KESEJAHTERAAN SUBJEKTIF BURUH PEREMPUAN DI PT PUNGKOOK INDONESIA ONE KABUPATEN GROBOGAN
Lailatul Maulida, Prof. Dr.-Phil. Janianton Damanik, M.Si.
2025 | Tesis | S2 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN
Penelitian ini membahas kesejahteraan subjektif buruh perempuan di PT Pungkook Indonesia One, Kabupaten Grobogan. Meskipun kesejahteraan subjektif sering dikaitkan dengan faktor ekonomi, penelitian ini menyoroti dimensi psikologis dan sosial yang turut memengaruhi kesejahteraan buruh perempuan, terutama dalam konteks industri manufaktur di daerah pedesaan. Studi ini berangkat dari pertanyaan penelitian mengenai bagaimana buruh perempuan mendefinisikan kesejahteraan subjektif mereka serta unsur-unsur yang membentuk maupun menghambatnya. Penelitian ini menggunakan teori kesejahteraan subjektif yang menekankan bahwa kesejahteraan tidak hanya diukur dari aspek material, tetapi juga dari kepuasan hidup dan pengalaman emosional individu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi dengan 14 informan yang terdiri dari buruh perempuan pabrik, staf perusahaan, serta perwakilan serikat buruh. Pemeriksaan keabsahan data penelitian dilakukan dengan triangulasi sumber dan teknik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa buruh perempuan mendefinisikan kesejahteraan subjektif mereka sebagai perasaan bahagia dan puas yang berkaitan dengan kenyamanan, ikatan sosial, kontribusi pada keluarga, pengakuan sosial, kepuasan kerja, keseimbangan kerja-hidup, serta tidak tertekan oleh atasan dan lingkungan kerja. Unsur pembentuk kesejahteraan buruh meliputi adanya pendapatan dan keamanan finansial, hubungan sosial yang baik dengan rekan kerja, atasan, keluarga, dan tetangga, adanya peluang pengembangan karier dan penghargaan kerja, tersedianya perlindungan kerja serta ketersediaan fasilitas kerja yang memadai. Meskipun pekerjaan memberikan stabilitas ekonomi, kondisi kerja di pabrik yang memiliki tekanan target produksi, jam kerja yang panjang, kekerasan verbal, serta perlakuan tidak adil dari atasan menjadi tantangan yang dapat menghambat kesejahteraan subjektif buruh perempuan pabrik. Tantangan dalam membagi waktu dan peran antara pekerjaan dan tanggung jawab keluarga juga menjadi memengaruhi pengalaman kesejahteraan mereka. Namun demikian, terdapat nilai-nilai kehidupan yang telah diinternalisasi oleh buruh perempuan sebagai mekanisme adaptif seperti nrimo ing pandum, tatag, syukur, cukup, dan cuek, berperan penting dalam menjaga stabilitas emosional dan ketahanan mental ketika menghadapi tantangan dan tekanan hidup, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Penelitian ini merekomendasikan adanya kebijakan perusahaan yang lebih berpihak pada kesejahteraan buruh perempuan, termasuk penguatan regulasi perlindungan kerja, peningkatan fasilitas pendukung, serta perbaikan dalam sistem manajemen dan hubungan kerja di pabrik.
Kata Kunci: kesejahteraan subjektif, buruh perempuan, industri manufaktur, definisi kesejahteraan, unsur pembentuk dan penghambat kesejahteraan.
This study explores the subjective well-being of female laborers at PT Pungkook Indonesia One, Grobogan Regency. While subjective well-being is often linked to economic factors, this research emphasizes the psychological and social dimensions that shape the well-being of women workers, particularly in the context of manufacturing industries in rural areas. The study seeks to answer how female laborers define their subjective well-being and what elements contribute to or hinder it. The study is grounded in subjective well-being theories, emphasizing that well-being is measured not solely by material aspects but also by life satisfaction and emotional experiences. A qualitative method with a case study approach was employed in this research. Data was collected through in-depth interviews, observation, and documented findings from fourteen informants, including female factory workers, company staff, and labor union representatives. To ensure the validity of the data, triangulation of sources and techniques was employed.
The findings reveal that female factory workers perceive their subjective well-being as feelings of happiness and satisfaction derived from comfort, social connections, contributions to their families, social recognition, job satisfaction, work-life balance, and the absence of pressure from superiors and the work environment. The key elements that contribute to workers' well-being are income and financial security, good social relationships with coworkers, supervisors, family, and neighbors, opportunities for career development and recognition, job security, and adequate work facilities. Although work provides economic stability, working conditions in factories characterized by production targets, long working hours, verbal abuse, and unfair treatment from supervisors pose challenges that can hinder the subjective well-being of female factory workers. Challenges in balancing time and roles between work and family responsibilities also influence their well-being experiences. However, there are values that female workers have internalized as adaptive mechanisms, such as nrimo ing pandum (acceptance), tatag (patience), syukur (gratitude), cukup (sufficiency), and cuek (indifference), which play an important role in maintaining emotional stability and mental resilience when facing challenges and pressures in life, both at work and in their personal lives. This study recommends company policies that prioritize the welfare of female workers, including strengthening labor protection regulations, improving workplace support facilities, and enhancing management systems and labor relations in factories.
Keywords: subjective well-being, female workers, manufacturing industry, definition of well-being, elements that shape and hinder well-being.
Kata Kunci : kesejahteraan subjektif, buruh perempuan, industri manufaktur, definisi kesejahteraan, unsur pembentuk dan penghambat kesejahteraan.