhering to established SOPs, accelerate the response process during emergency periods.
Kata Kunci : banjir, crowdsourcing, Jakarta, kota tangguh, designed crowdsourcing