Laporkan Masalah

Analisis Strategi Revitalisasi Kawasan Relokasi Mancingan sebagai Zona Penunjang Aktivitas Wisata di Pantai Parangtritis

Diva Aulia Prantika Rismawati, Dra. Ike Yuli Andjani, M.Si

2025 | Tugas Akhir | D4 Manajemen dan Penilaian Properti

Kawasan Relokasi Mancingan dibangun sebagai upaya penataan pedagang di kawasan tepi Pantai Parangtritis, tetapi pemanfaatannya hingga kini belum optimal. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi dan tantangan pemanfaatan kawasan, serta merumuskan strategi revitalisasi yang mampu meningkatkan daya guna ekonomi dan sosial. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan analisis SWOT yang diperkuat pembobotan prioritas strategi melalui metode Analytical Hierarchy Process (AHP), berdasarkan wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan seperti dinas terkait dan pengelola (BUMDes). Hasil analisis menunjukkan bahwa kawasan relokasi memiliki keunggulan pada lokasi strategis, keamanan dari gelombang pasang, dan tersedianya fasilitas dasar, tetapi terkendala status lahan yang masih bersifat pinjam-kelola, rendahnya daya tarik pengunjung, serta keterbatasan ukuran kios. Strategi pengembangan berada pada kuadran I SWOT (strategi agresif), dengan prioritas utama berdasarkan AHP adalah menjadikan kawasan sebagai lokasi event budaya, edukasi, dan kuliner (38,8%), diikuti integrasi kawasan ke dalam paket wisata Parangtritis (26,5%), serta mendorong kolaborasi lintas pihak untuk aktivasi dan pengelolaan (15,5%). Dengan penguatan promosi terpadu dan pengelolaan lintas sektor yang terkoordinasi, kawasan ini berpotensi menjadi pusat aktivitas ekonomi, budaya, dan wisata alternatif di luar tepi pantai.

The Mancingan Relocation Area was established as part of an effort to reorganize street vendors along the Parangtritis Beach waterfront, yet its utilization has remained suboptimal. This study aims to identify the potential and challenges of the area’s utilization and formulate revitalization strategies to enhance its economic and social value. A descriptive qualitative approach was employed, combining SWOT analysis with strategy prioritization using the Analytical Hierarchy Process (AHP), based on in-depth interviews with key stakeholders, including relevant government agencies and the local village-owned enterprise (BUMDes). The findings reveal that the relocation area offers advantages in terms of strategic location, safety from tidal waves, and basic facilities, but faces constraints related to its leasehold land status, low visitor appeal, and limited kiosk size. The SWOT analysis positions the development strategy in Quadrant I (aggressive strategy), with AHP results indicating the top priorities as developing the area into a venue for cultural, educational, and culinary events (38.8%), integrating it into Parangtritis tourism packages (26.5%), and fostering cross-sector collaboration for activation and management (15.5%). With integrated promotion and well-coordinated cross-sector management, the area has the potential to become an alternative center for economic, cultural, and tourism activities beyond the beachfront.

Kata Kunci : relokasi pedagang, revitalisasi kawasan, Parangtritis, SWOT, AHP

  1. D4-2025-480083-abstract.pdf  
  2. D4-2025-480083-bibliography.pdf  
  3. D4-2025-480083-tableofcontent.pdf  
  4. D4-2025-480083-title.pdf