Menjaga Integritas Pemimpin : Studi Naratif Pemimpin Pada Lembaga Audit Pemerintah di Indonesia
Trinata Adi Hastoro, Pande Made Kutanegara, M.Si., Ph. D. ; Hakimul Ikhwan, S. Sos, M.A, Ph. D.
2025 | Tesis | S2 Mag.Studi Kebijakan
Penelitian ini mengkaji tentang dua orang pemimpin pada lembaga audit pemerintah di Indonesia yaitu Badan Pengawasan Keuangan Pembangunan (BPKP) dalam mempertahankan integritasnya, ditengah relativisme, rasionalisasi, dan normalisasi terhadap tindakan korupsi yang terjadi pada sistem birokrasi dan masyarakat Indonesia. Menggunakan konteks cerita yang dimulai dari era Orde Baru (1966-1998) sampai dengan saat ini (2025), penelitian ini bertujuan untukmenjelaskan dinamika yang terjadi pada dua orang pemimpin tersebut, dalam mempertahankan integritasnya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi naratif. Hasil penelitian menemukan terdapat beberapa faktor, baik internal maupun eksternal yang dapat mendukung seorang pemimpin lembaga audit pemerintah untuk mempertahankan intergitasnya. Dari sisi internal, posisi etika dengan idealisme tinggi, tahap penalaran moral pasca konvensional, kecerdasan finansial yang baik, ambisi rendah terhadap jabatan, dan tingkat religiusitas yang tinggi merupakan faktor yang berpengaruh terhadap integritas seorang pemimpin lembaga audit pemerintah. Sedangkan dari sisi eksternal, dukungan dan motivasi dari keluarga terdekat (istri dan anak) serta adanya contoh kepemimpinan etis dari pemimpin sebelumnya juga ikut mempengaruhi integritas pemimpin tersebut. Gabungan dari berbagai macam faktor tersebut kemudian membentuk dua skema atau jalur berbeda yang dapat digunakan oleh pemimpin pada lembaga audit pemerintah di Indonesia untuk mempertahankan integritasnya. Kedua skema tersebut merupakan pengembangan dari pendapat Becker (1998) yang meyakini bahwa seseorang yang berintegritas tidak boleh memandang benar salah secara relatif (relativisme), mampu menahan godaan dan tekanan sosial, serta selalu melakukan tindakan dengan rasional. Kedua skema tersebut mengandalkan posisi etika dengan idealisme tinggi untuk mencegah adanya relativisme dalam menilai benar atau salah sebuah tindakan. Beberapa faktor internal lain seperti religiusitas dan kecerdasan finansial yang baik, digunakan untuk mengatasi tekanan yang datang dari luar selama menjadi pemimpin. Salah satu skema kemudian menggunakan berbagai macam intervensi seperti mengurangi keterlibatan terhadap situasi untuk menurunkan intensitas tekanan dan godaan melakukan korupsi kedalam tingkat yang bisa diatasi oleh posisi etika dan penalaran moral yang dimilikinya. Meskipun tidak terlalu berpengaruh, faktor eskternal seperti dukungan dan motivasi dari keluarga inti (istri dan anak) yang mewakili norma subjektif dalam perspektif theory of planned behaviour (TPB), membuat tindakan berintegritas untuk tidak melakukan korupsi yang dilakukan oleh para pemimpin tersebut, menjadi sebuah tindakan yang rasional baik secara nilai dan tujuan jangka panjang, maupun rasional dari sisi pragmatis sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi
This study examines two leaders of a government audit institution in Indonesia, namely the Development Finance Supervisory Agency (BPKP), maintaining their integrity, amidst relativism, rationalization, and normalization of corruption that occurs in the bureaucratic system and Indonesian society. Using the context of the story starting from the Orde Baru era (1966-1998) to the present (2025), this study aims to explain the dynamics that occur in the two leaders, in maintaining their integrity. This study was conducted using a qualitative approach with a narrative study method. The results of the study found that there were several factors, both internal and external, that could support a leader of a government audit institution to maintain their integrity. From the internal side, an ethical position with high idealism, a post-conventional moral reasoning stage, good monetary intelligence, low ambition for office, and a high level of religiosity are factors that influence the integrity of a leader of a government audit institution. While from the external side, support and motivation from the closest family (wife and children) as well as examples of ethical leadership from previous leaders also influence the integrity of the leader. The combination of various factors then forms two different schemes or paths that can be used by leaders in government audit institutions in Indonesia to maintain their integrity. Both schemes are developments of Becker's (1998) opinion which believes that a person with integrity should not view right and wrong relatively (relativism), be able to resist temptation and social pressure, and always act rationally. Both schemes rely on an ethical position with high idealism to prevent relativism in judging the right or wrong of an action. Several other internal factors such as religiosity and good financial intelligence are used to overcome external pressures during leadership. One scheme then uses various interventions such as reducing involvement in the situation, to reduce the intensity of pressure and temptation to commit corruption to a level that can be overcome by the ethical position and moral reasoning that he has. Although not very influential, external factors such as support and motivation from the nuclear family (wife and children) which represent subjective norms in the perspective of the theory of planned behavior (TPB), make the actions of integrity not to commit corruption carried out by these leaders, a rational action both in terms of values and long-term goals, as well as rational from a pragmatic perspective according to the situation and conditions that occur.
Kata Kunci : idealisme tinggi, penalaran moral, religiusitas, kecerdasan finansial, dan tindakan rasional