Dari penggemar menjadi idola: representasi diri dan negosiasi identitas selebritas mikro fanboy k-pop di instagram
KUSNUL FITRIA, Dr. Budi Irawanto, MA. ; Dr. Wiwik Sushartami, MA.
2025 | Disertasi | S3 Kajian Budaya dan Media
Kehadiran laki-laki penggemar K-Pop atau yang kerap disebut fanboy K-Pop seringkali dihadapkan pada berbagai stigma dan stereotipe negatif, terutama terkait dengan gender. Istilah seperti "gay", "tidak normal", "banci", dan "alay" kerap digunakan untuk merendahkan identitas mereka sebagai fanboy K-Pop. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengamati representasi diri dan negosiasi maskulinitas yang dilakukan oleh fanboy K-Pop di Instagram. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi digital, penelitian ini melakukan observasi terhadap empat akun Instagram milik selebritas mikro fanboy K-Pop, yaitu @alphisugoi, @kevinmkf, @geraldytan, dan @agorivall. Selain observasi, data juga diperoleh melalui proses wawancara yang dilakukan secara hybrid (luring dan daring). Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi dari fanboy biasa menjadi selebritas mikro fanboy K-Pop yang dialami oleh @alphisugoi, @kevinmkf, @geraldytan, dan @agorivall merupakan hasil dari representasi diri sebagai fanboy K-Pop yang aktif dan kreatif di Instagram. Representasi ini diwujudkan melalui berbagai konten kreatif, seperti foto delulu—sebuah bentuk ekspresi khayalan untuk bertemu atau bahkan menjalin hubungan asmara dengan idol K-Pop. Selain itu, fanboy K-Pop juga aktif menampilkan identitasnya melalui gaya busana ala Korea serta pembuatan konten video, seperti cover dance, cover vocal, dan parodi MV K-Pop, yang menunjukkan penguasaan mereka terhadap budaya populer Korea. Konten-konten tersebut dilengkapi dengan penggunaan hashtag dan caption yang sengaja mempertegas identitas mereka sebagai fanboy K-Pop. Pada dasarnya, konten yang dibagikan tidak hanya berfungsi sebagai medium representasi diri, tetapi juga sebagai ajang pamer keterampilan sekaligus bukti penguasaan terhadap teknologi dan tren media sosial terkini. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa negosiasi maskulinitas yang dilakukan oleh @alphisugoi, @kevinmkf, @geraldytan, dan @agorivall sebagai fanboy K-Pop diwujudkan dalam berbagai tindakan, seperti: (1) membentuk tubuh ideal, (2) menunjukkan hubungan heteroseksual yang mereka jalani, dan (3) menampilkan ragam aktivitas "maskulin" seperti bermain video game dan menyukai sepak bola. Melalui tindakan-tindakan ini, mereka ingin menunjukkan bahwa K-Pop hanyalah salah satu aspek dari identitas mereka, sehingga tidak adil jika mereka dinilai semata-mata berdasarkan kesukaan mereka terhadap K-Pop. Lebih jauh, penelitian ini menemukan bahwa motivasi di balik representasi diri dan negosiasi maskulinitas yang dilakukan oleh keempat fanboy K-Pop tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain, mendapatkan keuntungan, terutama secara finansial,melawan stereotipe negatif tentang fanboy K-Pop, dan menunjukkan apresiasi terhadap K-Pop sebagai budaya yang mereka gemari.
The presence of male K-Pop fans, often referred to as K-Pop fanboys, frequently faces various negative stigmas and stereotypes, particularly concerning gender. Terms such as "gay," "abnormal," "effeminate," and "sissy" are often used to demean their identity as K-Pop fanboys. Therefore, this study aims to examine self-representation and masculinity negotiation among K-Pop fanboys on Instagram. Using a qualitative approach and digital ethnography, this research observes four Instagram accounts belonging to K-Pop micro-celebrity fanboys, namely @alphisugoi, @kevinmkf, @geraldytan, and @agorivall. In addition to observation, data were also collected through hybrid (offline and online) interviews. The findings reveal that the transformation from ordinary fanboys to K-Pop micro-celebrities experienced by @alphisugoi, @kevinmkf, @geraldytan, and @agorivall results from their self-representation as active and creative K-Pop fanboys on Instagram. This representation is manifested through various creative content, such as delulu photos—a form of imaginative expression depicting fantasies of meeting or even romantically engaging with K-Pop idols. Furthermore, K-Pop fanboys actively display their identity through Korean-style fashion and video content creation, including dance covers, vocal covers, and K-Pop MV parodies, demonstrating their mastery of Korean popular culture. These contents are complemented by the intentional use of hashtags and captions that emphasize their identity as K-Pop fanboys. Essentially, the shared content serves not only as a medium of self-representation but also as a showcase of their skills and proof of their proficiency in technology and current social media trends. This study also reveals that the masculinity negotiation performed by @alphisugoi, @kevinmkf, @geraldytan, and @agorivall as K-Pop fanboys is reflected in various actions, such as: (1) shaping an ideal body, (2) displaying their heterosexual relationships, and (3) engaging in "masculine" activities like playing video games and enjoying soccer. Through these actions, they aim to demonstrate that K-Pop is just one aspect of their identity, making it unfair to judge them solely based on their fondness for K-Pop. Furthermore, this research finds that the motivation behind their self-representation and masculinity negotiation is influenced by several factors, including gaining benefits—particularly financial ones—countering negative stereotypes about K-Pop fanboys, and expressing appreciation for K-Pop as a culture they enjoy.
Kata Kunci : Fanboy K-Pop, Representasi diri, Negosiasi maskulinitas, Instagram/K-Pop fanboy, self-representation, masculinity negotiation, Instagram