Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen Generasi Milenial Sebagai Intrapreneur : Studi Pada Badan Usaha Milik Negara dan Perusahaan Swasta Di Indonesia
Jimmy Soegiarto, Prof. Dr. Agus Heruanto Hadna, SIP., M. Si. ; - Prof. Dr. Muhadjir Darwin MPA., Ph.D ; - Eddy Jurnarsin, Ph. D., CFP
2025 | Disertasi | S3 STUDI KEBIJAKAN
Generasi milenial
saat ini mendominasi populasi usia produktif di Indonesia dan dunia, serta
memiliki karakteristik yang berbeda dari generasi sebelumnya, terutama dalam
hal nilai, sikap, dan harapan kerja. Mereka dikenal sebagai generasi
intrapreneur yang inovatif, terdidik, dan terbiasa dengan teknologi digital.
Namun, fenomena job hopping dan tingkat turnover yang tinggi di
kalangan milenial menunjukkan rendahnya komitmen terhadap perusahaan, meskipun
mereka memiliki potensi besar dalam mendorong kinerja dan inovasi organisasi.
Literatur yang ada, sebagian besar masih berfokus pada faktor mikro seperti
preferensi personal dan gaya kepemimpinan, namun belum banyak menyoroti
kesesuaian antara karakteristik organisasi dan ekspektasi milenial, khususnya
dalam konteks industri dengan keterbatasan struktural.
Penelitian ini
mengidentifikasi tiga gap utama dalam literatur: (1) terbatasnya studi
mengenai komitmen generasi milenial, (2) belum jelasnya hubungan antara
kepuasan kerja dan komitmen dalam konteks generasi ini, serta (3) perlunya
kajian tentang kesesuaian antara harapan milenial dan realitas kerja yang
mereka hadapi. Dengan mempertimbangkan lima dimensi Entrepreneurial
Orientation (EO) sebagai karakteristik organisasi yang atraktif bagi
milenial, studi ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kesenjangan antara
ekspektasi dan kondisi aktual memengaruhi kepuasan dan komitmen mereka terhadap
perusahaan.
Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif-empiris yang dikombinasikan dengan wawancara
mendalam (in-depth interview) untuk menggali faktor-faktor riwayat kerja
yang sulit diukur secara kuantitatif. Sampel penelitian terdiri atas 385 alumni
Universitas Gadjah Mada (UGM) dari generasi milenial (kelahiran 1981–1995) yang
telah bekerja minimal lima tahun penuh waktu di sektor BUMN, swasta, atau
startup (di luar sektor akademik, pemerintahan, dan militer). Data dikumpulkan
melalui survei daring menggunakan skala Likert dan dianalisis menggunakan Structural
Equation Modeling (SEM).
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa empat dari lima karakteristik perusahaan yang mempromosikan
EO secara signifikan memengaruhi keputusan milenial dalam memilih tempat kerja,
yaitu: (1) dukungan terhadap pengembangan kompetensi profesional, (2)
kepemimpinan yang memberikan tanggung jawab dan otonomi, (3) sistem penghargaan
berbasis kinerja, serta (4) lingkungan kerja yang kondusif. Keempat
karakteristik ini tidak hanya memengaruhi keputusan awal milenial untuk
bergabung dengan perusahaan, tetapi juga berdampak pada tingkat kepuasan kerja
dan loyalitas mereka.
Kepuasan kerja
ditemukan memediasi secara parsial hubungan antara harapan dan loyalitas,
menunjukkan bahwa semakin terpenuhinya harapan terhadap karakteristik
perusahaan, semakin tinggi pula tingkat kepuasan dan komitmen milenial terhadap
perusahaan. Lebih jauh, temuan ini menguatkan kerangka Three Components of
Organizational Commitment (Meyer & Allen, 1991). Pertama, affective
commitment terbentuk ketika pekerja milenial merasakan kenyamanan emosional
melalui pengalaman kerja yang sesuai dengan harapan, seperti lingkungan yang
suportif dan gaya kepemimpinan yang memberdayakan. Kedua, continuance
commitment muncul ketika pekerja mempertimbangkan manfaat jangka panjang
yang diperoleh, seperti pelatihan, sistem penghargaan, dan stabilitas kerja,
sehingga menimbang risiko finansial dan profesional apabila harus keluar dari
organisasi. Ketiga, normative commitment berkembang melalui nilai-nilai
budaya organisasi yang mendukung tanggung jawab moral untuk tetap loyal,
seperti adanya pengakuan, kolaborasi, dan dukungan atasan terhadap kontribusi
individu maupun tim.
