KESETARAAN GENDER DAN BUDAYA PENGASUHAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN PREVALENSI STUNTING (Studi Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur)
Risni Julaeni Yuhan, Drs. Pande Made Kutanegara, M.Si., Ph.D.; Dr. Sri Rahayu Budiani, S.Si., M.Si
2025 | Disertasi | S3 Kependudukan
Variasi prevalensi stunting di Indonesia tercermin di Bali, NTB dan NTT. Ketiga provinsi ini memiliki capaian berbeda pada indikator kesehatan dan aspek sosio-demografi, dengan budaya dan tradisi yang kuat. Studi ini menganalisis bagaimana kesetaraan gender, budaya pengasuhan dalam rumah tangga, dan faktor suku memengaruhi prevalensi stunting. Program intervensi belum sepenuhnya mempertimbangkan budaya pengasuhan dan kesetaraan gender, karena terkendala oleh kompleksitas budaya dan terbatasnya data mikro di level rumah tangga.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang dilengkapi dengan data kualitatif. Metode Small Area Estimation Hierarchical Bayes Beta (SAE HB-Beta) digunakan untuk mengestimasi indikator kesetaraan gender. Selanjutnya indeks komposit kesetaraan gender dan budaya pengasuhan dalam rumah tangga (IKGRT dan IBPRT) dibentuk menggunakan model Structural Equation Modeling Partial List Square (SEM PLS). Pengaruh IKGRT, IBPRT dan variabel Suku terhadap prevalensi stunting dianalisis menggunakan model regresi spasial. Data yang digunakan meliputi Survei Status Gizi Indonesia 2021, Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017, Potensi Desa 2018, Pendataan Keluarga 2021 dan SUSENAS 2021.
Hasil analisis kuantitatif dan kualitatif menghasilkan proporsi indikator kesetaraan gender yang valid dalam konteks rumah tangga. Indeks Kesejahteraan Gender Rumah Tangga (IKGRT) yang terdiri dari dimensi otonomi ibu (meliputi pengambilan keputusan ekonomi, mobilitas fisik, keputusan dalam rumah tangga, dan sikap terhadap tindakan KDRT) dan peran gender ayah (sikap suami terhadap KDRT). Indeks Budaya Pengasuhan Rumah Tangga (IBPRT) yang mencakup dimensi asupan nutrisi (keragaman makanan), layanan kesehatan (Posyandu dan Bina Keluarga Balita), dan kearifan lokal (KL) dalam pengasuhan (pengasuhan anak bersama, KL_kehamilan, KL_kelahiran, KL_lingkungan hidup dan KL_komunitas). Kedua indeks ini mencerminkan perilaku relasi kuasa dalam rumah tangga dan pengasuhan. Analisis spasial yang didukung hasil wawancara mendalam menunjukkan bahwa variabel IKGRT, IBPRT dan suku mayoritas berpengaruh signifikan terhadap prevalensi stunting.
Variations in stunting prevalence in Indonesia as reflected in Bali, West Nusa Tenggara and East Nusa Tenggara. These three provinces have differing performance on health indicators and socio-demographic aspects, with strong cultures and traditions. The research examines how gender equality, household parenting culture, and ethnicity contribute to stunting prevalence. Current intervention programs have yet to fully account for parenting culture and gender equality, constrained by cultural complexity and the limited availability of micro-level household data.
This research employs a quantitative approach supplemented by qualitative data. The Small Area Estimation Hierarchical Bayes Beta (SAE HB-Beta) method is used to estimate the proportion of gender equality indicators Subsequently, a composite indices of gender equality and parenting culture in the household (GEHI and PCHI) are constructed using the Structural Equation Modelling Partial List Square (SEM PLS). The influence of GEHI, PCHI and ethnicity on stunting prevalence is analysed using a spatial regression model. The data sources include the 2021 Indonesian Nutritional Status Survey, the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey, the 2018 Village Potential Survey, the 2021 Family Data Collection and SUSENAS 2021.
The results of the quantitative and qualitative analyses produced a set of valid indicators of gender equality in the household context. The GEHI comprises dimensions of maternal autonomy (economic decision-making, physical mobility, household decisions, and attitudes toward domestic violence) and paternal gender roles (husband’s attitude toward domestic violence). The CPHI encompasses dimensions of intake (dietary diversity), health services (Posyandu and Bina Keluarga Balita), and local wisdom (LW) in parenting (shared parenting, pregnancy-related traditions, birth-related practices, environmental traditions, and community-based values). These two indices reflect the dynamics of power relations within households and parenting practices. Spatial analysis, supported by in-depth interviews, reveals that GEHI, PCHI, and dominant ethnic group significantly influence stunting prevalence.
Kata Kunci : stunting, gender equality, culture of parenting, ethnicity, spatial analysis, SEM PLS, SAE HB-Beta