Laporkan Masalah

Ghiyâr: Menabuh Terbhâng Dalam Masyarakat Madura Tapal Kuda

Panakajaya Hidayatullah, Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.Hum; Dr. Aris Setiawan, M.Sn

2025 | Disertasi | S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Disertasi ini menelusuri dinamika transformasi musik tradisional masyarakat Madura migran di kawasan Tapal Kuda dengan fokus pada dua bentuk kesenian utama: terbha?ng ghendhing dan kemplang. Penelitian ini berangkat dari persoalan historis pelarangan gamelan logam oleh otoritas keagamaan lokal, yang kemudian mendorong masyarakat untuk mengadaptasi repertoar gamelan ke dalam ansambel berbasis membranofon bernada. Dalam konteks ini, para kiyai kampung, kompolan, dan komunitas lokal memainkan peran sentral sebagai agen transformasi budaya.

Dengan pendekatan etnografi musikal yang berbasis partisipasi dan dokumentasi audio-performatif, disertasi ini mengeksplorasi praktik musikal, proses transmisi, adaptasi teknik, serta konseptualisasi lokal seperti pe?gha?’ (menangkap gending), nyangkok (mengadaptasi), nyagha?ra? (agensi kolektif), rongon (kepekaan musikal-sosial), dan ghiya?r (semangat batiniah bermusik). Temuan menunjukkan bahwa musik bukanlah sekadar bentuk hiburan atau ekspresi estetis, tetapi juga merupakan medan relasional yang melibatkan jaringan pelaku, instrumen, teknik, konteks sosial, dan nilai-nilai kultural.

Kontribusi utama dari penelitian ini mencakup empat hal. Pertama, memperluas pendekatan etnografi musikal berbasis bunyi yang dapat diterapkan pada bentuk tradisi lain. Kedua, disertasi ini meredefinisi sekaligus memperluas pemahaman tentang instrumen membranofon bernada sebagai medium ekspresi musikal yang selama ini terpinggirkan, dan membuka ruang baru bagi penciptaan musik berbasis tradisi. Ketiga, penelitian ini menawarkan pendekatan analisis musik berbasis bunyi (sound-based analysis) yang lebih lentur dibanding transkripsi konvensional, dengan mengutamakan kontur, gestur, timbre, dan struktur waktu sebagai alat baca utama. Keempat, disertasi ini mengajukan kerangka estetika berbasis tindakan dan etika musikal—di mana musikalitas tidak hanya ditentukan oleh bunyi, tetapi juga oleh cara bermain, sensibilitas tubuh, dan nilai-nilai kolektif yang menyertainya.

Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mendokumentasikan transformasi musik Madura berbasis Islam di Tapal Kuda, namun juga menawarkan kontribusi konseptual dan metodologis dalam kajian etnomusikologi, serta membuka kemungkinan bagi pengembangan kolaborasi kreatif antara musisi dan peneliti di masa depan.

This dissertation investigates the dynamics of musical transformation among Madurese migrant communities in the Tapal Kuda region, focusing on two principal traditional music forms: terbha?ng ghendhing and kemplang. The study departs from the historical issue of the prohibition of metallophone gamelan by local religious authorities, which subsequently led communities to adapt gamelan repertoires into tonal membranophone-based ensembles. In this context, village kiyaikompolan (community groups), and local networks played a central role as agents of cultural transformation.

Using a musical ethnographic approach grounded in participatory observation and audio-performative documentation, this research explores musical practices, transmission processes, technical adaptations, and localized conceptualizations such as pe?gha?’ (to grasp a gending), nyangkok (to adapt), nyagha?ra? (collective agency), rongon (musical-social sensitivity), and ghiya?r (inner musical devotion). The findings demonstrate that music is not merely a form of entertainment or aesthetic expression, but a relational field involving networks of actors, instruments, techniques, social contexts, and cultural values.

The main contributions of this study are fourfold. First, it expands the use of sound-based musical ethnography, offering a methodological model applicable to other traditional forms. Second, it redefines and elevates the role of tonal membranophones as rich mediums of musical expression, challenging their marginal status in dominant organological classifications and opening new creative pathways rooted in tradition. Third, it proposes a sound-based approach to musical analysis— prioritizing contour, gesture, timbre, and temporal structure over conventional notation. Fourth, it offers a framework of action-based musical aesthetics, where musicality is shaped not only by sound but also by embodied technique, performative sensibility, and collective values.

Thus, this research not only documents the Islamic-inflected musical transformations of Madurese traditions in Tapal Kuda but also provides conceptual and methodological contributions to ethnomusicological studies and opens possibilities for future collaborative creation between musicians and researchers.

Kata Kunci : terbhâng ghendhing, kemplang, Musik Madura, Tapal Kuda, adaptasi musikal, ghiyâr, estetika berbasis tindakan

  1. S3-2025-484941-abstract.pdf  
  2. S3-2025-484941-bibliography.pdf  
  3. S3-2025-484941-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2025-484941-title.pdf