PERSEPSI GENERASI MUDA TERHADAP TRADISI UPACARA ADAT SAPARAN (STUDI KASUS DUSUN PONDOK WONOLELO, WIDODOMARTANI, NGEMPLAK, SLEMAN, YOGYAKARTA)
Adib Raihan Nur Farizi, Dr. Pande Made Kutanegara, M.Si.
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Upacara adat Saparan Ki Ageng Wonolelo merupakan tradisi tahunan
masyarakat Dusun Pondok Wonolelo yang memiliki fungsi untuk menghormati leluhur, pembentuk solidaritas sosial, dan pelestarian budaya lokal. Partisipasi generasi muda dalam pelaksanaan upacara ini menunjukkan dinamika tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi generasi muda terhadap tradisi Saparan, peran yang mereka jalankan, serta faktor yang berpengaruh dalam keterlibatan tersebut.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Teknik
pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi, dan studi pustaka. Informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah pemuda dan pemudi Dusun Pondok Wonolelo serta tokoh masyarakat yang terlibat aktif dalam upacara adat Saparan. Jumlah informan dalam penelitian ini adalah sembilan orang. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 2 Agustus 2024 - 17 Agustus 2024.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi muda memiliki persepsi
yang beragam dalam memaknai Saparan. Sebagian memaknai Saparan sebagai pengingat jasa leluhur dan sebagai identitas budaya, sementara sebagian lain menilainya sebagai hiburan semata. Partisipasi mereka tetap ada, namun mengalami penurunan akibat dari individualisme, tuntutan pendidikan serta pekerjaan, dan masifnya teknologi. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa faktor golongan keagamaan tidak berdampak pada pemaknaan terhadap Saparan.
Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan adaptif agar Saparan
tetap relevan bagi generasi muda dan berkelanjutan sebagai warisan budaya sehingga tetap bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.
The Saparan Ki Ageng Wonolelo traditional ceremony is an annual tradition of the Pondok Wonolelo hamlet community that serves to honor ancestors, build social solidarity, and preserve local culture. The participation of the younger generation in this ceremony demonstrates its own unique dynamics.. This study aims to analyze the perceptions of the younger generation toward the Saparan tradition, the roles they play, and the factors influencing their involvement.
The research was conducted using qualitative methods. Data collection
techniques included interviews, observation, and literature review. The informants selected for this study were young men and women from the Pondok Wonolelo hamlet and community leaders actively involved in the Saparan traditional ceremony. The total number of informants in this study was 9 people. The research was conducted from August 2, 2024 to August 17, 2024.
The results of the study indicate that the younger generation has diverse
perceptions of Saparan. Some perceive Saparan as a reminder of the ancestors' contributions and as a cultural identity, while others view it solely as entertainment. Their participation remains, but it has declined due to individualism, educational and work demands, and the widespread use of technology. The results of this study confirm that religious affiliation does not influence the interpretation of Saparan.
This study emphasizes the importance of an adaptive approach to ensure that Saparan remains relevant to the younger generation and sustainable as a cultural heritage so that it can continue to be enjoyed by next generations.
Kata Kunci : Persepsi, Generasi Muda, Saparan, Partisipasi