Hasil wawancara
dengan responden memperkuat temuan kuantitatif, di mana kenyamanan kerja, yang
berasal dari dukungan finansial, kepemimpinan suportif, dan hubungan kerja yang
harmonis, menjadi alasan utama bertahannya mereka dalam perusahaan lebih dari
lima tahun.
Secara keseluruhan,
penelitian ini merekomendasikan agar perusahaan menerapkan prinsip EO sebagai
strategi untuk menarik dan mempertahankan talenta milenial. Langkah-langkah
yang disarankan antara lain menyusun kebijakan yang fleksibel dan inovatif,
mendorong otonomi kerja, membangun sistem penghargaan berbasis kinerja, serta
menciptakan lingkungan kerja kolaboratif. Penerapan EO bukan hanya berdampak
positif terhadap motivasi dan kepuasan kerja, tetapi juga berkontribusi
terhadap pembentukan loyalitas jangka panjang dan peningkatan kinerja organisasi
secara keseluruhan.
Millennials
currently dominate the productive-age population, both in Indonesia and
globally, and they exhibit distinct characteristics from previous generations,
particularly with respect to work-related values, attitude, and expectations.
They are widely recognized as an intrapreneurial generation, characterized by
innovation, high education, and digital savvy. However, the growing phenomenon
of job hopping and high turnover rates among millennials suggest a low level of
organizational commitment, despite their significant potentials to contribute
to organizational innovation and performance. Existing literature has primarily
focused on micro-level factors such as personal preferences and leadership
styles, while paying limited attention to how organizational characteristics
align with millennials' expectations, particularly in structurally constrained
industries. This study
identifies three major gaps in the literature: (1) limited research on
millennial commitment, (2) an unclear relationship between job satisfaction and
commitment among this generation, and (3) the need for examining the alignment
between millennial expectation and workplace reality. By incorporating five
dimensions of Entrepreneurial Orientation (EO) as organizational
characteristics deemed attractive to millennials, this study aims to examine
how the expectation-reality gap influences millennials’ job satisfaction and
organizational commitment. A quantitative
approach is employed, supplemented with in-depth interviews to explore career
history variables difficult to quantify. My sample consists of 385 millennial
alumni of Universitas Gadjah Mada (UGM), born between 1981 and 1995, who have
been employed full time for at least five years in the private sector,
state-owned enterprises, or startups, excluding those in academia, government,
and military. Data were collected through an online survey using a five-point
Likert scale, and analyzed using Structural Equation Modeling (SEM). This study’s findings
indicate that four of the five EO dimensions significantly affect millennials’
job choice decisions: (1) support for professional development, (2) leadership
that grants responsibility and autonomy, (3) performance-based reward systems,
and (4) a supportive and collaborative work environment. These factors not only
influence millennials’ initial decision to join an organization, but also shape
their job satisfaction and organizational loyalty. Job satisfaction is
found to partially mediate the relationship between expectation and loyalty,
suggesting that the more millennials' expectations are fulfilled, the higher
their job satisfaction and commitment levels. These results reinforce the Three
Components of Organizational Commitment model (Meyer & Allen, 1991). First,
affective commitment is formed when millennials experience an emotional
attachment due to the alignment between their expectations and actual work
environments, such as supportive leadership and autonomy. Second, continuing commitment
arises from perceived long-term benefits, such as training, fair reward
systems, and job security, which make leaving the organization a costly option.
Third, normative commitment develops within an organizational culture that
fosters a moral sense of obligation to remain loyal, supported by recognition,
collaboration, and trust in leadership. Qualitative
findings from interviews further corroborate the quantitative results,
revealing that workplace comfort—driven by financial support, supportive
leadership, and harmonious coworker relationships—is a key reason why
respondents remain in the same companies for over five years. Overall, this research
recommends that companies implement EO-based principles to attract and retain
millennial talents. Practical recommendations include adopting flexible and innovation-driven
policies, empowering employees through autonomy, developing performance-based
reward systems, and cultivating a collaborative work culture. Such EO
implementation not only enhances employee satisfaction and motivation, but also
strengthens long-term organizational commitment and improves overall firm
performance.
Kata Kunci : Entrepreneurial Orientation, Millennials, Job Satisfaction, Organizational Commitment, PLS-SEM.