Mobilisasi Sumber Daya: Gerakan Sosial Mewujudkan Keamanan Bermukim Warga Bantaran Sungai (Studi Kasus: Komunitas, Paguyuban Kalijawi di Sungai Gajah Wong dan Winongo, Kota Yogyakarta)
Drafina Puspita, Dr. Indah Surya Wardhani, S.Sos., M.Sc.
2025 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN
Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi menyebabkan keterbatasan lahan hunian di kawasan perkotaan. Hal tersebut menjadi penyebab masyarakat kota khususnya masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) mencari alternatif dengan menempati permukiman di lingkungan tidak layak huni, tak terkecuali di kawasan bantaran sungai. Di Yogyakarta, permukiman di bantaran Sungai Gajah Wong dan Winongi menjadi sasaran bagi para pelaku urbanisasi maupun MBR untuk tempat tinggal mereka. Pada penelitian ini ditemukan permasalahan yang sering dijumpai pada permukiman bantaran sungai, yaitu ketidakamanan bermukim. Berangkat dari permasalahan tersebut dibentuklah Paguyuban Kalijawi pada tahun 2012. Mereka telah bersepakat isu tersebut merupakan masalah bersama yang harus dicari solusinya dengan bekerja secara kolektif untuk mencapai tujuan komunitas.
Penelitian ini menyoroti bagaimana Paguyuban Kalijawi mengelola sumber daya serta merawat gerakan untuk mendapatkan akses atas keamanan bermukim di kawasan bantaran sungai gadjah wong dan winongo. Peneliti menggunakan teori organisasi gerakan sosial diikuti dengan teori mobilisasi sumber daya untuk meliht sejauh mana mereka mengumpulkan sumber daya yang mereka miliki dan memanfaatkan sumber daya tersebut demi keberlangsungan gerakan serta mencapai tujuan kolektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mewawancara informan dan melakukan observasi partisipan sebagai data primer. Studi pustaka juga dilakukan sebagai data sekunder di dalam penelitian ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paguyuban Kalijawi menggunakan empat strategi utama dalam merawat gerakan dan mengelola sumber dayanya meliputi, 1) strategi organisasi-sosial, bentuk Paguyuban Kalijawi berupa organisasi yang mapan dan teratur serta berjejaring (2) strategi material sebagai kekuatan ekonomi Kalijawi dengan membentuk koperasi “Sesarengan Mangayu Bagya”, (3) strategi sumber daya manusia dan moral, penggerak dari gerakan (4) sumber daya budaya sebagai alat penyebarluasan isu gerakan. Berdasarkan hasil temuan tersebut, Paguyuban Kalijawi telah mencerminkan sebuah bentuk organisasi gerakan sosial dan mampu memobilisasi sumber daya mereka dalam usaha mencapai kemanan bermukim.
Population growth and urbanization have led to limited housing availability in urban areas. This condition has driven urban dwellers—particularly low-income communities—to seek alternatives by settling in uninhabitable environments, including riverbank areas. In Yogyakarta, the settlements along the Gajah Wong and Winongo rivers have become targets for urban migrants and low-income dwellers seeking housing. This research identifies several recurring issues in riverbank settlements, particularly the lack of residential security. In response to these challenges, Paguyuban Kalijawi was established in 2012. The community collectively recognized residential insecurity as a shared issue requiring collaborative efforts to find sustainable solutions.
This study highlights how Paguyuban Kalijawi manages its resources and sustains its movement to gain access to secure housing along the Gajah Wong and Winongo rivers. The researcher applies social movement organization theory and resource mobilization theory to explore how the group gathers and utilizes resources from its environment to sustain the movement and achieve collective goals. A qualitative approach was used, involving in-depth interviews with informants, participant observation, and documentation as primary data sources. Literature review also supports the analysis as secondary data.
The findings show that Paguyuban Kalijawi applies four main strategies to sustain their movement and manage resources: (1) an social-organizational strategy, reflected in Paguyuban Kalijawi as a well-structured and networked community organization (2) material strategy, representing Kalijawi’s economic strength through the establishment of the cooperative Sesarengan Mangayu Bagya, (3) a human and moral resource strategy, with community organizers serving as the driving force behind the movement and (4) cultural resources as a medium for disseminating the movement’s issues. Based on these findings, Paguyuban Kalijawi represents a form of social movement organization capable of effectively mobilizing its resources in pursuit of secure housing.
Kata Kunci : Gerakan Sosial, Paguyuban Kalijawi, Mobilisasi Sumber Daya